Persoalan kesehatan mental tidak bisa disederhanakan dengan menganggap seseorang kurang bersyukur atau kurang beriman. Ada berbagai faktor yang saling berkaitan dan perlu dipahami sebelum seseorang memberikan penilaian terhadap kondisi psikologis orang lain.
Hal tersebut disampaikan psikolog Valina Khiarin Nisa, S.Psi., M.Sc., dalam Workshop World Mental Health Day yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Surabaya bersama Yayasan Seribu Senyum di Parahita Diagnostic Center, Sabtu (31/10/2026).
Dalam pemaparannya, Valina menjelaskan bahwa kesehatan mental dapat dipahami melalui pendekatan biopsikososial yang mencakup aspek biologis, psikologis, dan sosial.
Aspek biologis berkaitan dengan kondisi kesehatan fisik. Aspek psikologis mencakup kepribadian dan temperamen, sedangkan aspek sosial berkaitan dengan lingkungan yang turut membentuk karakter serta memengaruhi kondisi psikis seseorang.
Selain ketiga aspek tersebut, Valina menyebut faktor spiritual juga memiliki keterkaitan dengan kesehatan mental dan mulai menjadi perhatian dalam penelitian.
Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengaitkan persoalan kesehatan mental dengan lemahnya keimanan seseorang.
“Ketika ada orang yang mengalami permasalahan kesehatan mental, jangan langsung dibilang kurang iman. Itu terlalu jauh, karena ada faktor-faktor lain yang juga harus dipertimbangkan,” tegasnya.

Untuk menjelaskan bahwa tekanan psikologis dapat dialami siapa saja, Valina mengajak peserta merefleksikan kisah Maryam dalam Al-Qur'an.
Ia menjelaskan bahwa Maryam juga mengalami tekanan dan kesulitan ketika menghadapi proses persalinan seorang diri. Dalam Surah Maryam ayat 23, digambarkan betapa berat penderitaan yang dialaminya hingga mengungkapkan harapan agar dirinya meninggal sebelum peristiwa tersebut dan menjadi sesuatu yang dilupakan.
Padahal, Maryam merupakan perempuan yang dimuliakan Allah. Kisah tersebut, menurut Valina, menunjukkan bahwa seseorang tetap bisa mengalami kesedihan, kelelahan, dan tekanan meskipun memiliki kedudukan yang mulia.
“Jadi, kalau kita merasa tertekan atau sedih, itu tidak apa-apa. Maryam juga mengalami hal yang sangat berat,” ungkapnya.
Valina kemudian mengingatkan bahwa Allah memberikan penguatan kepada Maryam melalui Surah Maryam ayat 24–26. Maryam diperintahkan menggoyangkan pangkal pohon kurma hingga buahnya berjatuhan untuk dimakan.
Menurutnya, kisah tersebut mengajarkan bahwa di tengah kesulitan, manusia tetap perlu berusaha dan membuka diri terhadap pertolongan Allah yang dapat datang melalui jalan yang tidak disangka-sangka.
Lebih lanjut, Valina mengajak peserta membangun empati terhadap persoalan yang dialami orang lain. Mengikuti perkembangan berita dan berbagai persoalan sosial, menurutnya, dapat menjadi salah satu cara mengasah kepekaan sebagai manusia.
Namun, kepedulian tidak cukup berhenti pada mengetahui keadaan orang lain. Setiap orang juga perlu memikirkan kontribusi nyata yang dapat diberikan kepada lingkungan sekitarnya.
“Dari hal-hal berat yang kita hadapi, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: hal baik apa yang masih bisa saya lakukan?” pesannya.
Ia berharap pemahaman yang lebih utuh mengenai kesehatan mental dapat mendorong masyarakat untuk tidak mudah menghakimi, melainkan saling mendengarkan, memahami, dan memberikan dukungan kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan. (*)
Editor: M. Tanwirul Huda
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.