Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Saintek Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengumumkan perubahan nama menjadi IMM Avenzoar dalam prosesi serah terima jabatan pasca-pelantikan Koordinator Komisariat dan Pimpinan Komisariat se-UINSA di Aula Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Ahad (1/11/2026).
Perubahan nama tersebut merupakan hasil pertimbangan dan evaluasi internal kepengurusan periode 2025–2026. Langkah ini menjadi upaya memperkuat identitas organisasi sekaligus membangun arah gerakan yang lebih jelas dalam rumpun keilmuan sains dan teknologi.
Nama Avenzoar diambil dari nama Latin Ibnu Zuhr, seorang ilmuwan dan dokter Muslim yang dikenal pada masa kejayaan Islam di Andalusia. Ibnu Zuhr dikenal melalui pendekatan keilmuan yang mengutamakan pengamatan dan pengalaman dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Pemilihan nama tersebut diharapkan dapat membawa semangat keilmuan Ibnu Zuhr ke dalam identitas organisasi. Nilai-nilai seperti berpikir kritis, kesungguhan dalam menuntut ilmu, dan pengembangan pengetahuan diharapkan menjadi bagian dari aktivitas organisasi serta proses perkaderan.
Ketua Umum PK IMM Avenzoar, Fahmudianto Saputro, mengatakan perubahan nama tersebut bukan sekadar pergantian identitas, melainkan momentum untuk mempertegas arah gerakan organisasi.
“Melalui nama Avenzoar, kami berharap setiap kader memiliki semangat untuk terus belajar, berani berpikir kritis, dan mampu memberikan kontribusi nyata. Sebab, keberadaan organisasi tidak cukup dibuktikan melalui nama, tetapi juga melalui karya dan kebermanfaatan di lingkungan sekitar,” ungkap Fahmudianto.
Melalui identitas baru tersebut, IMM Avenzoar diharapkan menjadi ruang bertumbuh bagi kader yang memiliki semangat keilmuan, berpikir kritis, dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar. Semangat Ibnu Zuhr menjadi inspirasi agar ilmu pengetahuan tidak hanya dipelajari, tetapi juga dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
Perubahan nama IMM Saintek menjadi IMM Avenzoar diharapkan tidak berhenti sebagai simbol organisasi, tetapi tercermin dalam karya, pemikiran, dan kontribusi kader dalam kehidupan kampus maupun masyarakat. (*)
Editor: M. Wildan Afriqil
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.