Ketua PC IMM Kota Surabaya Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan Muhammad Tanwirul Huda mendorong Koordinator Komisariat (Koorkom) IMM UIN Sunan Ampel Surabaya periode 2026–2027 menjadi mercusuar yang memberi arah bagi komisariat-komisariat di lingkungan UINSA.
Gagasan tersebut disampaikan Tanwirul dalam Musyawarah Koordinator Komisariat (Musykoorkom) XXXVIII IMM UIN Sunan Ampel Surabaya di SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Jumat-Ahad (18–20/9/2026).
Tanwirul menyampaikan pesan tersebut setelah berakhirnya kepemimpinan Koorkom IMM UINSA periode 2025–2026 di bawah Nirzam Fahru Irgy Al-Hafidz. Ia menyebut laporan pertanggungjawaban kepemimpinan sebelumnya telah diterima dan seluruh proses satu periode telah selesai.
Menurut Tanwirul, keberhasilan sebuah generasi dapat dilihat dari generasi setelahnya. Karena itu, apa yang telah dilakukan pada periode sebelumnya perlu menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan bagi kepemimpinan berikutnya.
“Sebuah kebanggaan tentu ketika usainya periode Nirzam Fahru Irgy ini telah membuahkan beberapa pembaruan di Koorkom IMM UINSA,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan kesiapan Pimpinan Cabang IMM Kota Surabaya untuk berkolaborasi dengan kepemimpinan baru Koorkom IMM UINSA di bawah Dian Prahara Batubara.
Musyawarah dan Tekad
Huda mengingatkan kader IMM UINSA agar menjadikan Surah Ali Imran ayat 159 sebagai salah satu pedoman dalam menjalankan organisasi, terutama dalam menghadapi dinamika dan perbedaan pandangan.
Ia mengutip bagian ayat, “wa syāwirhum fil-amri”, yang menurutnya menjadi prinsip untuk menyelesaikan persoalan melalui musyawarah.
Menurutnya, setelah gagasan dibicarakan dan keputusan diambil melalui musyawarah, kader perlu memiliki tekad untuk menjalankannya.
“Fa idzā ‘azamta fatawakkal ‘alallāh. Ketika teman-teman sudah bertekad membawa gagasan untuk satu tahun ke depan, maka bertawakallah kepada Allah,” katanya.
Koorkom sebagai Mercusuar
Huda mengangkat gagasan “mercusuar” yang sebelumnya muncul dari PK IMM Leviathan. Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi gambaran mengenai posisi Koorkom terhadap komisariat-komisariat di lingkungan UINSA.
“Kalau saya meminjam gagasan dari Leviathan, Koorkom ke depan adalah mercusuar,” ujarnya.
Ia mengibaratkan komisariat sebagai kapal-kapal yang berada di UINSA, sementara Koorkom menjadi penerang yang membantu menunjukkan arah.
Menurut Sarjana Politik Islam UINSA tersebut, IMM UINSA selama ini memiliki tradisi perkaderan yang menekankan intelektualitas dan menghasilkan kader-kader yang selalu membawa warna khas dalam gerakan di IMM Kota Surabaya.
Karena itu, ia berharap kepemimpinan Dian Prahara Batubara dapat mempertahankan sekaligus mengembangkan tradisi tersebut melalui gagasan dan gerakan yang dihasilkan bersama komisariat.
Huda kemudian menghubungkan konsep mercusuar dengan sejarah perkembangan peradaban Islam. Ia menyebut sejumlah tokoh seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Kindi, Ibnu Rusyd atau Averroes, dan Ibnu Khaldun yang menjadi penopang kemajuan peradaban Islam.
Menurutnya, kader IMM juga perlu memahami pemikiran tokoh yang menjadi nama komisariat masing-masing.
Ia mencontohkan Komisariat Al-Farabi yang perlu memahami pemikiran Al-Farabi, termasuk konsep Al-Madinah Al-Fadhilah. Begitu pula Komisariat Al-Kindi perlu mengenal gagasan Al-Kindi.
Sementara itu, pemikiran Ibnu Khaldun mengenai ashabiyah dan masyarakat dalam Muqaddimah juga dapat menjadi bagian dari tradisi keilmuan komisariat.
“Jangan sampai teman-teman menyebut nama Komisariat Al-Farabi dengan bangga tetapi tidak mengetahui pemikiran Al-Farabi,” katanya.
Lanjutkan Amanah
Selain mendorong tradisi intelektual, Huda mengingatkan kader yang telah menyelesaikan amanah di Koorkom agar melanjutkan kontribusi dalam ruang perjuangan lainnya.
Ia mengutip prinsip “fa idzā faraghta fanshab”, yakni setelah menyelesaikan satu urusan, melanjutkan dengan urusan yang lain.
Menurutnya, kader yang telah menyelesaikan masa amanah di Koorkom dapat melanjutkan kontribusi di Pimpinan Cabang IMM Kota Surabaya maupun ruang gerakan lainnya.
Menutup sambutannya, Huda menyampaikan pesan kepada Dian Prahara Batubara sebagai Ketua Umum terpilih. Ia menggunakan peribahasa Batak untuk menggambarkan pentingnya kebersamaan dan kebulatan tekad dalam menjalankan amanah organisasi.
“Aek godang do aek laut, dos ni roha do sibahen na saut,” peribahasa ini berarti air yang besar atau yang banyak adalah air laut. Namun, kesepakatan dan kebulatan tekadlah yang membuat sesuatu itu terwujud,” pungkasnya.
Bagi Huda, pesan tersebut menjadi bekal bagi Dian dan jajaran Koorkom IMM UINSA periode 2026–2027 untuk menjalankan hasil Musykoorkom. Besarnya gagasan tidak akan cukup tanpa kesatuan hati dan tekad seluruh elemen untuk mewujudkannya dalam gerakan. (*)
Editor: Zahrah Putri Pratiwig
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.