IMM Alqossam
PERSPEKTIF 25 AUG 2026

Membaca IMM Surabaya dalam Tiga Babak

Melihat perjalanan IMM Surabaya dalam tiga babak, dari spirit perjuangan, persoalan regenerasi, hingga tantangan budaya organisasi.

Membaca IMM Surabaya dalam Tiga Babak

Memikirkan IMM Surabaya hari ini mungkin bisa dikatakan sebagai suatu aktivitas yang begitu absurd. Iya, seperti halnya kebanggaan-kebanggaan yang terus diwariskan di tiap sambutan atau orasi-orasi gahar hasil "sudah dibayar". Pribadi sendiri juga sering mendengar banyak satire dan anekdot tentang kondisi IMM di Surabaya, meski pada akhirnya isunya tetap itu-itu saja. Oleh karenanya, pribadi ingin berbagi refleksi yang barangkali dapat dibaca dikala sedang tidak ada agenda, sebelum kembali meminta arahan "kanda".

Sekilas tentang Gagasan ‘Urwah al-Wusqa

Dalam satu jejak sejarah, nama al-‘Urwah al-Wusqa hadir sebagai fajar intelektual umat Islam di abad ke-19. Nama tersebut digunakan sebagai identitas organisasi yang didirikan oleh Jamaludin al-Afghani beserta sahabatnya, Muhammad Abduh. Organisasi ini pun juga beranggotakan para elit intelektual dari berbagai negara Islam–beberapa juga dari kalangan sahabat dan murid mereka berdua sebagai anggotanya. Melalui organisasi inilah lahir pula majalah dengan nama yang sama dan berisi gagasan-gagasan revolusioner pada zamannya.

Nama al-‘Urwah al-Wusqa sendiri terinspirasi dari satu ayat yang ada dalam al-Qur’an, yaitu surah al-Baqarah ayat 256 (al-Afghani dan Abduh, 2000: 24). Filosofi dari nama organisasi ini sendiri sebagaimana dalam mukadimah majalah al-‘Urwah al-Wusqa telah memberikan gambaran tentang cita-cita persatuan umat Islam (baca: Pan-Islamisme), ketaatan pada agama, serta perjuangan dalam upaya melawan tiran–imperialisme Barat dan dominasinya–bagi dunia Islam. Kendati demikian, organisasi ini tetap bersikap terbuka dengan siapa saja yang dinilai mampu mendukung misi utama mereka sekalipun dari kalangan politisi Eropa.

Ikhtiar al-Afghani dan Abduh benar-benar secara total dalam memviralkan narasi perlawan terhadap ekspansi Eropa melalui solidaritas di antara sesama muslim, serta pembaruan dan reformasi Islam (Campo, 2009: 6). Mereka berdua memiliki pandangan yang sama kala itu, di mana kondisi umat Islam diliputi oleh stagnasi dan sikap taklid buta khususnya terhadap tradisi yang sudah kuno. Oleh sebab itu, gagasan untuk mengajak umat Islam ke arah interpretasi yang lebih rasional dan modern menjadi tujuan utama bagi al-Afghani dan Abduh di tengah kondisi yang penuh gaduh.

Sayangnya, upaya perlawanan al-Afghani dan Abduh tetap memiliki jalan terjalnya sendiri. Mulai dari penahanan, pengasingan, hingga larangan penyebaran majalah ‘Urwah al-Wusqa telah dirasakan oleh mereka dalam proses dakwah yang tak selalu mudah. Namun, pikiran tetaplah pikiran, upaya mereka tetaplah abadi di setiap generasi yang masih mengamini. Dari Rasyid Rida ke Ahmad Dahlan hingga sampai ke kader-kader Ikatan, ide besar mereka masih layak untuk dilanjutkan, tentu dengan cara-cara yang lebih relevan.

Satu yang menjadi pertanyaan. Mampukah ‘Urwah al-Wusqa hari ini kembali dihidupkan oleh kader Ikatan? Sebab, banyak sekali paradoksikal di tubuh Ikatan, mulai dari krisis kepemimpinan, hilangnya spirit intelektual, hingga lemahnya persaudaraan. Jangan-jangan kader Ikatan hari ini justru seperti apa yang dikatakan oleh Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya, bahwa “al-Islam mahjubun bi al-muslimin (Islam tertutup oleh kaum muslimin sendiri)” (Hariri, 2018: 122). Terdengar seperti satire yang lembut dari kakek buyut kepada cucu-cucu imut yang gampang diiming-imingi permen Hot Hot Pop untuk diemut.

Apa yang Penting dalam Regenerasi?

Berbicara mengenai regenerasi, setiap organisasi kiranya perlu untuk mempertanyakan kembali tentang “ikatan” di dalamnya sejauh ini. Dalam hal ini, kiranya bisa menjadi sebuah tawaran untuk kembali membaca konsep ikatan dalam suatu kelompok dari Ibnu Khaldun. Ikatan dalam gagasannya mahsyur dikenal dengan istilah ‘ashabiyah, yaitu suatu istilah yang diartikannya sebagai kelompok di mana manusia merasakan keterhubungan paling erat di dalamnya yang dapat terjalin melalui aktivitas bersama yang lama dan hubungan antaranggota (Khaldun, 2019).

Definisi yang lain mengatakan bahwa ‘ashabiyah merupakan keharmonisan sosial yang kuat dengan menitikberatkan pada kesamaan perasaan, kesadaran bersama, keselarasan, serta rasa kebersatuan dalam kelompok (Arfaq dkk., 2020: 33). ‘Ashabiyah juga dapat dipahami sebagai solidaritas sosial yang menitikberatkan pada kesadaran kolektif, kohesi dan kesatuan (Esposito, 2009: 219).

Dalam gagasan ini, Ibnu Khaldun menyatakan bahwa kunci kekuatan utama dalam memperoleh kekuasaan adalah dengan adanya solidaritas sosial yang kuat. Sebaliknya, ketika solidaritas sosial suatu kelompok mulai melemah karena adanya kemewahan dan sikap individualistik, maka kekuatannya perlahan akan memudar–dan bahkan lenyap dari peradaban.

Gagasan ‘ashabiyah ini kiranya dapat pula menjadi suatu pendekatan dalam meraba kondisi IMM Surabaya hari ini. Tentu sudah menjadi rahasia umum bahwa berkurangnya kader Ikatan di tiap pimpinan merupakan penyakit akut langganan. Banyak alasan yang dikaitkan, mulai dari agenda yang kian membosankan, banyaknya tuntutan formal tanpa ikatan emosional, sampai rasa takut dipilih menjadi ketua umum hanya karena dianggap “Si Paling Loyal”.

Selain itu, salah satu identitas IMM sebagai gerakan dakwah di kalangan mahasiswa dapat disorot pula, sebab setiap gerakan massa bagi Ibnu Khaldun perlu memerlukan ‘ashabiyah (Khaldun, 2019: 284-288). Hal ini pun sepatutnya menjadi renungan oleh setiap kader IMM di Surabaya karena ketika segala ikhtiar terasa begitu sia-sia jangan-jangan dari mereka telah mengabaikan pentingnya ‘ashabiyah. Misalnya saja saat di momen penyebaran proposal dana, kadang ada yang masih mager, ada juga yang malah fokus nge-kalcer, padahal sebagian lainnya masih tetap nekat nyebar sekalipun badannya mulai gemetar.

Memandang IMM Surabaya Hari Ini

Sejauh ini, IMM Surabaya telah memiliki setidaknya 36 pimpinan Komisariat yang membuatnya kerap dijuluki sebagai pimpinan cabang dengan jumlah naungan terbanyak se-dunia akhirat. Penulis sendiri juga tak jarang mendengar bahwa IMM Surabaya kerap menjadi tempat lahirnya gagasan, diskursus, dan kader pemikir yang menjadi rujukan banyak pimpinan cabang yang lain. Namun kini, label itu tampaknya perlu dipertanyakan ulang, sebab jangan-jangan yang tersisa hanyalah pengakuan-pengakuan yang telah usang.

Untuk memahami asumsi ini, penulis mengajak untuk memahami teori tiga lapisan budaya organisasi dari Edgar Schein untuk memandang IMM Surabaya hari ini. Pada lapisan terluar, ada istilah "artefak" yang bagi Schein dianggap sebagai fenomena yang dapat dilihat, didengar dan dirasakan dalam suatu kelompok atau organisasi (Schein, 2017: 29).

Artefak sendiri mencerminkan hal-hal yang tampak dan dapat diamati seperti kegiatan, simbol, dan kebiasaan yang berlaku di organisasi tersebut. Namun, Schein juga menegaskan bahwa tidak selalu apa yang dapat diamati kemudian secara otomatis menjelaskan makna budaya yang dianut dalam suatu kelompok benar-benar diamini oleh setiap anggota.

Lebih lanjut, Schein menyebut level kedua dari budaya organisasi dengan "espoused beliefs and values" yaitu keyakinan dan nilai yang dipegang. Lapisan ini seringkali berupa sebagai ideologi atau filosofi organisasi, yang kemudian berfungsi sebagai panduan untuk menghadapi ketidakpastian dari peristiwa-peristiwa yang pada dasarnya tidak terkendali atau sulit (Schein, 2017: 30).

Schein menerangkan bahwa nilai tersebut pada awalnya dapat berasal dari gagasan atau solusi yang ditawarkan seseorang ketika kelompok menghadapi persoalan dan ketika hal tersebut terbukti berhasil seringkali nilai tersebut pada akhirnya dapat diterima secara kolektif. Sayangnya, lagi-lagi Schein menggarisbawahi bahwa suatu nilai yang diklaim organisasi belum tentu selalu selaras dengan perilaku nyata, sehingga perlu dibedakan antara apa yang organisasi katakan sebagai nilai dan apa yang benar-benar tercermin dalam tindakan anggotanya.

Terakhir, level ketiga yakni basic underlying assumptions atau asumsi dasar yang mendasari perilaku seseorang dalam suatu organisasi. Lebih jelasnya, level ini terjadi jika sebuah solusi untuk suatu masalah berhasil secara berulang kali, maka solusi tersebut mulai dianggap sebagai hal yang wajar. Apa yang dulunya hanya hipotesis, yang didukung hanya oleh firasat atau nilai, secara bertahap diperlakukan sebagai kenyataan.

Pada akhirnya, sebuah nilai berubah menjadi asumsi dasar yang sulit dipertanyakan atau diubah karena telah tertanam kuat dan menghasilkan konsensus yang tinggi. Asumsi dasar inilah yang oleh Schein dipandang sebagai “DNA” budaya organisasi, di mana perubahan budaya yang mendalam harus menyentuh akar atau asumsi dasarnya, bukan sekadar mengubah artefak yang tampak di permukaan (Schein, 2017: 30-33).

Dari ketiga level budaya organisasi di atas, berbagai pencapaian yang melekat pada IMM Surabaya hari ini layak ditempatkan terlebih dahulu sebagai artefak budaya yang harus diuji lebih jauh maknanya. Predikat sebagai Pimpinan Cabang dengan jumlah komisariat terbanyak, masifnya iklim intelektual dan literasi, hingga solidnya gerakan advokasi seperti pengawalan isu PSN-SWL di kepemimpinan sebelumnya tentu menunjukkan adanya aktivitas dan kapasitas gerakan yang tetap perlu diapresiasi. Akan tetapi, bagi penulis sendiri pencapaian-pencapaian itu juga perlu untuk terus diragukan bersama-sama,.

Pertanyaan yang kiranya perlu direnungkan adalah tentang nilai apa yang mampu menjadikan IMM Surabaya disebut dengan predikat-predikat "keren" itu. Kemudian, apakah nilai-nilai tersebut telah diyakini dan menjadi asumsi dasar bagi seluruh kader IMM di Surabaya hari ini, sehingga mampu melahirkan pencapaian baru di setiap generasi.

Penulis sendiri justru meragukan, jangan-jangan di balik pencapaian gerakan yang tampak semarak dan terus dikumandangkan, semua itu hanya sekadar romantisme atas kejayaan masa lalu yang terus diwariskan sebagai kebanggaan tanpa mengusahakan capaian yang sepadan. Barangkali hari ini, yang tumbuh justru budaya epigon di mana kader lebih sibuk mengulang narasi tentang kehebatan generasi sebelumnya daripada menciptakan capaian yang lahir dari keberanian intelektual dan praksisnya sendiri bersama rekan-rekan sezamannya.

Jika benar demikian, penulis memandang IMM Surabaya hari ini bisa memulai untuk mendiskusikan hal-hal yang perlu dibenahi dalam budaya organisasi saat ini. Seperti kata Schein sebelumnya, apabila dikehendaki ada perubahan budaya tentu niat tersebut harus menyentuh asumsi dasarnya dengan meyakini bahwa menjadi kader IMM bukan sekadar aktif di kegiatan, melainkan bagian dari ikhtiar spiritual untuk senantiasa mengusahakan tujuan organisasi dengan sebaik-baiknya tindakan dan sebijak-bijaknya pikiran. Namun, jika IMM Surabaya masih merasa bangga hanya dengan banyaknya pimpinan Komisariat, penulis barangkali akan memandang organisasi ini hanyalah sekumpulan manusia yang sibuk mencari kenyangnya perut dan nyamannya pantat. (*)

TOPIK ARTIKEL
REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.