PC IMM Surabaya
LIPUTAN 30 SEP 2026

Dr. Radius Setiyawan Ajak Kader IMM Memahami Kemiskinan dari Perspektif Struktural

Dr. Radius Setiyawan mengajak kader IMM memahami kemiskinan melalui perspektif struktural, relasi ekonomi, kebijakan, dan konteks sosial masyarakat.

Dr. Radius Setiyawan Ajak Kader IMM Memahami Kemiskinan dari Perspektif Struktural

Kemiskinan tidak dapat dipahami hanya dari rendahnya pendapatan seseorang. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan struktur sosial, kebijakan ekonomi, dan relasi antarkelompok yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

Perspektif tersebut disampaikan Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Dr. Radius Setiyawan dalam kegiatan Kamp Intelektual Merah (KIM) 2026 yang diselenggarakan PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Surabaya.

Dalam paparannya, Radius mengajak kader IMM melihat kemiskinan sebagai persoalan sosial yang kompleks. Menurutnya, memahami kemiskinan membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar mengukur pendapatan masyarakat.

“Kalau kita bicara tentang kemiskinan, teman-teman pasti sepakat bahwa kemiskinan itu kondisi sosial yang kompleks. Jadi ini bukan soal, kemiskinan itu bukan hanya persoalan pendapatan,” jelasnya.

Ia menjelaskan, kemiskinan juga berkaitan dengan kekurangan materi, adaptasi kultural, relasi kuasa, dan eksklusi sosial. Berbagai dimensi tersebut menunjukkan bahwa kondisi masyarakat miskin tidak selalu dapat dijelaskan melalui satu penyebab.

Radius kemudian mengajak peserta melihat kemiskinan dari perspektif struktural. Menurutnya, kebijakan dan perubahan kondisi ekonomi tertentu dapat menciptakan situasi yang membuat masyarakat semakin rentan mengalami kemiskinan.

“Orang miskin karena struktur itu karena dimiskinkan oleh kebijakan,” ujarnya.

Ia mencontohkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dapat memengaruhi harga kebutuhan pokok. Selain itu, pengurangan pegawai dalam perusahaan juga berpotensi menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menambah kerentanan ekonomi masyarakat.

Namun, Radius mengingatkan bahwa kemiskinan tidak cukup dijelaskan hanya melalui faktor struktural. Ia juga menyinggung perspektif kultural yang melihat kemiskinan dalam kaitannya dengan pola kehidupan tertentu yang dapat berlangsung antargenerasi.

Menurutnya, beragam perspektif tersebut perlu digunakan secara cermat agar masyarakat tidak terburu-buru menyederhanakan penyebab kemiskinan hanya pada perilaku individu ataupun kondisi ekonomi semata.

Membaca Kemiskinan Melalui Relasi Ekonomi

Dalam paparannya, Radius turut menjelaskan pemikiran Karl Marx mengenai struktur masyarakat. Ia menyebut pembagian masyarakat dalam perspektif Marx ke dalam dua kelompok, yakni borjuis dan proletar.

“Marx membagi, katakan, masyarakat ini terbagi menjadi dua kelompok. Yang pertama itu borjuis, yang kedua proletar,” paparnya.

Ia menjelaskan bahwa proletar merupakan kelompok yang tidak menguasai alat produksi, sedangkan borjuis merupakan kelompok yang menguasai alat produksi. Perbedaan penguasaan tersebut berkaitan dengan posisi dan relasi ekonomi antarkelompok dalam masyarakat.

Radius juga menjelaskan pandangan Marx mengenai hubungan antara infrastruktur ekonomi dan suprastruktur, termasuk hukum dan politik.

“Marx membagi, ada suprastruktur sama infrastruktur. Apa yang muncul di atas itu, suprastruktur hukum politik itu ditentukan oleh infrastruktur ekonomi,” jelasnya.

Pembahasan tersebut menjadi salah satu perspektif untuk melihat bagaimana struktur ekonomi berkaitan dengan kehidupan sosial dan politik. Melalui penjelasan itu, peserta diajak memahami bahwa kemiskinan tidak selalu berdiri sebagai persoalan individual, tetapi juga perlu dibaca dalam hubungan dengan struktur masyarakat.

Meski demikian, Radius mengingatkan pentingnya mempertimbangkan konteks wilayah dalam memahami kemiskinan. Kondisi masyarakat di satu daerah belum tentu sama dengan daerah lainnya sehingga pendekatan yang digunakan tidak dapat disamaratakan.

“Untuk tahu bagaimana kemiskinan di Surabaya tentu berbeda dengan di Samarinda atau di Balikpapan,” katanya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya memahami kondisi masyarakat secara langsung sebelum merancang upaya penanggulangan kemiskinan.

“Tentu untuk membuat satu proyek bagaimana membuat orang lepas dari ruang kemiskinan, kalian harus hidup bersama dan turun ke lapangan di mana kemiskinan ada di lokasi tertentu,” ujarnya.

Melalui paparan tersebut, kader IMM diajak menghubungkan pemikiran teoretis dengan realitas sosial di masyarakat. Pemahaman terhadap struktur ekonomi, kebijakan, dan konteks lokal menjadi bagian penting dalam membaca persoalan kemiskinan secara lebih menyeluruh. (*)

REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.