PC IMM Surabaya
SASTRA 14 OCT 2026

Tembok Ratapan Di Dalam Dada

Tentang mereka yang selalu menjadi tempat pulang, tetapi lupa bahwa dirinya sendiri juga membutuhkan rumah.

Tembok Ratapan Di Dalam Dada

Orang yang Selalu Punya Jawaban

Kael selalu tahu harus mengatakan apa kepada orang lain.

Ketika seseorang merasa gagal, ia akan mengatakan bahwa satu kegagalan tidak cukup untuk mendefinisikan seluruh hidupnya. Ketika seseorang kehilangan arah, ia akan mengingatkan bahwa tidak semua orang harus sampai di tujuan pada waktu yang sama. Dan ketika seseorang merasa tidak lagi berharga, Kael akan menjadi orang pertama yang meyakinkannya bahwa keberadaan mereka tetap berarti, bahkan ketika dunia membuat mereka merasa sebaliknya.

Ia pandai merangkai kalimat yang menenangkan. Pandai menemukan sisi baik dari keadaan yang buruk. Pandai membuat seseorang percaya bahwa hidup masih layak diperjuangkan, sekalipun hari itu terasa seperti akhir dari segalanya.

Bagi teman-temannya, Kael adalah tempat bercerita yang aman. Seseorang yang tidak mudah menghakimi, tidak buru-buru menyela, dan selalu berusaha memahami sebelum memberikan nasihat.

Mereka datang kepadanya dengan berbagai macam kesedihan. Ada yang menangis karena kehilangan seseorang, ada yang kebingungan menghadapi keluarganya, ada pula yang merasa tertinggal ketika melihat orang-orang seusianya mulai menemukan jalan hidup masing-masing.

Kael mendengarkan semuanya.

Ia akan duduk di samping mereka, membiarkan cerita mengalir sampai habis, kemudian mengatakan sesuatu yang terkadang membuat mereka tersenyum di tengah air mata.

Namun, tidak ada yang benar-benar tahu bahwa setiap kali ia berhasil menguatkan seseorang, ada bagian kecil dalam dirinya yang justru terasa semakin lelah.

Sebab, setelah semua orang selesai bercerita dan kembali menjalani hidup mereka, Kael selalu pulang membawa kesunyiannya sendiri.

Ia bisa menjelaskan kepada orang lain bagaimana cara menghadapi hari yang buruk. Akan tetapi, ketika hari buruk itu menjadi miliknya, ia bahkan tidak tahu harus memulai dari mana.

Lucunya, ia selalu punya jawaban untuk pertanyaan orang lain, tetapi tidak pernah benar-benar menemukan jawaban ketika bertanya kepada dirinya sendiri.

Kenapa aku begini?

Apa sebenarnya yang sedang kucari?

Dan sampai kapan aku harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, seperti pintu yang tidak pernah benar-benar terbuka.

Kael tidak tahu kapan tepatnya ia mulai merasa asing terhadap dirinya sendiri. Mungkin sejak ia terlalu sering mengatakan bahwa dirinya kuat. Mungkin sejak ia terbiasa menjadi orang yang bisa diandalkan, sampai merasa tidak memiliki hak untuk menjadi seseorang yang membutuhkan pertolongan.

Atau mungkin, semuanya bermula ketika ia menyadari bahwa orang-orang lebih mudah menerima dirinya sebagai tempat bersandar daripada sebagai seseorang yang juga bisa runtuh.

Maka, setiap kali ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja, Kael selalu tersenyum dan menjawab dengan kalimat yang sama.

“Aku baik-baik saja. Cuma capek sedikit.”

Padahal, yang lelah bukan hanya tubuhnya.

Ada sesuatu di dalam dadanya yang telah lama meminta untuk didengarkan.

Sesuatu yang terus ia abaikan karena terlalu sibuk mendengarkan orang lain.

Rachel dan Pertanyaan yang Sederhana

Rachel pertama kali menyadari perubahan itu pada suatu sore di kampus.

Mereka duduk berhadapan di bangku dekat taman, ditemani suara kendaraan dari jalan raya dan angin yang sesekali menerbangkan daun-daun kering. Rachel sedang menceritakan masalah yang membuatnya beberapa hari terakhir sulit tidur.

Kael mendengarkan seperti biasa. Sesekali ia mengangguk, menanggapi cerita Rachel dengan tenang, lalu memberikan beberapa saran yang menurutnya bisa membantu.

“Kamu enggak harus menyelesaikan semuanya hari ini, Chel,” katanya. “Kadang, kita terlalu sibuk mencari jalan keluar sampai lupa kalau diri sendiri juga butuh waktu buat bernapas.”

Rachel terdiam sejenak.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa membuat dadanya sedikit lebih lega.

“Kamu selalu tahu harus ngomong apa, ya?”

Kael tertawa kecil. “Enggak juga.”

“Serius. Kalau aku cerita ke kamu, rasanya masalahku jadi lebih masuk akal. Kayak semuanya bisa dihadapi satu-satu.”

Kael hanya mengangkat bahu. “Mungkin karena aku lihat masalahmu dari luar. Kalau sedang ada di posisi kamu, belum tentu aku bisa setenang ini.”

Rachel mengangguk, kemudian memperhatikan wajah Kael lebih lama dari biasanya.

Ada lingkaran gelap di bawah matanya. Senyumnya terlihat lebih tipis. Dan ketika percakapan mereka berhenti, Kael tidak lagi terlihat seperti seseorang yang sedang menikmati waktu istirahat, melainkan seseorang yang sedang berusaha keras agar pikirannya tidak pergi terlalu jauh.

“Kalau kamu sendiri gimana?” tanya Rachel tiba-tiba.

Kael menoleh. “Apanya?”

“Kalau kamu lagi punya masalah, kamu cerita ke siapa?”

Pertanyaan itu sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk membuat seseorang kehilangan kata-kata.

Namun, Kael tidak langsung menjawab.

Ia membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Tatapannya beralih ke jalanan di hadapan mereka. Ada banyak jawaban yang mungkin bisa ia berikan, tetapi tidak satu pun terasa cukup jujur.

“Aku bisa ngatasin sendiri,” katanya akhirnya.

Rachel tidak segera menanggapi.

“Bisa, atau terbiasa?”

Kael menoleh kembali. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Rachel seolah-olah perempuan itu baru saja menyentuh sesuatu yang selama ini ia sembunyikan dengan sangat hati-hati.

Lalu ia tertawa kecil.

“Kamu kebanyakan mikir.”

“Mungkin.” Rachel tersenyum tipis. “Tapi kamu enggak harus selalu jadi orang yang paling kuat, Kael.”

Kael tidak menjawab.

Ia hanya memandang langit sore yang mulai kehilangan warnanya, berusaha meyakinkan diri bahwa pertanyaan itu tidak meninggalkan apa-apa.

Padahal, jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai retak.

Bukan karena Rachel mengatakan sesuatu yang menyakitkan, melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seseorang bertanya tentang dirinya tanpa terlebih dahulu membutuhkan sesuatu darinya.

Dan Kael tidak tahu bagaimana harus menghadapi perhatian semacam itu.

Hal-Hal yang Tidak Pernah Selesai

Malam-malam berikutnya terasa semakin panjang.

Kael mulai kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasanya ia sukai. Buku-buku yang dulu menjadi tempatnya menemukan ketenangan kini hanya terbuka tanpa benar-benar dibaca. Pesan-pesan dari teman-temannya tetap ia balas, tetapi sering kali setelah menatap layar ponsel selama beberapa menit.

Bukan karena ia tidak peduli.

Ia hanya tidak lagi memiliki cukup tenaga untuk terus menjadi seseorang yang selalu tahu harus melakukan apa.

Ada banyak hal yang sedang terjadi dalam hidupnya, dan semuanya seolah datang bersamaan. Harapan yang tidak berjalan sesuai rencana. Tuntutan untuk segera menentukan masa depan. Perasaan tertinggal ketika melihat orang lain berkembang. Kekecewaan terhadap dirinya sendiri karena belum menjadi seseorang yang ia bayangkan sejak lama.

Belum lagi hal-hal lama yang tidak pernah benar-benar selesai.

Kenangan yang muncul tanpa diminta. Kata-kata yang masih terngiang meski orang yang mengucapkannya mungkin sudah lupa. Keputusan-keputusan yang terus ia pertanyakan, seolah-olah dengan memikirkannya berulang kali, ia bisa mengubah sesuatu yang telah terjadi.

Kael menyimpan semuanya.

Ia menyimpannya begitu lama hingga tidak lagi tahu mana kesedihan yang baru dan mana luka lama yang kembali terbuka.

Terkadang, ia ingin bercerita.

Keinginan itu muncul tiba-tiba, biasanya pada malam hari, ketika dunia mulai tenang dan tidak ada lagi percakapan yang harus ia tanggapi. Ia ingin menghubungi seseorang, menuliskan pesan panjang, lalu membiarkan semua yang selama ini memenuhi kepalanya keluar tanpa perlu disusun dengan rapi.

Namun, setiap kali membuka ruang percakapan, ia justru terdiam.

Harus mulai dari mana?

Apakah ia harus bercerita tentang hari ini, ketika ia merasa gagal menjalani sesuatu yang seharusnya sederhana? Atau tentang beberapa bulan terakhir, ketika ia mulai kehilangan semangat tetapi terus memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja?

Bagaimana ia menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak sepenuhnya ia pahami?

Bagaimana ia menceritakan luka yang tidak berasal dari satu kejadian, melainkan dari begitu banyak hal kecil yang dibiarkan menumpuk selama bertahun-tahun?

Ia mencoba mengetik.

Sebenernya aku lagi enggak baik-baik aja.

Kael menatap kalimat itu cukup lama.

Kemudian menghapusnya.

Ia mencoba lagi.

Aku capek.

Dihapusnya kembali.

Kalimat-kalimat itu terasa terlalu pendek untuk mewakili apa yang ia rasakan, tetapi ia juga tidak memiliki tenaga untuk menjelaskan semuanya.

Akhirnya, ia meletakkan ponselnya dan kembali menatap langit-langit kamar.

Barangkali, inilah yang paling menyedihkan dari terlalu lama memendam sesuatu: bukan hanya karena tidak ada yang mendengarkan, melainkan karena perlahan-lahan kita sendiri kehilangan kemampuan untuk menceritakannya.

Kael tahu cara menenangkan seseorang yang sedang menangis. Ia tahu bagaimana meyakinkan orang yang merasa hidupnya berantakan.

Namun, ketika kesedihan itu menjadi miliknya, semua nasihat yang pernah ia berikan seolah kehilangan jalan menuju dirinya sendiri.

Ia tahu bahwa manusia tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus.

Ia tahu bahwa meminta pertolongan bukan tanda kelemahan.

Ia tahu bahwa setiap orang berhak beristirahat.

Ia tahu semua itu.

Hanya saja, mengetahui sesuatu tidak selalu berarti mampu melakukannya ketika diri sendiri sedang terluka.

Dan malam itu, Kael menangis tanpa suara.

Bukan karena satu kejadian besar, melainkan karena ia tidak lagi sanggup menahan begitu banyak hal kecil yang selama ini ia paksa untuk terlihat baik-baik saja.

Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba mencari kalimat yang bisa menguatkan dirinya sendiri.

Ia hanya membiarkan air matanya jatuh.

Tembok Ratapan di Dalam Dada

Rachel menemukan Kael di sebuah lorong kampus yang hampir kosong pada Jumat sore.

Kael duduk di lantai dekat jendela, dengan punggung bersandar pada dinding dan sebuah buku yang tergeletak di sampingnya. Ia tidak sedang membaca. Matanya hanya tertuju pada halaman yang sama, sementara pikirannya entah berada di mana.

Rachel menghampirinya tanpa banyak bertanya.

“Boleh duduk?”

Kael mengangguk.

Untuk beberapa menit, mereka membiarkan keheningan mengisi ruang di antara keduanya. Tidak ada pertanyaan tentang tugas, tidak ada cerita tentang teman-teman mereka, dan tidak ada nasihat yang harus diberikan.

Hanya ada dua orang yang duduk berdampingan, membiarkan waktu berjalan sebagaimana mestinya.

Sampai akhirnya Rachel berkata, “Kamu tahu enggak, apa yang paling bikin aku takut dari kamu?”

Kael mengernyit. “Apa?”

“Kamu selalu kelihatan paling siap ketika orang lain berantakan. Tapi aku enggak pernah tahu siapa yang kamu cari ketika kamu sendiri berantakan.”

Kael menunduk.

“Aku enggak bermaksud ikut campur,” lanjut Rachel. “Aku cuma... khawatir kamu terlalu lama sendirian dengan semua yang ada di kepala kamu.”

“Aku enggak tahu harus cerita apa, Rachel.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Pelan. Nyaris seperti bisikan.

Rachel tidak menyela.

Kael menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku bahkan enggak tahu harus mulai dari mana. Ada terlalu banyak hal yang kupikirin. Semuanya campur aduk. Kadang aku merasa sedih, kadang marah, kadang kecewa sama diri sendiri, tapi aku enggak tahu penyebab pastinya apa. Aku cuma merasa capek.”

Suaranya mulai bergetar.

“Terus setiap kali aku mau cerita, aku mikir... masalahku ini sebenarnya sepenting itu enggak, sih? Orang lain juga punya masalah. Bahkan ada yang lebih berat. Jadi aku merasa enggak seharusnya mengeluh.”

Ia tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya.

“Lucu, ya? Aku sering bilang ke orang lain kalau perasaan mereka valid, kalau mereka enggak perlu membandingkan penderitaan mereka dengan orang lain. Tapi waktu hal yang sama terjadi ke aku, aku malah melakukan semuanya sendiri.”

Rachel menatapnya dengan tenang.

“Enggak lucu, Kael.”

Kael terdiam.

“Kamu cuma manusia yang selama ini terlalu terbiasa memahami orang lain, sampai lupa kalau kamu juga perlu dipahami.”

Kalimat itu membuat pertahanan yang dibangun Kael selama bertahun-tahun perlahan runtuh.

Ia menunduk lebih dalam. Matanya memanas, napasnya terasa berat, dan untuk sesaat ia ingin mengatakan semuanya sekaligus. Tentang kelelahan yang tidak pernah selesai, tentang rasa takut menjadi orang yang mengecewakan, tentang mimpi-mimpi yang semakin jauh, dan tentang dirinya yang belakangan terasa seperti orang asing.

Namun, ketika mencoba berbicara, tidak ada kalimat yang berhasil keluar.

Rachel tidak memaksanya.

“Enggak harus sekarang,” katanya. “Kamu enggak perlu merapikan ceritamu dulu supaya aku bisa mendengarkan.”

Kael menatapnya.

“Kamu boleh cerita berantakan. Boleh berhenti di tengah-tengah. Boleh enggak tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan. Kamu enggak harus punya kesimpulan untuk setiap kesedihanmu.”

Kael menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi mendesak keluar.

“Kalau aku malah bikin kamu ikut terbebani gimana?”

Rachel menggeleng pelan.

“Aku mungkin enggak bisa menyelesaikan semua masalahmu. Aku juga enggak selalu punya jawaban yang tepat. Tapi mendengarkanmu bukan berarti aku harus memperbaiki seluruh hidupmu.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.

“Kadang, kamu cuma perlu seseorang yang mau duduk di sampingmu ketika kamu belum tahu bagaimana caranya berdiri lagi.”

Untuk pertama kalinya, Kael tidak mencari jawaban untuk membalas perkataan seseorang.

Ia hanya diam.

Dan di dalam keheningan itu, ia akhirnya mengizinkan dirinya sendiri untuk tidak menjadi apa-apa.

Bukan penasihat. Bukan penyelamat. Bukan orang yang selalu kuat.

Hanya Kael, seorang manusia yang sedang lelah dan tidak tahu bagaimana cara melanjutkan hari-harinya.

Mungkin, pikirnya, selama ini ia telah membangun sebuah tembok di dalam dadanya. Bukan tembok untuk melindungi dirinya dari dunia, melainkan tembok yang tanpa sadar ia gunakan untuk menyembunyikan semua hal yang tidak sanggup ia tunjukkan kepada orang lain.

Di balik tembok itu, ada begitu banyak kesedihan yang tidak pernah diberi nama. Ada doa-doa yang terhenti di tengah jalan. Ada permintaan tolong yang tidak pernah benar-benar diucapkan.

Ia telah menjadi tempat pulang bagi banyak orang, tetapi tidak pernah membiarkan siapa pun mengetahui bahwa dirinya sendiri telah lama tersesat.

Dan sore itu, untuk pertama kalinya, Kael tidak berusaha menutup celah di tembok tersebut.

Ia membiarkannya terbuka.

Tidak Semua Hal Harus Diselesaikan Malam Ini

Kael tidak langsung menjadi lebih baik setelah percakapan itu.

Hari-hari berikutnya tetap sulit. Ada pagi ketika ia bangun dengan perasaan berat yang sama. Ada malam ketika pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tidak menemukan jawaban. Ada saat-saat ketika ia merasa sudah berjalan cukup jauh, lalu tiba-tiba menyadari bahwa dirinya masih menyimpan kesedihan yang sama.

Namun, ada satu hal yang perlahan berubah.

Ia mulai belajar untuk tidak selalu menyembunyikan keadaan dirinya.

Ketika seseorang bertanya apakah ia baik-baik saja, ia tidak lagi terburu-buru menjawab bahwa semuanya baik-baik saja.

Kadang, ia hanya mengatakan, “Aku lagi capek. Boleh enggak kita ngobrol sebentar?”

Dan ternyata, dunia tidak runtuh hanya karena ia mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Rachel juga tidak selalu hadir dengan nasihat. Terkadang, mereka hanya duduk bersama sambil membicarakan hal-hal sederhana. Tentang buku yang belum selesai dibaca, makanan yang ingin dicoba, atau rencana-rencana kecil yang mungkin akan mereka lakukan ketika waktu memungkinkan.

Tidak setiap percakapan harus menjadi ruang untuk membongkar luka.

Tidak setiap pertemuan harus menghasilkan solusi.

Kael mulai memahami bahwa menerima pertolongan tidak membuatnya kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri. Justru dengan mengakui bahwa dirinya membutuhkan orang lain, ia perlahan berhenti memaksa dirinya untuk memikul semuanya sendirian.

Ia juga mulai menuliskan isi pikirannya di sebuah buku kecil.

Tidak selalu berupa kalimat yang indah. Terkadang hanya potongan kata, pertanyaan yang belum terjawab, atau keluhan yang terasa terlalu sederhana untuk diceritakan kepada siapa pun.

Di halaman pertama, ia menulis:

Hari ini aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak akan memaksa diriku untuk segera menemukan jawabannya.

Ia membiarkan kalimat itu tetap berada di sana.

Tidak dihapus. Tidak diperbaiki. Tidak dipaksa menjadi lebih bijaksana.

Sebab, mungkin selama ini Kael terlalu sibuk mencari cara untuk mengubah kesedihannya menjadi sesuatu yang bisa dipahami, sampai lupa bahwa ia juga berhak merasakan sesuatu tanpa harus segera menjelaskannya.

Perlahan, ia belajar bahwa pulih bukan berarti tidak pernah merasa sedih lagi. Pulih terkadang hanya berarti mampu melewati hari yang berat tanpa membenci diri sendiri karenanya.

Dan mungkin, itu sudah cukup untuk memulai.

Cahaya yang Juga Membutuhkan Cahaya

Suatu sore, beberapa minggu setelah percakapan mereka di lorong kampus, Kael dan Rachel kembali duduk di bangku taman yang sama.

Langit berwarna jingga pucat. Daun-daun bergerak pelan, dan udara membawa aroma tanah yang baru saja terkena hujan.

Kali ini, Rachel yang sedang bercerita tentang sesuatu yang membuatnya khawatir.

Kael mendengarkan. Ia masih memberikan pendapat ketika diminta, tetapi tidak lagi merasa harus memiliki jawaban untuk setiap persoalan.

Ketika Rachel selesai berbicara, Kael bertanya, “Kamu mau aku kasih saran, atau kamu cuma butuh didengarkan dulu?”

Rachel tersenyum.

“Didengarkan dulu, boleh?”

Kael mengangguk. “Boleh.”

Mereka melanjutkan percakapan tanpa terburu-buru mencari jalan keluar.

Di tengah percakapan itu, Rachel menatapnya dan berkata, “Kamu kelihatan sedikit lebih lega sekarang.”

Kael berpikir sebentar sebelum menjawab.

“Mungkin karena aku mulai berhenti berpura-pura kalau aku selalu kuat.”

“Bagus, dong.”

“Tapi aku masih sering bingung.”

“Bingung tentang apa?”

Kael menatap kedua tangannya.

“Banyak hal. Tentang masa depan, tentang diriku sendiri, tentang apa yang sebenarnya aku inginkan. Kadang aku masih merasa tertinggal. Kadang aku juga masih merasa enggak cukup baik.”

Ia tersenyum tipis.

“Tapi sekarang aku tahu kalau aku enggak harus menyelesaikan semuanya malam ini.”

Rachel mengangguk pelan.

Kael melanjutkan, “Dulu aku pikir, kalau aku bisa menguatkan orang lain, berarti aku harus bisa melakukan hal yang sama kepada diriku sendiri. Aku pikir, kalau aku tahu semua nasihat yang benar, seharusnya aku juga tahu bagaimana cara menjalani hidupku.”

Ia berhenti sejenak.

“Ternyata, memahami sesuatu dan mampu melewatinya itu dua hal yang berbeda.”

Rachel tidak mengatakan apa-apa. Ia membiarkan Kael menyelesaikan kalimatnya.

“Sekarang aku mulai mengerti kalau aku enggak harus selalu jadi orang yang punya jawaban. Aku juga boleh bertanya. Aku boleh minta ditemani. Aku boleh enggak tahu harus ke mana, tanpa harus menganggap diriku gagal.”

Angin sore melewati mereka.

Untuk beberapa saat, keduanya hanya memandang langit yang perlahan berubah gelap.

Kael tidak tahu apakah beberapa bulan ke depan akan terasa lebih mudah. Ia tidak tahu apakah semua luka yang tersimpan di dalam dirinya akan benar-benar pulih, atau apakah suatu hari ia akan kembali menemukan dirinya duduk sendirian dengan pikiran yang terlalu bising.

Namun, kali ini ia tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Ia mulai mengerti bahwa menjadi cahaya bagi orang lain bukan berarti dirinya harus terus menyala tanpa henti. Bahkan cahaya pun membutuhkan sumber untuk menerangi dirinya kembali.

Dan manusia, betapapun kuatnya ia terlihat, tetap membutuhkan ruang untuk menjadi rapuh.

Mungkin, itulah yang selama ini tidak ia pahami.

Bahwa ia boleh menjadi seseorang yang menguatkan orang lain tanpa harus mengorbankan dirinya sendiri. Bahwa ia boleh menjadi tempat bercerita tanpa harus menutup seluruh pintu menuju hatinya. Bahwa ia tidak perlu menunggu sampai benar-benar hancur untuk mengakui bahwa dirinya membutuhkan pertolongan.

Sebab, tidak ada yang salah dengan menjadi seseorang yang membutuhkan cahaya.

Epilog — Tembok yang Tidak Lagi Menjadi Penjara

Malam itu, Kael kembali ke kamarnya dan membuka buku kecil yang selalu ia bawa.

Ia membaca beberapa halaman sebelumnya. Tentang hari-hari ketika ia merasa tidak memiliki arah. Tentang ketakutan yang tidak pernah berani ia ucapkan. Tentang dirinya yang begitu sibuk menguatkan orang lain, sampai tidak menyadari bahwa ia sendiri sedang kehabisan tenaga.

Ia tidak merasa malu membaca semua itu.

Ia juga tidak ingin berpura-pura bahwa dirinya telah sepenuhnya pulih.

Beberapa luka masih ada. Beberapa pertanyaan masih belum menemukan jawaban. Ada hal-hal yang mungkin membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk dipahami, apalagi diterima.

Namun, ia tidak lagi memandang semua itu sebagai bukti bahwa dirinya lemah.

Ia mengambil pena dan menulis di halaman terakhir:

Barangkali, selama ini aku terlalu sibuk menjadi cahaya bagi orang lain sampai lupa bahwa diriku sendiri juga membutuhkan terang.

Aku pandai menenangkan hati orang lain, tetapi sering kebingungan menghadapi luka dalam diriku. Aku tahu banyak cara untuk menguatkan seseorang yang hampir menyerah, tetapi tidak selalu tahu bagaimana mengucapkan kalimat yang sama kepada diriku sendiri.

Aku pernah mengira bahwa menjadi kuat berarti tidak membutuhkan siapa-siapa. Bahwa menjadi dewasa berarti mampu menyelesaikan semuanya seorang diri. Bahwa meminta pertolongan adalah pengakuan bahwa aku telah gagal menjaga diriku sendiri.

Ternyata, aku keliru.

Tidak semua kesedihan harus kutanggung sendirian. Tidak semua luka harus kupahami hari ini. Dan tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban sebelum aku berani melanjutkan hidup.

Untuk waktu yang lama, aku membangun tembok di dalam dadaku. Di sana, kusimpan segala hal yang tidak sanggup kuceritakan. Kubiarkan semuanya menumpuk sampai aku sendiri kesulitan menemukan jalan keluar.

Tapi sekarang aku tahu, aku tidak harus terus tinggal di balik tembok itu.

Aku boleh membuka pintunya. Aku boleh membiarkan seseorang masuk. Dan ketika dunia terasa terlalu berat, aku boleh meminta seseorang duduk di sampingku, tanpa harus merasa bersalah karena belum mampu berdiri sendiri.

Barangkali, inilah caraku belajar pulang.

Bukan pulang kepada seseorang yang selalu memiliki jawaban, bukan pula kepada versi diriku yang tidak pernah menangis.

Melainkan pulang kepada diriku sendiri—yang selama ini terlalu sering kutinggalkan demi memastikan orang lain tidak merasa sendirian.

Kael menutup bukunya.

Di luar jendela, malam masih gelap. Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba berubah. Tidak ada keajaiban yang menghapus seluruh kesedihan dalam semalam.

Hanya ada seorang laki-laki yang mulai belajar menerima dirinya sendiri, bahkan ketika ia belum sepenuhnya memahami siapa dirinya dan ke mana hidup akan membawanya.

Dan untuk malam itu, ia tidak membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk tetap tinggal bersama dirinya sendiri.

Sebab, pada akhirnya, tembok ratapan yang paling sunyi bukanlah tembok yang berdiri di suatu tempat, melainkan tembok yang kita bangun di dalam dada—tempat kita menyembunyikan air mata, menahan kata-kata, dan mengurung segala luka karena takut dianggap tidak cukup kuat.

Kita mengira tembok itu melindungi kita.

Padahal, semakin lama kita bersembunyi di baliknya, semakin sulit pula kita menemukan jalan untuk pulang.

Maka, jika suatu hari nanti Kael kembali merasa lelah, ia berharap bisa mengingat satu hal sederhana:

Ia tidak harus selalu menjadi cahaya.

Sesekali, ia boleh menjadi seseorang yang duduk dalam gelap, mengakui bahwa dirinya takut, lalu membiarkan orang lain menemaninya menemukan jalan.

Karena terkadang, keberanian terbesar bukanlah kemampuan untuk menguatkan semua orang.

Melainkan keberanian untuk berkata, dengan suara yang mungkin gemetar:

“Kali ini, aku juga butuh dikuatkan.”

TOPIK ARTIKEL
REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.