PC IMM Surabaya
SASTRA 15 OCT 2026

Sulur-Sulur yang Enggan Mati

Saat rindu ditempa jadi senjata dan luka bertukar menjadi pusaka, di situlah aku tak lagi tahu: apakah aku sedang menyembah hadirmu, atau merayakan kehancuranku sendiri bersamamu?

Sulur-Sulur yang Enggan Mati

Mungkin engkau akan terpaku ragu,

namun cinta dan benci mampu tumbuh selaras dalam satu tangkai jiwa,

saling membelit bagai sulur malam yang tak mau mengalah.

Tak ada yang redup, tak ada yang benar-benar sirna;

keduanya bertahta, sama megahnya, sama tajamnya.

Di antara jelaga duka dan hangatnya pelukan,

mereka menari dalam riak dada yang bergemuruh.

Menempa rindu menjadi senjata, menukar luka menjadi pusaka.

Hingga aku lupa, apakah aku sedang menyembah hadirmu,

atau justru merayakan kehancuranku sendiri bersamamu? (*)

REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
LANJUT MEMBACA

Gagasan
terkait.

SEMUA ARTIKEL ↗