PC IMM Surabaya
LIPUTAN 14 OCT 2026

Cendekiawan Institute dan RPK IMM Surabaya Inisiasi Halte Cendekia

IMM Surabaya bersama Cendekiawan Institute menghadirkan Halte Cendekia sebagai ruang diskusi dan pengembangan keilmuan kader melalui kajian pemikiran Sigmund Freud.

Cendekiawan Institute dan RPK IMM Surabaya Inisiasi Halte Cendekia

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Surabaya bersama Cendekiawan Institute menggelar Halte Cendekia dengan mengkaji pemikiran Sigmund Freud, Ahad (11/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan budaya keilmuan di lingkungan IMM Surabaya melalui ruang diskusi dan kajian tokoh.

Mengangkat tema “Membaca Sigmund Freud: Manusia, Kesadaran, dan Kehidupan Modern”, forum tersebut menghadirkan Affan Firdaus dari Cendekiawan Institute sebagai pemantik diskusi. Pembahasan meliputi biografi singkat Freud, latar belakang pemikirannya, hingga relevansi gagasannya dalam memahami dinamika manusia.

Affan menilai pemikiran Freud menarik untuk dikaji karena berkaitan dengan bidang studinya, yakni psikologi. Menurutnya, gagasan Freud membantu pembaca memahami dinamika kepribadian melalui penjelasan yang relatif mudah dipahami.

“Pemikirannya juga masih relevan untuk saat ini meskipun banyak juga yang menentang pemikirannya terutama mengenai psikoseksual,” ujarnya.

Membahas Kesadaran dan Dinamika Kepribadian

Diskusi tidak hanya membahas teori Freud, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari peserta. Pengalaman tersebut menjadi bahan percakapan untuk memahami konsep tingkat kesadaran manusia yang diperkenalkan dalam kajian.

Dalam prosesnya, peserta turut membahas penggunaan istilah-istilah yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, tetapi memiliki pengertian berbeda ketika digunakan dalam kerangka teori tertentu. Salah satu yang mengemuka ialah istilah ego dalam pemikiran Freud.

Irhaq, salah satu peserta, menekankan pentingnya memahami konteks ketika menggunakan istilah sebagai contoh dalam diskusi. Menurutnya, istilah ego dalam teori Freud perlu dibedakan dari kata egois yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Dalam teori Freud, ego merupakan salah satu struktur kepribadian. Karena itu, konsep tersebut tidak dapat begitu saja disamakan dengan sifat egois yang umumnya merujuk pada kecenderungan mementingkan diri sendiri.

Perbedaan pemahaman istilah tersebut memperlihatkan pentingnya ketelitian dalam membaca pemikiran tokoh. Pemahaman terhadap sebuah teori tidak cukup hanya dengan mengenali istilahnya, tetapi juga perlu memperhatikan konteks dan pengertian yang digunakan oleh pemikir yang bersangkutan.

Membangun Ruang Keilmuan di IMM Surabaya

Halte Cendekia diinisiasi oleh Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) IMM Cabang Surabaya bersama Cendekiawan Institute sebagai ruang bagi kader dan peserta yang memiliki minat pada pengembangan keilmuan. Kegiatan ini juga dikolaborasikan dengan sosialisasi website IMM Cabang Surabaya dan mekanisme pengiriman tulisan.

Setelah diskusi, Affan menyarankan peserta membaca pengantar mengenai tokoh yang akan dikaji sebelum mengikuti forum serupa. Persiapan tersebut diharapkan dapat membantu peserta memahami pembahasan dan menyusun pertanyaan yang lebih mendalam selama diskusi.

Ketua Bidang RPK IMM Cabang Surabaya, Huda, berharap Halte Cendekia dapat terus berlanjut dan menghadirkan forum-forum kajian berikutnya.

“Harapannya, Halte Cendekia tidak berhenti pada diskusi pertama ini. Kami ingin menghadirkan halte-halte berikutnya sebagai ruang bagi kader untuk belajar, bertukar gagasan, dan memperkaya budaya keilmuan IMM, khususnya di Kota Surabaya,” ujarnya.

Melalui Halte Cendekia, IMM Surabaya berupaya menghadirkan ruang belajar yang tidak berhenti pada pengenalan gagasan tokoh, tetapi juga mendorong peserta memahami konteks pemikiran dan mendiskusikannya secara kritis. Keberlanjutan forum ini diharapkan dapat memperkuat tradisi intelektual kader dalam membaca persoalan manusia dan kehidupan modern. (*)

TOPIK ARTIKEL
REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.