Mungkin engkau akan terpaku ragu,
namun cinta dan benci mampu tumbuh selaras dalam satu tangkai jiwa,
saling membelit bagai sulur malam yang tak mau mengalah.
Tak ada yang redup, tak ada yang benar-benar sirna;
keduanya bertahta, sama megahnya, sama tajamnya.
Di antara jelaga duka dan hangatnya pelukan,
mereka menari dalam riak dada yang bergemuruh.
Menempa rindu menjadi senjata, menukar luka menjadi pusaka.
Hingga aku lupa, apakah aku sedang menyembah hadirmu,
atau justru merayakan kehancuranku sendiri bersamamu? (*)
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.