Ada sebuah rumah yang mestinya bukan sekadar tempat singgah untuk melepas lelah, melainkan tempat pulang yang aman dan nyaman. Di dalamnya, orang-orang dari akar yang sama saling menemukan, belajar bersama, tumbuh bersama, lalu membawa kebaikan dari rumah itu ke ruang yang lebih luas.
Tetapi, bagaimana jika rumah itu perlahan mulai sepi?
Sebagian penghuninya masih bertahan. Sebagian lainnya hanya sesekali singgah, lalu makin jarang terlihat. Bukan karena rumah itu tidak memiliki sejarah, bukan pula karena mereka tidak pernah merasa memilikinya. Di luar rumah, ada banyak ruang lain yang menawarkan pengalaman, perhatian, kesempatan, bahkan arah hidup baru.
Rumah itu adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Di lingkungan kampus, tidak sulit menemukan mahasiswa yang memiliki latar belakang Muhammadiyah, pernah aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), bersekolah di lembaga pendidikan Muhammadiyah, atau mengenal nilai-nilai Muhammadiyah sejak kecil. Namun, ketika memasuki perguruan tinggi, perjalanan mereka tidak selalu berlanjut ke IMM.
Sebagian memilih Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa (HIMA), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), komunitas, dunia akademik, pekerjaan, atau bahkan memilih tidak bergabung dengan organisasi apa pun.
Pilihan tersebut tentu bukan persoalan yang harus dipandang sebagai ancaman. Setiap mahasiswa memiliki kebebasan menentukan ruang belajar dan pengembangan dirinya. Dalam struktur Persyarikatan, IMM merupakan salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang memiliki fungsi pembinaan dan kaderisasi sesuai bidangnya. Muhammadiyah sendiri menjelaskan bahwa organisasi otonom dibentuk untuk membina warga Persyarikatan dan kelompok masyarakat tertentu dalam bidang kegiatan masing-masing. IMM termasuk di dalam tujuh organisasi otonom Muhammadiyah.
Justru karena pilihan ruang tumbuh semakin beragam, IMM perlu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa mahasiswa berlatar Muhammadiyah tidak selalu memilih IMM sebagai ruang pertumbuhannya?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan kader yang memilih jalan lain. Sebaliknya, pertanyaan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi IMM untuk bercermin.
Ketika Wajah IMM Tertukar dengan IPM
Ada mahasiswa yang ketika mendengar nama IMM langsung mengingat pengalaman organisasinya ketika sekolah.
"Dulu sudah ikut IPM."
"Dulu sudah OSIS."
"Sekarang harus berorganisasi lagi?"
Respons semacam itu tidak selalu lahir dari ketidakpedulian. Bisa jadi muncul karena IMM belum sepenuhnya berhasil memperkenalkan dirinya sebagai ruang yang memiliki karakter berbeda.
IPM dan IMM memang sama-sama berada dalam lingkungan Muhammadiyah, tetapi memiliki ruang kaderisasi yang berbeda. IPM bergerak dalam lingkungan pelajar, sedangkan IMM berada dalam lingkungan kemahasiswaan. Muhammadiyah secara resmi menempatkan keduanya sebagai organisasi otonom dengan karakteristik dan lingkup masing-masing.
Karena itu, IMM tidak cukup diperkenalkan sebagai kelanjutan jenjang organisasi setelah IPM. IMM perlu dikenalkan sebagai ruang baru bagi mahasiswa untuk mengembangkan cara berpikir, keilmuan, keislaman, kepemimpinan, dan pengabdian.
Hal tersebut sejalan dengan penekanan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Irwan Akib, M.Pd., pada Milad ke-62 IMM. Ia menegaskan bahwa watak kecendekiawanan harus melekat pada kader IMM dan menuntut ilmu menjadi bagian dari ruh perjuangan organisasi.
Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar bagaimana membuat mahasiswa tertarik masuk IMM. Yang lebih penting adalah bagaimana IMM menjelaskan mengapa ruang kemahasiswaan membutuhkan kehadiran IMM.
Mahasiswa tidak hanya membutuhkan organisasi untuk belajar mengadakan kegiatan. Mereka membutuhkan ruang untuk mempertanyakan ilmu yang dipelajari, membaca persoalan masyarakat, menguji gagasan, memahami nilai yang diyakini, serta menemukan bentuk kontribusi yang dapat dilakukan.
Jika perbedaan tersebut tidak mampu dijelaskan, IMM akan mudah dipersepsikan sebagai organisasi mahasiswa lain dengan nama dan identitas yang berbeda.
Ketika IMM Disamakan dengan Ormawa Kampus
Ada persoalan lain yang lebih halus: IMM disamakan begitu saja dengan organisasi mahasiswa kampus.
Rapat, kepanitiaan, program kerja, administrasi, laporan pertanggungjawaban, hingga pergantian kepengurusan memang menjadi bagian dari kehidupan organisasi. Namun, IMM tidak semestinya berhenti pada aktivitas kelembagaan.
BEM memiliki ruang untuk memperjuangkan aspirasi mahasiswa. HIMA memiliki ruang pengembangan keilmuan dan profesi. UKM menyediakan ruang bagi minat dan bakat. Kehadiran organisasi-organisasi tersebut tidak perlu dipertentangkan dengan IMM.
Pertanyaan yang lebih penting justru: apa identitas yang membuat IMM memiliki ruangnya sendiri?
PC IMM Surabaya saat ini memperkenalkan tiga nilai gerakan, yakni intelektualitas, religiusitas, dan humanitas. Ketiganya ditempatkan sebagai fondasi dalam membangun tradisi literasi dan gagasan, nilai Islam sebagai orientasi moral, serta kepedulian dan kontribusi terhadap masyarakat.
Artinya, identitas IMM semestinya tidak berhenti pada aktivitas organisasi. Ada proses pembentukan cara berpikir, nilai, dan keberpihakan yang hendak dibangun melalui kaderisasi.
Jika identitas tersebut tidak terasa dalam kehidupan kader, IMM berisiko dipahami hanya sebagai satu lagi organisasi kemahasiswaan.
Ketika Kader Tidak Lagi Menemukan Makna
Pernah muncul pertanyaan sederhana sekaligus jujur:
"Kalau saya masuk IMM, saya mendapatkan apa?"
Pertanyaan itu tidak semestinya dijawab dengan sinisme.
Mahasiswa memiliki banyak kebutuhan dan pilihan. Mereka harus menyelesaikan tuntutan akademik, membangun pengalaman profesional, mengikuti kompetisi, melakukan penelitian, bekerja, berorganisasi, atau mengembangkan kehidupan sosialnya.
Karena itu, sebelum memberikan komitmen kepada sebuah organisasi, sangat wajar apabila seorang mahasiswa ingin mengetahui apa yang akan diperoleh dan dipelajarinya.
Persoalannya, jawaban IMM tidak cukup jika hanya berupa "mendapat teman", "memperluas relasi", atau "belajar kepemimpinan". Semua itu juga dapat ditemukan di banyak ruang lainnya.
IMM perlu menawarkan ekosistem pertumbuhan.
Ruang tersebut sebenarnya dapat ditemukan dalam struktur kerja PC IMM Surabaya. Saat ini PC IMM Surabaya mencantumkan 16 bidang yang bergerak pada berbagai ruang, antara lain kaderisasi, keilmuan, kesehatan, sosial, lingkungan hidup, media dan komunikasi, hukum dan HAM, pengembangan bahasa dan potensi akademik, hingga pengembangan jaringan perguruan tinggi.
Dengan demikian, IMM bukan rumah dengan satu pintu.
Ada ruang bagi kader yang menyukai penelitian. Ada ruang bagi mereka yang ingin mengembangkan kapasitas akademik. Ada ruang bagi yang tertarik pada isu kesehatan, lingkungan, hukum, media, kewirausahaan, kebijakan publik, maupun pengabdian masyarakat.
Persoalannya kemudian bukan semata-mata apakah ruang tersebut tersedia, tetapi apakah kader mengetahui keberadaan dan akses terhadap ruang-ruang tersebut?
Kader Tidak Harus Tumbuh Hanya di Dalam Struktur
IMM juga perlu mengubah cara pandang terhadap kader yang aktif di ruang lain.
Kader yang maju di BEM tidak otomatis meninggalkan IMM. Kader yang aktif di HIMA tidak otomatis gagal menjadi kader. Begitu pula kader yang sibuk dengan penelitian, kompetisi, pekerjaan, kewirausahaan, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Kader yang berkembang di luar struktur IMM tetap dapat membawa nilai yang diperolehnya selama berproses di dalam organisasi.
Di sinilah kaderisasi seharusnya tidak dipahami hanya sebagai upaya mempertahankan seseorang agar terus berada dalam struktur. Kaderisasi juga dapat dimaknai sebagai proses menyiapkan seseorang agar mampu mengambil peran di berbagai ruang kehidupan.
Gagasan tentang pentingnya ruang tumbuh bagi kader juga pernah disampaikan Prof. Dr. Irwan Akib, M.Pd., dalam forum FOKAL IMM DIY pada Agustus 2026 lalu. Ia menekankan pentingnya memberikan ruang sekaligus tantangan kepada kader agar mereka terus berproses dan mengembangkan kapasitas diri.
Dengan demikian, kader yang aktif di ruang lain tidak selalu harus dipandang sebagai kehilangan.
Ia bisa menjadi tanda bahwa proses kaderisasi menemukan ruang aktualisasinya.
Rumah yang Membuka Banyak Pintu
Rumah yang baik tidak harus membuat seluruh penghuninya berada di ruangan yang sama sepanjang waktu.
Ada yang pergi belajar. Ada yang bekerja. Ada yang berdiskusi di tempat lain. Ada yang membangun usaha. Ada yang meneliti. Ada pula yang mengabdi kepada masyarakat.
Yang penting adalah rumah tersebut memberikan bekal yang cukup ketika penghuninya melangkah keluar.
Dalam konteks IMM, keberhasilan kaderisasi karena itu tidak semata-mata dapat diukur dari jumlah kader yang duduk dalam struktur. Yang juga penting adalah sejauh mana proses kaderisasi membentuk kemampuan kader untuk membaca persoalan, mengembangkan keilmuan, mengambil keputusan, bekerja bersama orang lain, dan memberikan manfaat.
PC IMM Surabaya sendiri menempatkan pendampingan setelah perkaderan formal, pengembangan kapasitas, dan regenerasi sebagai bagian dari fokus Bidang Kader.
Ini menunjukkan bahwa proses kaderisasi tidak harus berhenti ketika seseorang menyelesaikan tahapan formal perkaderan.
Justru setelah proses formal selesai, pertanyaan berikutnya menjadi penting: ke mana kader tersebut akan tumbuh?
Ketika Kepedulian Harus Hadir dalam Bentuk Nyata
Kaderisasi juga tidak cukup hanya berbicara tentang pembentukan karakter. Organisasi perlu menunjukkan kepedulian dalam bentuk yang dapat dirasakan kader.
Kader memiliki persoalan yang beragam. Ada yang kesulitan membagi waktu antara kuliah dan organisasi, ada yang membutuhkan ruang untuk mengembangkan kemampuan, ada yang sedang mencari pengalaman, dan ada pula yang membutuhkan pendampingan ketika menghadapi persoalan akademik maupun kehidupan organisasi. Tidak semuanya dapat diselesaikan oleh IMM, tetapi setidaknya organisasi perlu hadir untuk mendengar, menghubungkan, dan membuka jalan ketika kader membutuhkan dukungan.
Di sinilah kepedulian menjadi bagian dari kaderisasi. Kader tidak hanya dipanggil ketika organisasi membutuhkan tenaga untuk menjalankan program, tetapi juga perlu merasa bahwa organisasi hadir ketika mereka sedang membutuhkan ruang untuk berkembang.
Bentuknya tidak harus selalu berupa program besar. Pendampingan yang konsisten, informasi tentang beasiswa atau kompetisi, ruang diskusi, kesempatan terlibat dalam kegiatan sesuai minat, hingga kesediaan senior mendengarkan persoalan kader dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Kaderisasi pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana organisasi membentuk kader, tetapi juga bagaimana organisasi menyediakan lingkungan yang memungkinkan kader terus bertumbuh.
Tentu, tidak semua persoalan kader dapat diselesaikan oleh organisasi. Namun, setidaknya IMM dapat memastikan bahwa kader tidak merasa berjalan sendirian setelah melewati perkaderan formal.
Jangan Mengukur Kader Hanya dari Kehadirannya
Ada kecenderungan yang mudah muncul ketika sebuah organisasi kehilangan anggota aktif: mereka disebut tidak loyal, tidak berkomitmen, atau kurang militan.
Padahal, pertanyaan lain layak diajukan:
Apa yang membuat mereka tidak menemukan cukup alasan untuk tinggal?
Jawabannya mungkin ada pada banyak hal. Bisa jadi komunikasi organisasi belum cukup dekat. Bisa jadi kegiatan belum menjawab kebutuhan kader. Bisa pula setelah menyelesaikan perkaderan formal, kader tidak mengetahui ruang apa yang dapat dimasukinya.
Pertanyaan tersebut lebih sulit karena memaksa organisasi untuk melihat dirinya sendiri.
Kaderisasi yang kuat bukan berarti kader harus selalu berada dalam struktur. Ia juga berarti organisasi mampu menciptakan ruang agar kader dapat berkembang sesuai potensi dan kebutuhan masing-masing.
Jika seorang kader aktif di BEM, mungkin ia sedang belajar memimpin.
Jika ia berkembang di HIMA, mungkin ia sedang memperdalam keilmuan.
Jika ia melakukan penelitian, mungkin ia sedang membangun tradisi intelektual.
Jika ia mengikuti kompetisi, mungkin ia sedang menguji kapasitas.
Jika ia membangun usaha, mungkin ia sedang belajar mandiri.
Jika ia mengabdi kepada masyarakat, mungkin ia sedang menerjemahkan nilai kemanusiaan dalam tindakan.
Yang perlu ditanyakan bukan semata-mata apakah ia masih berada dalam struktur, tetapi apakah nilai dan kapasitas yang diperolehnya selama menjadi kader ikut tumbuh bersamanya.
Rumah yang Memberi Bekal, Bukan Beban
Mungkin sudah waktunya membayangkan IMM bukan hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi sebagai rumah dengan banyak pintu.
Pintu untuk belajar.
Pintu untuk berdiskusi.
Pintu untuk melakukan penelitian.
Pintu untuk mengembangkan kemampuan profesional.
Pintu untuk berorganisasi.
Pintu untuk mengabdi.
Bahkan, pintu bagi kader yang sedang lelah dan membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
IMM tidak harus memiliki seluruh jawaban. Namun, IMM perlu memiliki kemauan untuk membantu kader menemukan jalannya sendiri.
Rumah yang baik tidak memaksa seluruh penghuninya menjadi sama. Rumah yang baik membantu setiap penghuninya menemukan potensi terbaiknya.
Karena itu, ketika seorang kader ingin berkembang di BEM, HIMA, komunitas, dunia akademik, dunia profesional, atau masyarakat, IMM tidak harus langsung melihatnya sebagai kehilangan.
Bisa jadi justru di situlah bekal kaderisasi sedang diuji.
Sebelum Rumah Ini Sepi
Kita mungkin terlalu sibuk menghitung berapa kader yang masuk, berapa yang hadir dalam forum, berapa yang menjadi pengurus, dan berapa yang mengenakan atribut organisasi.
Padahal, ada pertanyaan yang lebih penting:
Berapa banyak kader yang benar-benar bertumbuh?
Seorang kader mungkin tidak selalu berada dalam struktur. Ia mungkin tidak hadir dalam setiap forum. Ia mungkin tidak selalu mengenakan atribut IMM.
Namun, apabila ilmu yang diperolehnya membuat ia lebih kritis, nilai yang dipelajarinya membuatnya lebih berintegritas, dan proses yang dijalaninya membuatnya lebih berguna bagi lingkungan sekitar, di situlah kaderisasi menemukan salah satu maknanya.
Irwan Akib pada Milad ke-62 IMM mengingatkan bahwa watak kecendekiawanan perlu terus melekat pada kader dan ilmu harus menjadi bagian dari ruh perjuangan IMM. (Akib, 2026).
Maka, ukuran keberhasilan rumah bukan hanya seberapa penuh ruang tamunya.
Ukuran lainnya adalah apa yang dibawa penghuninya ketika mereka melangkah keluar: ilmu, nilai, keberanian, kepedulian, dan kemampuan untuk memberi manfaat.
Sebelum terlalu jauh menyalahkan kader yang mulai menjauh, mungkin IMM perlu bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah kita sudah menjadi rumah yang mereka cari?
Rumah yang aman untuk belajar.
Rumah yang memberi ruang untuk berbeda.
Rumah yang mendukung kader ketika mereka ingin berkembang di ruang lain.
Rumah yang tidak hanya meminta kader datang, tetapi juga membantu mereka menemukan jalan.
Sebab, mungkin kader Muhammadiyah tidak sedang kehilangan jalan.
Mereka hanya sedang mencari tempat untuk bertumbuh.
Dan jika IMM ingin tetap menjadi rumah bagi mereka, tugasnya bukan sekadar membuka pintu dan berkata, "Pulanglah."
Tugasnya adalah memastikan bahwa ketika mereka pulang, masih ada ruang untuk belajar, orang-orang yang bersedia mendengar, teman untuk bertumbuh, dan kesempatan untuk berkembang.
Sebab yang perlu dijaga bukan sekadar agar rumah ini tetap ramai, tetapi agar setiap orang yang pernah tinggal di dalamnya membawa cahaya ketika berjalan ke luar. (*)
Editor: M. Wildan Afriqil
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.