Idealisme kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) perlu dijaga agar tidak bergeser menjadi orientasi materialistis dan kepentingan politik praktis. Kader IMM harus tetap berpegang pada nilai ideologi Muhammadiyah sebagai fondasi gerakan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur sekaligus Fokal IMM UINSA, Muhammad Khoirul Abduh, M.Si., dalam acara pelantikan IMM UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) periode 2026–2027 di Gedung PWM Jawa Timur, Ahad (1/11/2026).
Dalam sambutannya, Khoirul Abduh mengingatkan bahwa IMM memiliki karakter ideologis yang membedakannya dari organisasi mahasiswa lainnya. Menurutnya, karakter tersebut harus dipertahankan melalui konsistensi kader dalam menjalankan nilai-nilai Muhammadiyah.
Ia menyoroti kecenderungan sebagian kader yang mulai menempatkan kepentingan material sebagai orientasi utama dalam berorganisasi.
“Mulai sekarang itu sudah urusan duit,” ungkapnya saat mengkritik kondisi idealisme kader yang dinilainya mulai mengalami pergeseran.
Khoirul Abduh menegaskan, identitas Muhammadiyah tidak cukup hanya ditampilkan melalui atribut organisasi. Kader perlu memahami dan menjalankan nilai-nilai yang menjadi dasar gerakan.
Ia mengingatkan bahwa religiusitas menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter kader IMM. Nilai agama, menurutnya, harus tercermin dalam perilaku dan keputusan kader, termasuk ketika berhadapan dengan persoalan sosial maupun politik.
“Kalau religiusitas ini kuat, maka jenengan punya basis dasar mental kuat. Nggak terombang-ambing oleh masalah-masalah material,” tuturnya.
Ia juga menyinggung pengalaman generasi awal IMM yang harus berjuang membangun organisasi dengan keterbatasan fasilitas. Sekretariat yang berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya menjadi bagian dari perjalanan awal organisasi.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa keberlangsungan organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh fasilitas atau dukungan material, melainkan oleh komitmen dan keyakinan kader terhadap nilai perjuangan.
Khoirul Abduh berharap kader IMM UINSA tetap mampu menjaga jati diri organisasi di tengah dinamika kehidupan mahasiswa. Ia menekankan pentingnya menjadikan ideologi Muhammadiyah sebagai pedoman dalam berorganisasi.
“IMM itu pembeda dengan aktivis-aktivis yang lain. Bukan masalah beda, pembeda,” tegasnya.
Ia berharap kader IMM tidak kehilangan identitas dan idealisme ketika menghadapi berbagai kepentingan di luar organisasi. Dengan demikian, IMM tetap menjadi ruang pembinaan mahasiswa yang mengedepankan nilai keagamaan, intelektualitas, dan perjuangan sosial. (*)
Editor: M. Wildan Afriqil
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.