PC IMM Surabaya
LIPUTAN 01 NOV 2026

Ketum IMM Surabaya Ajak Kader Runtuhkan Stigma Negatif Kesehatan Mental

Ketua Umum PC IMM Surabaya, Muhammad Alwi Shihab mengajak kader membangun ruang aman dan meruntuhkan stigma kesehatan mental.

Ketum IMM Surabaya Ajak Kader Runtuhkan Stigma Negatif Kesehatan Mental

Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Surabaya, Muhammad Alwi Shihab, mengajak kader membangun ruang aman bagi setiap orang untuk membicarakan persoalan kesehatan mental tanpa takut dihakimi. Menurutnya, stigma negatif masih menjadi salah satu penghalang seseorang untuk terbuka dan mendapatkan bantuan.

Pesan tersebut disampaikan Alwi dalam sambutannya pada Workshop World Mental Health Day yang diselenggarakan PC IMM Kota Surabaya bersama Yayasan Seribu Senyum di Parahita Diagnostic Center, Sabtu (31/10/2026).

Ia menilai, kegiatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap kondisi psikologis orang-orang di sekitar.

“Melalui kegiatan ini kita diingatkan kembali akan pentingnya ruang yang aman untuk saling mendengarkan tanpa menghakimi. Stigma negatif seputar kesehatan mental sering kali membuat seseorang merasa terisolasi dalam perjuangannya,” ujarnya.

Alwi mengajak peserta untuk memulai kepedulian tersebut melalui tindakan sederhana, yakni menjadi pendengar yang baik bagi orang lain. Ia juga mengingatkan agar setiap orang tidak ragu mencari bantuan profesional ketika menghadapi persoalan kesehatan mental.

“Mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk keberanian,” tegasnya.

Kesehatan Mental Bukan Sekadar Bebas dari Gangguan

Senada dengan pesan tersebut, psikolog Valina Khiarin Nisa, S.Psi., M.Sc., dalam pemaparan materinya menjelaskan bahwa kesehatan mental tidak semata-mata diukur dari ada atau tidaknya gangguan psikologis.

Menurutnya, setiap orang dapat mengalami stres dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan seseorang mengalami gangguan mental.

“Jangan sampai ketika ada stres dalam hidup, kita langsung mengatakan bahwa kita mengalami gangguan jiwa. Belum tentu demikian,” jelasnya.

Valina menerangkan, kesehatan mental juga memiliki dimensi positif berupa well-being, yakni kemampuan seseorang memahami pengalaman dirinya dan menjalani kehidupan secara bermakna.

Ia mengingatkan bahwa seseorang yang masih mampu bekerja, belajar, dan menjalankan aktivitas sehari-hari belum tentu berada dalam kondisi mental yang baik. Karena itu, penting untuk memperhatikan kebutuhan diri, mulai dari istirahat, kondisi fisik, hingga hubungan sosial.

Ia juga menekankan bahwa kesehatan mental dipengaruhi berbagai aspek, meliputi biologis, psikologis, sosial, serta spiritual. Oleh karena itu, persoalan kesehatan mental tidak boleh disederhanakan dengan menganggap seseorang kurang bersyukur atau kurang beriman.

Melalui kegiatan tersebut, Alwi berharap peserta tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga mampu menerapkan empati dalam kehidupan sehari-hari.

“Akhir kata, saya berharap acara hari ini dapat membuka wawasan kita, mempererat empati, dan membawa dampak nyata bagi lingkungan yang lebih sehat secara mental,” pungkasnya. (*)

Editor: M. Tanwirul Huda

TOPIK ARTIKEL
REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.