Pergantian kepemimpinan dalam organisasi bukan sekadar pergantian pengurus, melainkan momentum untuk meneruskan nilai dan memperkuat arah gerakan. Karena itu, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) perlu menjadikan keikhlasan, keilmuan, dan kecakapan bersiasat sebagai landasan dalam berorganisasi.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Koordinator Komisariat (Korkom) IMM Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya periode 2025–2026, Nirzam Fahru Irgy Al-Hafidz, dalam sambutan pada Pelantikan dan Talkshow Korkom serta Komisariat IMM UINSA periode 2026–2027, Ahad (1/11/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur itu mengusung tema “Islah IMM UINSA: Mulat Sarira Hangrasa Wani”.
Dinamika Kepemimpinan dan Regenerasi Organisasi
Dalam sambutannya, Nirzam mengakui perjalanan kepemimpinannya diwarnai berbagai dinamika. Sejak persiapan pelantikan, jajaran Korkom periode 2025–2026 telah menghadapi sejumlah kendala, termasuk perubahan jadwal dan pembatalan tempat kegiatan.
Meski demikian, berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam menjalankan amanah organisasi. Dia menyadari bahwa kepemimpinan yang telah dijalankan masih memiliki banyak kekurangan dan membutuhkan perbaikan.
“Kami sangat menyadari bahwa apa yang sudah kami lakukan ini masih dalam bentuk proses,” ungkapnya.
Atas berakhirnya masa kepemimpinan tersebut, Nirzam menyampaikan permohonan maaf sekaligus terima kasih kepada keluarga besar IMM, Pimpinan Cabang, dan seluruh Pimpinan Komisariat yang telah memberikan kontribusi selama periode kepengurusannya.
Dia juga mengingatkan bahwa tantangan IMM UINSA ke depan semakin besar. Saat ini, organisasi tersebut memiliki sembilan komisariat di lingkungan UINSA. Jumlah itu menjadi modal sekaligus tanggung jawab untuk menghadirkan gerakan yang lebih maju, baik dalam penguatan internal maupun kontribusi kepada masyarakat.
Trilogi Tjokroaminoto sebagai Landasan Gerakan
Selain mengevaluasi perjalanan kepemimpinan, Nirzam mengingatkan kader IMM untuk berpegang pada trilogi pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto, yakni semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan sepintar-pintar siasat.
Menurutnya, prinsip semurni-murni tauhid harus tercermin melalui keikhlasan dalam menjalankan aktivitas organisasi. Perjuangan di IMM, termasuk dalam menggerakkan dakwah Muhammadiyah, perlu diniatkan sebagai bentuk ibadah.
“Jangan sampai kita berorganisasi dan melakukan perjuangan-perjuangan Muhammadiyah melalui IMM, tetapi melakukannya bukan karena ikhlas,” tuturnya.
Dia mengaitkan nilai tersebut dengan pandangan bahwa Muhammadiyah merupakan iman dalam tindakan. Artinya, keimanan tidak berhenti pada keyakinan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan dan perjuangan organisasi.
“Apa yang kemudian kita lakukan, itu adalah bagaimana kemudian menjadi representasi iman dalam tindakan kita,” jelasnya.
Sementara itu, prinsip setinggi-tinggi ilmu mengingatkan mahasiswa agar setiap gerakan memiliki dasar pengetahuan dan kajian. Nirzam menekankan pentingnya ilmu amaliah dan amal ilmiah sebagai bagian dari enam penegasan IMM.
Menurutnya, setiap langkah organisasi harus didahului proses membaca, mengkaji, dan mencari landasan keilmuan yang jelas. Dengan demikian, gerakan kader tidak hanya didasarkan pada keinginan untuk bertindak, tetapi juga memiliki pertanggungjawaban intelektual.
“Apa yang kita lakukan itu harus benar-benar ada referensinya, ada rujukannya. Bukan ujug-ujug langsung jadi,” tegasnya.
Adapun prinsip sepintar-pintar siasat, lanjut Nirzam, tidak dimaknai sebagai politik praktis. Prinsip tersebut berkaitan dengan kemampuan kader membangun posisi tawar organisasi melalui gagasan dan pemikiran yang memberikan pengaruh luas.
Dia berharap IMM tidak hanya dikenal melalui nama besar organisasinya, tetapi juga melalui kontribusi pemikiran yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
“IMM ini dengan pikiran-pikirannya itu mampu berdampak luas kepada masyarakat,” ujarnya.
Nirzam berharap kader IMM UINSA dapat meneruskan estafet perjuangan dengan menjaga keikhlasan, mengembangkan keilmuan, serta membangun kecakapan dalam membaca dan menjawab persoalan sosial. (*)
Editor: Mazley Insafi
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.