Dalam diam, aku memainkan halaman karpet lusuh itu.
Samar-samar, suara khotbah bergema di siang terik:
“Wahai sekalian manusia yang patah hati …”
Aku terperanjat mendengar sindiran itu.
“Dahulu, Nabi Musa berkata kepada Tuhan-Nya, ‘Wahai Tuhan, ke mana aku harus mencari-Mu?’”
Mataku melotot, telingaku mekar,
menangkap kata-kata filosofis dari khatib bernada sumbang itu.
“Wahai hamba-Ku, carilah Aku di antara orang-orang yang patah hati …”
Aku melonjak, terkejut, dan hatiku berdesir hebat.
Ternyata, ini bukan sekadar sindiran … ini tamparan keras!
Sebab, di antara patah hati,
hanya ada dua pilihan:
kembali mengingat nama-Nya,
atau makin tenggelam melupakannya.
Ya Tuhan…(*)
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.