Dalam diriku meluap dirimu.
Tiap gelita menyapa netra, hembus wajahmu dalam anganku.
Satu kali bertemu, biasa kurasa.
Dua kali bertemu, mengapa ku tak kuasa?
Kukira sekejap tiup hadirmu.
Ternyata kian lekat dalam nadiku.
Berdiri ingin mengegah angkuh, mencengkam erat sisa doa yang rapuh.
Namun sadar berjalan, berkalang harap tenggelam di abu.
Masih tentang warta lidah tetangga yang berbisa,
menghardik rendahnya asal diri di hadapan singgasana.
Bahkan selir pun tiada pantas dalam catatan namanya.
Mendengarnya, gelebah batin kian meraja,
meski padanya, hatiku tetap bertudung kasih tak ke mana.
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.