Relawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kalimantan Tengah bersama Yayasan Seribu Senyum mengambil bagian dalam merespons kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang melanda Kalimantan Tengah. Melalui kolaborasi kemanusiaan, keduanya melakukan berbagai upaya, mulai dari distribusi masker dan air bersih, pemenuhan kebutuhan relawan pemadam, hingga penyebarluasan informasi mengenai kondisi masyarakat terdampak.
Upaya tersebut menjadi pembahasan dalam program Obrolan Komunitas RRI Pro 1 Palangkaraya, Senin (2/11/2026). Siaran tersebut menghadirkan Muhammad Adji Maulana, S.Pd., relawan dari IMM Kalimantan Tengah, serta Balqis Saila Sufa Al Zakiyah, S.IP., Ketua Koordinator Komisariat IMM Universitas Airlangga (UNAIR) sekaligus Digital Campaign Staff Yayasan Seribu Senyum.
Adji Maulana menjelaskan bahwa keterlibatan IMM dalam penanganan karhutla merupakan bagian dari gerakan IMM Care yang terhubung dengan Muhammadiyah One Response (OMAR) di bawah koordinasi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Respons tersebut dilakukan sejak penetapan status tanggap darurat oleh Gubernur Kalimantan Tengah pada 31 Agustus 2026.
Melalui koordinasi relawan di berbagai daerah, IMM turut menjangkau tujuh kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah, yakni Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur, Katingan, Barito Utara, Kotawaringin Barat, dan Seruyan. Dalam rangkaian aksi tersebut, IMM mendistribusikan sebanyak 50.000 masker kepada masyarakat terdampak. Sementara itu, di Palangkaraya terdapat puluhan relawan mahasiswa IMM yang terlibat dalam berbagai kegiatan respons bencana.
“Kami hadir untuk membantu para relawan yang ada di lapangan dalam menyikapi kebakaran ini. Sejak ditetapkannya status tanggap darurat oleh Gubernur pada 31 Agustus 2026, IMM turut bergerak membantu masyarakat dan relawan yang terdampak karhutla,” ungkap Adji Maulana.
Lebih lanjut, Adji Maulana mengungkapkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kabut asap, tetapi juga menyebabkan kesulitan masyarakat dalam memperoleh air bersih. Dia daerah yang mengalami kondisi tersebut adalah Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kotawaringin Timur. Daerah tersebut belum terjangkau layanan PDAM, sedangkan air sumur bor yang tersedia masih terasa payau. Masyarakat akhirnya harus mengandalkan air sungai yang kondisinya tidak bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam upaya membantu masyarakat, IMM bersama jejaring relawan telah mendistribusikan 5.000 liter air bersih ke Pulang Pisau dan 20.000 liter ke Kotawaringin Timur. Adji Maulana juga menyampaikan bahwa harga air bersih di sejumlah wilayah terdampak mengalami kenaikan hingga mencapai Rp30.000 per galon.
“Masyarakat di sana sangat kesulitan mendapatkan akses air bersih. Sumur bor dengan kedalaman berapa pun airnya tetap payau, sedangkan air sungai yang mereka gunakan juga tidak bersih. Karena itu, kami berupaya hadir untuk mendistribusikan air bersih agar bisa membantu kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Balqis Saila Sufa Al Zakiyah menjelaskan bahwa keterlibatan Yayasan Seribu Senyum di Kalimantan Tengah membawa dua misi utama, yakni menyalurkan bantuan dari donatur serta menyampaikan kondisi nyata masyarakat terdampak kepada publik yang lebih luas. Tim Seribu Senyum tiba di Palangkaraya pada 22 Oktober 2026 untuk melihat langsung situasi di lapangan sekaligus memastikan persoalan karhutla tetap mendapat perhatian masyarakat.
Menurut Balqis, kondisi langit yang mulai cerah dan turunnya hujan tidak serta-merta menandakan bahwa karhutla telah berakhir. Masih terdapat titik-titik api yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, penyebarluasan informasi melalui media sosial menjadi salah satu upaya untuk menjaga perhatian publik terhadap kondisi masyarakat di Kalimantan Tengah.
“Meskipun langit cerah, perjuangan masyarakat Kalimantan, terkhususnya untuk mendapatkan haknya atas udara bersih dan air bersih di wilayahnya sendiri, itu belum usai. Masih banyak titik-titik api,” tegas Balqis.
Selain persoalan kesehatan dan akses air bersih, Balqis juga menyoroti dampak karhutla terhadap sektor pendidikan. Berdasarkan kunjungan ke lima sekolah di wilayah Palangkaraya, pihaknya menemukan berbagai tantangan yang dihadapi para guru selama kabut asap tebal. Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh terkendala keterbatasan jaringan internet di sejumlah wilayah. Bahkan, beberapa guru harus mendatangi rumah peserta didik untuk menyampaikan tugas agar proses pembelajaran tetap berjalan.
Dalam penanganan di lapangan, Yayasan Seribu Senyum bersama IMM Kalimantan Tengah, MDMC, dan sejumlah mitra turut menyalurkan bantuan kepada relawan pemadam kebakaran. Bantuan tersebut meliputi logistik, susu, serta masker khusus untuk menghadapi paparan asap. Selain itu, dilakukan pemberian injeksi vitamin kepada 300 relawan pemadam melalui kerja sama dengan Parahita Diagnostic Center Surabaya. Bantuan dana kepada guru juga disalurkan melalui kolaborasi dengan Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya.
Yayasan Seribu Senyum bekerja sama dengan MOP Beauty, Tasya Farasya, dan Kita Bisa turut mendirikan posko di sekitar Universitas Muhammadiyah Palangkaraya yang menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis, air minum, air bersih, dan oksigen bagi masyarakat maupun relawan yang membutuhkan. Dalam beberapa kesempatan, tim juga mendatangi lokasi kebakaran untuk membantu relawan pemadam, termasuk memberikan oksigen kepada petugas yang mengalami kelelahan saat bertugas.
Sekretaris Korps Immawati PC IMM Kota Surabaya itu juga menilai bahwa penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, baik organisasi kemahasiswaan, lembaga kemanusiaan, perusahaan, pemerintah, maupun masyarakat. Menurutnya, aksi kemanusiaan tidak dapat berjalan optimal apabila hanya mengandalkan satu organisasi atau kelompok tertentu.
“Untuk isu karhutla ini, dibutuhkan kolaborasi yang sangat kuat dari berbagai elemen masyarakat, baik komunitas, perusahaan, amal usaha, maupun pemerintah. Seluruh elemen masyarakat di sini terdampak, sehingga penanganannya juga perlu dilakukan bersama-sama,” jelasnya.
Lebih lanjut, Balqis menyampaikan bahwa perhatian masyarakat melalui media sosial perlu diarahkan menjadi kontribusi nyata. Informasi yang disebarluaskan dapat mendorong masyarakat untuk berdonasi, menjadi relawan, maupun membantu menghubungkan tim dengan warga yang membutuhkan bantuan. Melalui akun Instagram dan TikTok @seribusenyum.id, pihaknya secara berkala membagikan perkembangan kondisi di Kalimantan Tengah sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat.
Menutup perbincangan, Haji Maulana mengajak generasi muda agar tidak berhenti pada kepedulian melalui media sosial, tetapi juga berani mengambil bagian secara langsung dalam kegiatan kemanusiaan. Menurutnya, kontribusi tidak selalu harus berbentuk materi, sebab tenaga dan waktu juga memiliki arti penting dalam membantu masyarakat terdampak.
“Jangan hanya bisa melihat atau berkomentar di media sosial, tetapi kalian juga harus bisa turun langsung ke lapangan. Jika tidak bisa membantu secara materiil, tenaga kalian tetap sangat diperlukan. IMM siap menggandeng teman-teman semua untuk bersama-sama membantu masyarakat yang terdampak karhutla,” tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Koorkom IMM Universitas Airlangga mengajak anak muda untuk tidak takut memulai langkah menjadi relawan. Yayasan Seribu Senyum membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin terlibat melalui pesan langsung di Instagram maupun TikTok @seribusenyum.id. Ia menegaskan bahwa tujuan utama menjadi relawan adalah menghadirkan kebermanfaatan bagi sesama.
“Jangan takut, teman-teman. Kami bersama mitra yang ada di Kalimantan Tengah, IMM Kalteng, dan MDMC akan sangat membantu. Kita ikhtiarkan untuk kebermanfaatan terlebih dahulu karena itu yang menjadi kunci utama,” imbuhnya.
Melalui kolaborasi tersebut, IMM bersama Yayasan Seribu Senyum berharap upaya penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dapat terus berjalan hingga kondisi benar-benar pulih. Keduanya juga mengajak masyarakat untuk tetap menggunakan masker ketika kabut asap muncul, mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak, serta menjaga kesehatan dan lingkungan sekitar.
“Langit yang cerah bukan berarti karhutla telah berakhir.” Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap masyarakat terdampak tidak boleh berhenti ketika kondisi mulai terlihat membaik. (*)
Editor: Zahra Putri Pratiwig
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.