Ketua Umum Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Avempace periode 2025–2026, Septi Nur Azizah, angkat bicara mengenai polemik “Segel Kampus” Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.
Melalui pernyataan pribadi di akun instagramnya, Azizah mengajak mahasiswa menghadapi situasi tersebut dengan kepala dingin dan tidak saling menyalahkan. Ia juga menyoroti dampak dinamika tersebut terhadap mahasiswa yang tetap memiliki kepentingan akademik.
Sebagai mahasiswa semester 7, Azizah mengaku turut merasakan dampak dari situasi kampus, terutama karena tidak dapat menjalankan sejumlah aktivitas akademik seperti bimbingan.
“Sebagai mahasiswa psikologi semester 7 yang secara itung-itung turut dirugikan karena tidak bisa bimbingan, di situasi ini saya memilih mengalah saja,” tulisnya.
Meski tidak turun langsung dalam aksi, Azizah mengatakan tidak memilih untuk menyudutkan mahasiswa yang berupaya menyampaikan keresahan. Menurutnya, keberanian mahasiswa menyuarakan keresahan merupakan bagian dari dinamika kehidupan kampus.
“Saya sendiri tidak turun aksi, tapi saya memilih untuk tidak mengolok mereka yang mengupayakan perubahan. Bagi saya, mereka sudah berani mewakili keresahan,” tulis Azizah.
Ajak Mahasiswa Tak Saling Menyalahkan
Azizah kemudian mengajak mahasiswa mengikuti perkembangan situasi dengan kepala dingin. Menurutnya, perbedaan sikap dalam merespons “Segel Kampus” tidak seharusnya berkembang menjadi pertentangan antarmahasiswa.
“Jika boleh membagi perspektif, alangkah baiknya kita sebagai mahasiswa mengikuti perkembangan situasi dengan kepala dingin tanpa menyalahkan pihak yang sedang memperjuangkan,” tulisnya.
Ia menilai energi mahasiswa sebaiknya diarahkan pada persoalan yang menjadi dasar munculnya gerakan. Menurut Azizah, mahasiswa yang tidak turun aksi tidak perlu menjadikan mahasiswa yang terlibat dalam aksi sebagai sasaran kesalahan.
“Alih-alih menyalahkan mereka yang melakukan ‘Segel Kampus’, bukankah lebih baik menyatukan suara, menyalahkan ‘beliau’ yang tak sudi turun itu?” tulisnya.
Azizah juga menilai tekanan yang disampaikan mahasiswa perlu diarahkan kepada pihak yang memiliki kewenangan untuk merespons persoalan tersebut.
“Semakin besar tekanan ke atas, semakin besar kemungkinan Segel Kampus segera berakhir,” lanjutnya.
Ia kemudian menyinggung dinamika aksi mahasiswa pada September tahun sebelumnya dan membandingkannya dengan situasi yang berlangsung saat ini.
“Kenapa gelombang protesnya saaaangat besar ya? Apakah karena kita merasa lebih bebas bersuara di balik anonimitas? Atau ini adalah kabar baik yang menunjukkan peningkatan keseriusan mahasiswa UINSA dalam bidang akademik dibanding tahun sebelumnya?” tulisnya.
Soroti Kritik melalui Akun Anonim
Dalam pernyataannya, Azizah juga menyoroti penggunaan akun privat maupun anonim untuk menyampaikan kritik dan komentar di tengah dinamika “Segel Kampus”.
Ia menyarankan mahasiswa yang membutuhkan kejelasan mengenai persoalan kampus menyampaikannya secara langsung kepada pihak eksekutif universitas. Menurutnya, komunikasi langsung dapat menjadi ruang untuk memperoleh penjelasan mengenai persoalan yang sedang dipertanyakan mahasiswa.
“Bagi yang menginginkan kejelasan ‘sampai kapan kampus akan disegel?’, ada baiknya untuk langsung disampaikan kepada eksekutif universitas,” tulisnya.
Sementara itu, bagi mahasiswa yang tidak sepakat dengan gerakan “Segel Kampus”, Azizah mendorong agar perbedaan pandangan disampaikan melalui forum konsolidasi.
“Jika ada di antara teman-teman yang tidak sepakat dengan gerakan ‘Segel Kampus’, pun ada baiknya untuk disampaikan melalui forum konsolidasi guna menemukan titik tengah yang bisa meminimalisir pihak-pihak yang merugi,” lanjutnya.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk berani menyampaikan sikap secara terbuka.
“Mari berani bersikap tanpa berlindung di balik anonimitas,” tulisnya.
Pernyataan Pribadi
Meski menyandang posisi Ketua Umum PK IMM Avempace periode 2025–2026, Azizah menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi dan tidak mewakili organisasi.
"Tulisan ini tidak mewakili kelompok atau organisasi manapun. Murni ditulis atas keresahan saya sendiri,” tulis Azizah.
Penegasan tersebut menjadi konteks penting dalam membaca pernyataan Azizah. Jabatan Ketua Umum PK IMM Avempace periode 2025–2026 merupakan identitas organisasionalnya, sedangkan pandangan mengenai “Segel Kampus” yang disampaikan dalam pernyataan tersebut tidak disebut sebagai sikap resmi PK IMM Avempace.
Pada bagian akhir, Azizah menyampaikan harapan kepada mahasiswa yang masih menghadapi hambatan dalam urusan akademik akibat situasi tersebut.
“Semoga teman-teman yang masih berat hati karena terhambat dalam urusan akademik, diberikan jalan terbaik dan kemudahan di depan sana,” tulisnya.
Pernyataan Azizah tersebut menempatkan persoalan “Segel Kampus” dalam perspektif mahasiswa yang juga merasakan dampak akademik, tetapi memilih tidak turun langsung dalam aksi. Ia menyampaikan dukungan terhadap ruang penyampaian keresahan sekaligus mengajak mahasiswa menjaga komunikasi dan tidak saling menyalahkan.
Bagi Azizah, perbedaan sikap terhadap gerakan mahasiswa tidak harus berujung pada pertentangan antarmahasiswa. Ia mendorong adanya komunikasi langsung dengan pihak yang berwenang serta ruang konsolidasi bagi mahasiswa yang memiliki pandangan berbeda. (*)
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.