PC IMM Surabaya
PERSPEKTIF 25 AUG 2026

Sebelum Bicara IMM Masa Depan

IMM masa depan tidak cukup dibangun melalui visi besar, tetapi harus dimulai dari pembenahan kaderisasi dan penguatan tradisi intelektual.

Sebelum Bicara IMM Masa Depan

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dihadapkan pada tuntutan untuk terus beradaptasi di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. Sebagai organisasi kader, IMM diharapkan mampu melahirkan generasi yang unggul, progresif, dan mampu mengisi ruang-ruang strategis bangsa di masa depan. Narasi tentang IMM masa depan pun terus digaungkan, mulai dari kader unggul, gerakan progresif, hingga kontribusi nyata dalam ruang-ruang kebijakan.

Semua itu tentu terdengar visioner dan ideal. Namun, di tengah optimisme tersebut, ada pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri: relevankah kita terus membicarakan IMM masa depan ketika sejumlah persoalan IMM hari ini belum benar-benar tuntas?

Pertanyaan ini bukan untuk menolak gagasan tentang IMM masa depan. Sebaliknya, membicarakan masa depan merupakan bagian penting dari ikhtiar untuk memastikan keberlanjutan gerakan. Namun, masa depan tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia merupakan akumulasi dari apa yang kita kerjakan hari ini. Jika fondasi yang dibangun hari ini lemah, maka sebesar apa pun visi yang dirancang, masa depan yang diharapkan akan sulit berdiri kokoh.

Hari ini kita dapat melihat IMM tetap menjalankan berbagai aktivitas. Forum diskusi digelar, kaderisasi berlangsung, dan regenerasi kepengurusan terus berjalan. Secara kasat mata, organisasi tampak hidup dan bergerak. Namun, keberhasilan gerakan tidak semestinya hanya diukur dari jumlah kegiatan, banyaknya peserta, atau seberapa sering agenda dilaksanakan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang berubah dalam diri kader setelah seluruh proses tersebut berlangsung?

Kita perlu melihat kembali apakah setiap proses kaderisasi benar-benar meningkatkan kapasitas kader, apakah forum diskusi melahirkan gagasan dan tindakan, serta apakah regenerasi mampu menyiapkan pemimpin yang sanggup membawa IMM menjawab persoalan zaman.

Kesibukan tidak selalu berarti kemajuan. Banyaknya agenda tidak otomatis menunjukkan kuatnya gerakan. IMM perlu bergerak dari sekadar mengejar kuantitas menuju gerakan yang memiliki substansi dan dampak.

Pesan Djazman Al-Kindi dalam Sistem Perkaderan IMM 2025 menjadi relevan untuk direnungkan: “Pengembangan Organisasi IMM akan berorientasi kepada kualitas anggota daripada sekadar memperbesar jumlahnya.” Pesan tersebut mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan IMM tidak berhenti pada bertambahnya jumlah kader, tetapi pada meningkatnya kualitas kader yang dihasilkan.

Kaderisasi Stagnan: Sirkulasi Kepengurusan atau Mencetak Pemimpin?

Salah satu pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah: apakah regenerasi yang berlangsung di IMM benar-benar melahirkan pemimpin, atau sekadar memastikan pergantian kepengurusan tetap berjalan?

Setiap periode, baik di tingkat komisariat maupun jenjang organisasi di atasnya, regenerasi merupakan sesuatu yang niscaya. Struktur berganti, kepengurusan diperbarui, dan kader-kader baru mendapatkan kesempatan untuk mengambil peran. Namun, regenerasi seharusnya tidak berhenti pada pergantian individu yang menduduki jabatan.

Pemimpin bukan sekadar seseorang yang berada di posisi paling atas dalam struktur organisasi. Suradinata (1997) menjelaskan bahwa pemimpin adalah seseorang yang memimpin kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih serta memiliki kemampuan mengendalikan, mengarahkan, dan memengaruhi pikiran, perasaan, maupun perilaku orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, kaderisasi seharusnya tidak hanya mempersiapkan siapa yang akan menduduki posisi tertentu, tetapi juga siapa yang memiliki kapasitas untuk menjalankan amanah tersebut. Jika kaderisasi hanya dipahami sebagai sirkulasi kepengurusan, organisasi berisiko lebih sibuk memikirkan siapa yang menjadi pengurus daripada pemimpin seperti apa yang sedang dibentuk.

IMM membutuhkan pemimpin yang memiliki visi, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca situasi, serta kesanggupan menerjemahkan gagasan menjadi gerakan yang terarah. Pemimpin yang dibutuhkan bukan hanya mereka yang mampu menjalankan rutinitas organisasi, tetapi juga mereka yang mampu membawa organisasi menghadapi perubahan dan menjawab persoalan masyarakat.

Di sinilah kaderisasi perlu kembali diperkuat. Kaderisasi bukan sekadar proses untuk mengisi struktur, melainkan proses pembentukan manusia yang memiliki kapasitas kepemimpinan, integritas, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

Krisis dalam kaderisasi pada akhirnya bukan hanya persoalan struktur organisasi. Ia menyentuh identitas IMM sebagai organisasi kader yang menjadikan intelektualitas sebagai salah satu kekuatannya. Ketika proses kaderisasi tidak cukup melahirkan kader yang mampu membaca realitas, merumuskan gagasan, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan pilihannya, maka kaderisasi kehilangan sebagian dari tujuan utamanya.

Karena itu, pergantian kepengurusan harus menjadi konsekuensi dari kaderisasi, bukan tujuan akhir kaderisasi.

Ketika Intelektualitas Menjadi Identitas

Intelektualitas dalam tubuh IMM tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan religiusitas dan humanitas sebagai dasar dalam menjalankan peran keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan (Haq, 2023).

IMM memiliki tradisi membaca, berpikir, berdiskusi, menulis, serta merespons berbagai persoalan sosial dan kebangsaan. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: sejauh mana tradisi tersebut benar-benar hidup dalam keseharian kader?

Menjadi organisasi intelektual tentu tidak cukup hanya dengan membaca buku, mengikuti diskusi, atau menghasilkan tulisan. Intelektualitas seharusnya tercermin dalam kemampuan kader membaca realitas, memahami persoalan, menyusun gagasan, dan menghadirkan alternatif penyelesaian.

Forum diskusi yang digagas IMM tentu penting. Tetapi jangan sampai diskusi hanya menjadi ruang untuk menunjukkan siapa yang paling banyak membaca atau paling menguasai teori. Setelah forum selesai, seharusnya ada sesuatu yang lahir: gagasan, sikap, pengetahuan, atau tindakan.

Diskusi dapat dilanjutkan dengan menulis, melakukan riset sederhana, menyusun rekomendasi kebijakan, mengadakan pendidikan publik, maupun menjalankan pendampingan masyarakat. Dengan begitu, diskusi tidak berhenti sebagai aktivitas intelektual individual, tetapi berkembang menjadi produksi pengetahuan dan gerakan sosial.

Sebab, intelektualitas yang tidak berujung pada tindakan akan kehilangan sebagian dari daya transformasinya.

Kader IMM diharapkan mampu memberikan jawaban ketika masyarakat menghadapi persoalan. Ketika kebijakan publik tidak berpihak pada kepentingan rakyat, kader juga dituntut mampu mengambil sikap. Gerakan intelektual IMM semestinya tidak berhenti pada aktivitas akademik, tetapi diarahkan pada pembentukan kesadaran profetik dan transformasi sosial yang berkeadilan (Sani, 2011).

Dengan demikian, intelektualitas bukan sekadar penguasaan teori atau kemampuan berbicara dalam forum. Intelektualitas juga berarti keberanian menyuarakan kebenaran, mendampingi mereka yang membutuhkan keberpihakan, dan menghadirkan gagasan alternatif untuk menjawab persoalan.

Kader intelektual adalah mereka yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan tindakan. Dari diskusi lahir gagasan, dari gagasan lahir sikap, dan dari sikap lahir gerakan.

Pada titik itulah identitas intelektual IMM tidak sekadar menjadi warisan sejarah, tetapi tetap hidup dan relevan dalam menjawab persoalan zaman.

Diaspora Kader: Jalan Pengabdian atau Kepentingan?

IMM harus tetap berada di garda terdepan dalam menyuarakan kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan mengawal kepentingan masyarakat. Nilai-nilai tersebut menjadi penting ketika kader kemudian meninggalkan ruang organisasi dan memasuki ruang pengabdian yang lebih luas.

Membicarakan IMM masa depan tentu tidak dapat dilepaskan dari bagaimana kader mampu mengisi ruang-ruang strategis, termasuk ruang kebijakan publik. Kehadiran kader di berbagai bidang profesi, pemerintahan, politik, pendidikan, dunia usaha, maupun masyarakat sipil dapat menjadi bagian dari upaya memperluas kebermanfaatan gerakan.

Namun, diaspora kader tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak kader yang berhasil menempati posisi strategis.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: nilai apa yang dibawa oleh kader ketika memasuki ruang tersebut?

Diaspora akan kehilangan maknanya apabila IMM hanya dijadikan batu loncatan untuk mencapai ambisi pribadi. Sebaliknya, diaspora memiliki makna ketika kader mampu membawa nilai, gagasan, dan etika yang diperoleh selama berproses di IMM ke tempat ia mengabdi.

Karena itu, keberhasilan diaspora tidak cukup diukur dari jumlah kader yang menduduki jabatan penting. Ia juga harus dilihat dari kemampuan kader menjaga integritas, memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta menerapkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan dalam setiap keputusan dan tindakan.

Kader IMM yang memasuki ruang kekuasaan seharusnya tidak hanya menjadi individu yang memiliki kewenangan. Lebih dari itu, ia harus mampu menggunakan kewenangan tersebut sebagai amanah dan sarana pengabdian.

Kekuasaan tidak semestinya menjadi tujuan akhir diaspora. Ia adalah ruang untuk memperluas kebermanfaatan.

Karena itu, diaspora kader IMM seharusnya menjadi sarana perluasan manfaat dan pengabdian, bukan sekadar perpindahan individu dari ruang organisasi menuju ruang kekuasaan.

Pada akhirnya, diaspora tidak diukur dari seberapa jauh kader meninggalkan IMM, melainkan dari seberapa besar nilai-nilai IMM mampu dibawa, diwujudkan, dan diperjuangkan di ruang tempat kader tersebut berkiprah.

Jika kader mampu menghadirkan keadilan, kebermanfaatan, integritas, dan keberpihakan kepada masyarakat, maka di situlah diaspora menemukan maknanya.

Sebelum Berbicara IMM Masa Depan

Kita boleh berbicara tentang IMM masa depan. Kita bahkan harus memikirkannya. Namun, sebelum melangkah terlalu jauh, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan melihat IMM hari ini.

Jangan sampai kita terlalu sibuk membicarakan visi besar, sementara persoalan-persoalan mendasar dalam organisasi belum selesai kita benahi. Jangan sampai kita berbicara tentang kader unggul, tetapi proses kaderisasi masih lebih sibuk mengejar sirkulasi kepengurusan. Jangan sampai kita mengklaim tradisi intelektual, tetapi diskusi berhenti ketika forum selesai. Jangan sampai kita berbicara tentang diaspora, tetapi lupa mempertanyakan nilai apa yang dibawa kader ketika memasuki ruang pengabdian.

Persoalannya bukan apakah kita perlu membicarakan IMM masa depan. Persoalannya adalah apakah kita sudah cukup serius membangun IMM hari ini agar layak memiliki masa depan.

Masa depan IMM tidak dibangun dari visi yang indah semata. Ia dibangun dari kaderisasi yang mampu melahirkan pemimpin, intelektualitas yang menghasilkan pengetahuan dan tindakan, serta diaspora yang membawa nilai-nilai IMM ke ruang pengabdian.

Karena itu, masa depan IMM pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa besar keinginan kita agar IMM menjadi sesuatu, tetapi tentang seberapa besar kemampuan kita menjadikan IMM sebagai kekuatan yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan Persyarikatan.

Eksistensi bukan tujuan. Jabatan bukan ukuran utama. Banyaknya agenda bukan pula satu-satunya indikator keberhasilan.

Yang lebih penting adalah apakah kader yang lahir dari IMM mampu membawa perubahan di ruang tempat mereka berada.

Sebab IMM masa depan tidak sedang menunggu untuk ditemukan. Ia sedang dibentuk oleh apa yang kita lakukan hari ini. (*)

Editor: M. Tanwirul Huda

 

TOPIK ARTIKEL
REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.