Seseorang yang masih mampu bekerja, belajar, dan menjalankan aktivitas sehari-hari belum tentu berada dalam kondisi kesehatan mental yang baik. Sebab, kemampuan menjalankan fungsi kehidupan tidak selalu mencerminkan kesejahteraan psikologis seseorang.
Hal tersebut disampaikan psikolog Valina Khiarin Nisa, S.Psi., M.Sc., dalam Workshop World Mental Health Day yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Surabaya berkolaborasi dengan Yayasan Seribu Senyum di Parahita Diagnostic Center, Sabtu (31/10/2026).
Dalam pemaparannya, Valina menjelaskan bahwa stres merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Namun, seseorang tidak perlu langsung menganggap dirinya mengalami gangguan mental ketika menghadapi tekanan.
“Jangan sampai ketika ada stres dalam hidup, kita langsung mengatakan bahwa kita mengalami gangguan jiwa. Belum tentu demikian,” jelasnya.
Menurutnya, stres memiliki tingkatan yang berbeda. Tekanan ringan dapat muncul ketika seseorang menghadapi tenggat waktu pengerjaan tugas. Sementara itu, tekanan yang lebih berat bisa berkaitan dengan persoalan pribadi, keluarga, pasangan, hingga hubungan dengan dosen atau pemimpin.
Karena itu, penting bagi setiap orang untuk mengenali dan mengelola tekanan agar tetap mampu menjalankan kehidupan sehari-hari secara produktif.
Valina menjelaskan, kesehatan mental tidak cukup dimaknai sebagai the absence of disorder atau ketiadaan gangguan. Ada dimensi positif yang juga perlu diperhatikan, yakni well-being, yaitu kemampuan seseorang memahami pengalaman dirinya dan menjalani kehidupan secara bermakna.
Ia mengingatkan bahwa seseorang yang terlihat baik-baik saja secara aktivitas belum tentu benar-benar merasa baik.

Misalnya, mahasiswa yang tetap mengumpulkan tugas, tetapi terus-menerus dihantui ketakutan akan kegagalan, nilai buruk, atau hubungan dengan dosen pembimbing. Begitu pula pekerja yang terus mengejar target hingga mengabaikan kebutuhan dasar, seperti makan dan istirahat.
Valina bahkan membagikan pengalamannya ketika harus mendapatkan penanganan di instalasi gawat darurat (IGD) pada 21 Oktober 2026 akibat kondisi tubuh yang menurun setelah mengabaikan kelelahan karena pekerjaan.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa produktivitas perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kondisi diri.
“Jadi, mudah-mudahan kita bisa menjaga pola pikir, menjaga perasaan, dan menjaga tubuh juga,” tuturnya.
Ia juga menyoroti para pegiat komunitas yang sering kali terlalu sibuk membantu masyarakat hingga melupakan kebutuhan pribadi. Menurutnya, kebiasaan menjadi sosok yang kuat dan selalu hadir bagi orang lain tidak seharusnya membuat seseorang sungkan mencari pertolongan.
“Jangan karena kita biasa tampil sebagai orang yang kuat di komunitas, kita jadi sungkan untuk mencari atau meminta bantuan,” pesannya.
Melalui pemaparan tersebut, Valina mengajak peserta untuk lebih peka terhadap kondisi diri sendiri. Menjaga kesehatan mental, menurutnya, juga berarti memberikan ruang bagi diri untuk beristirahat, mengenali batas kemampuan, dan tidak ragu meminta bantuan ketika diperlukan. (*)
Editor: M. Tanwirul Huda
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.