PC IMM Surabaya
LIPUTAN 03 NOV 2026

Abdullah Sidiq Notonegoro Dorong Kader IMM Perkuat Tradisi Membaca dan Menulis

Fokal IMM Jawa Timur mendorong kader IMM mengembangkan tradisi membaca, menulis, berdiskusi, dan pengkaderan yang terjangkau.

Abdullah Sidiq Notonegoro Dorong Kader IMM Perkuat Tradisi Membaca dan Menulis

Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) perlu memperkuat tradisi membaca, berdiskusi, dan menulis untuk membangun kapasitas intelektual. Aktivitas organisasi tidak cukup diisi dengan program seremonial, tetapi harus diarahkan pada pengembangan ideologi dan kemampuan berpikir kader.

Hal tersebut disampaikan Abdullah Sidiq Notonegoro dalam pemaparannya pada kegiatan IMM UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) di Gedung PWM Jawa Timur, Ahad (1/11/2026).

Abdullah Sidiq menilai program organisasi perlu memiliki dasar ideologis yang kuat. Ia mengingatkan kader agar tidak terlalu banyak membuat kegiatan yang tidak berorientasi pada penguatan nilai dan kapasitas organisasi.

Menurutnya, kader IMM perlu menunjukkan kompetensi intelektual melalui diskusi mengenai persoalan kebangsaan, kajian sebelum melakukan aksi, serta karya tulis yang dapat dibaca masyarakat luas.

Ia mempertanyakan sejauh mana aktivitas intelektual tersebut telah berkembang di kalangan kader IMM.

“Apakah kita turun demonstrasi itu berdasarkan pada kajian yang matang dan itu kemudian memunculkan ide demonstrasi? Adakah karya-karya intelektual dalam bentuk tulisan?” ujarnya.

Abdullah Sidiq yang menyebut dirinya sebagai editor PWMU.CO itu menyoroti masih terbatasnya tulisan dari kader yang secara jelas memperlihatkan identitas mereka sebagai aktivis IMM.

Ia mengingatkan bahwa tradisi intelektual pernah menjadi kekuatan kader Muhammadiyah. Pada generasinya, mahasiswa aktif menulis opini di berbagai media massa.

Pengalaman tersebut juga ia jalani sejak masih kuliah. Ia mulai menulis sejak semester tiga dan menjadikan tulisan sebagai salah satu sumber untuk membantu membiayai pendidikan.

Menurutnya, tradisi menulis perlu dibangun melalui kebiasaan membaca dan diskusi. Kader dapat membentuk kelompok diskusi dengan menyiapkan makalah sebagai bahan pembahasan.

“Di IMM itu menciptakan kelompok-kelompok diskusi. Sebelum diskusi, wajib ada pemantiknya. Pemantik wajib membuat makalah,” tutur dosen Universitas Muhammadiyah Gresik tersebut.

Ia menilai proses tersebut dapat melatih kader menyusun gagasan secara sistematis. Makalah yang dihasilkan dari diskusi kemudian dapat dikembangkan menjadi tulisan opini dan dikirimkan ke media.

Selain penguatan intelektualitas, Abdullah Sidiq juga menekankan pentingnya pengkaderan yang tidak membebani peserta. Menurutnya, kader yang mengikuti pendidikan organisasi sebaiknya tidak dibebani biaya besar.

“Kita ini butuh orang kok. Butuh kader. Tidak perlu bayar,” kata Fokal IMM Jawa Timur.

Ia menyarankan organisasi mencari sumber pembiayaan melalui kegiatan lain, seperti seminar publik yang dapat diikuti masyarakat dengan biaya tertentu. Sementara itu, pendidikan kader seperti Darul Arqam Dasar (DAD) sebaiknya diupayakan tetap terjangkau.

Abdullah Sidiq berharap IMM kembali menghidupkan tradisi membaca, menulis, dan berdiskusi sekaligus memperkuat sistem kaderisasi. Dengan demikian, organisasi dapat melahirkan kader yang memiliki dasar ideologi kuat dan kemampuan intelektual untuk menjawab persoalan masyarakat. (*)

Editor: Refi Yuliana

REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.