PC IMM Surabaya
SASTRA 08 OCT 2026

Tamparan dari Mimbar Jumat

Sebuah teguran dari mimbar Jumat menyentak hati yang patah, mengingatkan bahwa luka dapat menjadi jalan untuk kembali kepada-Nya atau justru menjauh dari-Nya.

Tamparan dari Mimbar Jumat

Dalam diam, aku memainkan halaman karpet lusuh itu.

Samar-samar, suara khotbah bergema di siang terik:

“Wahai sekalian manusia yang patah hati …”

Aku terperanjat mendengar sindiran itu.

“Dahulu, Nabi Musa berkata kepada Tuhan-Nya, ‘Wahai Tuhan, ke mana aku harus mencari-Mu?’”

Mataku melotot, telingaku mekar,
menangkap kata-kata filosofis dari khatib bernada sumbang itu.

“Wahai hamba-Ku, carilah Aku di antara orang-orang yang patah hati …”

Aku melonjak, terkejut, dan hatiku berdesir hebat.

Ternyata, ini bukan sekadar sindiran … ini tamparan keras!

Sebab, di antara patah hati,
hanya ada dua pilihan:
kembali mengingat nama-Nya,
atau makin tenggelam melupakannya.

Ya Tuhan…(*)

TOPIK ARTIKEL
REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
LANJUT MEMBACA

Gagasan
terkait.

SEMUA ARTIKEL ↗