Ia bermula dari yang tak kasatmata manusia,
menjalar pelan di bawah tanah dada,
menyerap dinginnya hujan, menyimpan getir malam,
tanpa seorang pun tahu ia ada.
Dari gelap yang sabar itu, asa tumbuh bertunas,
rapuh, hijau, setipis harapan yang nyaris lekang
oleh dinginnya embun malam.
Angin boleh mengguncang, kemarau boleh menggerus,
tapi ia memilih tegak, sebab akarnya tak pernah pergi
dan bertahan bersama sanubari.
Di atasnya, cita menjulang tinggi,
menjangkau langit yang belum sudi menyambutnya.
Ia tak tahu apakah akan sampai,
hanya tahu ia tumbuh karena ada rasa
yang tertanam dalam jiwa pemimpi.
Satu hal tentang akar:
ia tak pernah tampak, namun dialah yang membuat segalanya kuat,
tak pernah merasa paling hebat.
Maka biarlah pucuk asa terus menjangkau cahaya,
sebab ia tahu dari mana ia bermula.
Dan ketika fajar akhirnya tiba,
ia tak berdiri sendiri, ada akar yang setia. (*)
Editor: M. Tanwirul Huda
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.