PC IMM Surabaya
LIPUTAN 01 NOV 2026

Dian Prahara Soroti Gerakan IMM yang Mulai Jauh dari Cita-Cita Pendiri

Ketua Koordinator Komisariat IMM UINSA (2026-2027) menekankan pentingnya islah melalui introspeksi, kritik terhadap diri sendiri, dan keberanian memperbaiki gerakan IMM.

Dian Prahara Soroti Gerakan IMM yang Mulai Jauh dari Cita-Cita Pendiri

Gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada aktivitas organisasi yang terlihat ramai atau sekadar mengejar pengakuan. Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) perlu berani mengevaluasi diri agar perjuangannya tetap sejalan dengan cita-cita organisasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Koordinator Komisariat (Korkom) IMM Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya periode 2026–2027, Dian Prahara Batubara, dalam sambutan pada pelantikan pengurus Korkom dan Komisariat IMM UINSA, Ahad (1/11/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur tersebut mengusung tema “Islah IMM UINSA: Mulat Sarira Hangrasa Wani”.

Islah IMM dan Kritik terhadap Gerakan Organisasi

Dian menjelaskan, tema islah berangkat dari kegelisahannya terhadap kondisi gerakan mahasiswa, khususnya IMM. Menurutnya, gerakan organisasi saat ini perlu kembali diarahkan pada cita-cita awal, yakni membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia.

Dia menilai, gerakan kader saat ini justru berisiko terjebak pada aktivitas yang hanya berorientasi pada penampilan dan pengakuan. Bahkan, kedekatan dengan pejabat dan kalangan korporasi terkadang lebih diutamakan daripada kebermanfaatan bagi masyarakat.

“Jangankan kemudian untuk membentuk seorang akademisi Islam, jangankan untuk membentuk seorang kader yang memiliki akhlak mulia, bahkan untuk mewujudkan cita-cita Muhammadiyah, kita tidak pernah melakukan gerakan-gerakan seperti itu lagi,” ungkapnya.

Dia juga mengkritik kecenderungan gerakan yang lebih mengutamakan penampilan dan pengakuan daripada kerja-kerja nyata untuk masyarakat.

“Yang kita lakukan hanyalah gerakan-gerakan keren-kerenan, gerakan-gerakan biar bisa dilihat dan lain sebagainya. Bahkan, hari ini kita lebih senang untuk bersanding dengan pejabat-pejabat korporasi daripada memberikan manfaat kepada masyarakat,” tuturnya.

Dian kemudian mengaitkan tema islah dengan Surah Al-A’raf ayat 56, khususnya pesan agar manusia tidak membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Dia mengingatkan bahwa IMM telah dibangun melalui perjuangan para pendahulu sehingga kader saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai yang diwariskan.

“Jangan sekali-kali ada seseorang di antara kita semua ini yang merusak apa yang telah dibangun dengan baik ini,” tegasnya.

Untuk mewujudkan perbaikan tersebut, Dian menekankan pentingnya mulat sarira, yakni keberanian melihat dan mengevaluasi diri sendiri. Menurutnya, kader perlu memeriksa apakah gerakan yang dilakukan selama ini sudah sesuai dengan cita-cita organisasi.

“Kami mengajak saudara-saudara semua untuk kemudian mulat sarira, melihat apakah gerakan kita hari ini telah sesuai dengan gerakan yang dicita-citakan,” jelasnya.

Dia menambahkan, introspeksi harus dilanjutkan dengan keberanian mengkritik dan mengevaluasi diri sendiri. Kader juga perlu berani mengambil tindakan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.

“Setelah kita mulat sarira, maka kita harus berani mengkritik diri kita sendiri, berani mengevaluasi diri kita sendiri, dan berani melakukan tindakan-tindakan yang kemudian telah dijauhi oleh gerakan-gerakan lainnya,” imbuhnya.

Pengalaman Keluarga dan Pesan untuk Kader

Dalam sambutannya, Dian juga menceritakan pengalaman keluarganya dalam memperjuangkan Muhammadiyah di kampung halaman. Berasal dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan, sedangkan ibunya merupakan pedagang keliling.

Di kampungnya yang memiliki sekitar 1.200 kepala keluarga, hanya terdapat tiga keluarga yang berorganisasi Muhammadiyah. Keluarganya juga pernah menghadapi berbagai perlakuan tidak menyenangkan ketika memperjuangkan Muhammadiyah. Bahkan, mereka harus menunggu kelompok lain selesai melaksanakan salat berjemaah sebelum dapat beribadah.

Berbagai pengalaman tersebut akhirnya mendorong keluarga Muhammadiyah di kampungnya mengumpulkan dana untuk membangun masjid sendiri.

Pengalaman itu turut membentuk identitasnya sebagai kader Muhammadiyah. Ketika hendak berangkat ke Surabaya untuk menempuh pendidikan, ibunya berpesan agar dia tetap berada dalam lingkungan Muhammadiyah. Pesan tersebut terus diingatnya hingga sekarang.

Dian juga mengisahkan bahwa dirinya pernah tertarik bergabung dengan organisasi Cipayung lainnya. Namun, keputusan tersebut mendapat tanggapan dari keluarganya. Kakak dan ibunya mengingatkan bahwa pilihannya itu bertentangan dengan perjuangan ayah mereka dalam membesarkan Muhammadiyah.

Menutup sambutannya, Dian mengingatkan seluruh kader agar menjaga nama baik IMM. Menurutnya, amanah sebagai kader bukan sekadar identitas organisasi, tetapi tanggung jawab yang kelak harus dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt.

“Mari teman-teman semuanya, kita ber-IMM sampai mati. Ketika kita di mana-mana, yang kita gunakan adalah cara pandang IMM, bukan kemudian kita membawa cara pandang lain kepada IMM,” pesannya.

Dia berharap kader IMM UINSA tetap menjaga nilai-nilai ikatan dan meneruskan perjuangan para pendahulu dengan keberanian melakukan introspeksi serta perbaikan gerakan. (*)

Editor: Zahra Putri Pratiwig

TOPIK ARTIKEL
REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.