Perwakilan Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) UIN Sunan Ampel Surabaya Muhammad Syafiullah Akbar mengingatkan kepemimpinan baru Koordinator Komisariat (Koorkom) IMM UINSA agar memperkuat tiga aspek dalam menjalankan gerakan, yakni kekeluargaan, keilmuan, dan pembaruan.
Pesan tersebut disampaikan Syafiullah dalam Musyawarah Koordinator Komisariat (Musykoorkom) XXXVIII IMM UIN Sunan Ampel Surabaya di SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Jumat-Ahad (18–20/9/2026).
Syafiullah terlebih dahulu menyampaikan tahniah atas terpilihnya Dian Prahara Batubara sebagai Ketua Umum Koorkom IMM UINSA periode 2026–2027. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan periode sebelumnya yang telah menyelesaikan amanah.
Menurutnya, Musykoorkom merupakan momentum awal bagi kader untuk menentukan dan merumuskan arah perjuangan IMM UINSA ke depan. Musyawarah tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga melahirkan rumusan gerakan yang mampu membentuk kader-kader militan.
Ia mengingatkan bahwa semangat perjuangan IMM perlu berlandaskan pada semangat awal Muhammadiyah, yaitu amar makruf nahi mungkar. Karena itu, semangat dakwah perlu mengaliri setiap perjuangan IMM, khususnya di lingkungan UIN Sunan Ampel Surabaya.
Perkuat Kekeluargaan
Syafiullah menyebut kekuatan pertama yang perlu dimiliki pimpinan baru adalah al-quwwatul jabiyah, yaitu kekuatan kekeluargaan.
Menurutnya, dinamika selama Musykoorkom, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar forum, perlu disikapi dengan merangkul seluruh elemen IMM UINSA.
“Dengan berbagai dinamika yang terjadi ketika Musykoorkom, baik dinamika yang ada di forum maupun di luar forum, maka tugas pimpinan selanjutnya adalah merangkul seluruh elemen yang ada di IMM UINSA,” ujarnya.
Ia berharap pola gerak organisasi yang dibangun berdasarkan kekeluargaan dapat berjalan dengan baik sehingga seluruh elemen IMM UINSA tetap memiliki ruang untuk bergerak bersama.
Perkuat Keilmuan
Kekuatan kedua yang perlu diperhatikan adalah al-quwwatul ilmiyah, yakni kekuatan keilmuan.
Menurut Syafiullah, setelah kekuatan kekeluargaan dan kebersamaan dibangun, kepemimpinan Koorkom perlu memperkuat tradisi keilmuan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui perumusan model gerakan yang mampu menjadikan IMM kuat secara intelektual.
Keilmuan, menurutnya, tidak hanya menjadi bekal kader secara personal, tetapi juga perlu menjadi dasar dalam menentukan arah gerakan organisasi.
“Bagaimana kepemimpinan ke depan merumuskan model gerakan yang dapat menjadikan IMM kuat dan militan dengan tri kompentensi dasarnya,” katanya.
Hadirkan Pembaruan
Kekuatan ketiga adalah al-quwwatut tajdidiyah, yaitu kekuatan pembaruan. Syafiullah menilai aspek keilmuan yang kuat semestinya dapat melahirkan gagasan dan pembaruan dalam gerakan.
Ia berharap kepemimpinan Koorkom IMM UINSA periode 2026–2027 mampu menerjemahkan gagasan yang muncul dalam Musykoorkom ke dalam kerja organisasi.
“Yang ketiga adalah al-quwwatut tajdidiyah, yaitu kekuatan pembaruan. Aspek ilmiah juga harus memunculkan pembaruan-pembaruan yang perlu dilakukan pada periode selanjutnya,” ujarnya.
Menurutnya, ketiga kekuatan tersebut perlu dipegang secara bersama oleh pimpinan baru dalam menjalankan dakwah dan pembaruan sebagai ruang gerak IMM UINSA.
“Tiga hal ini harus dipegang secara kuat oleh pimpinan selanjutnya untuk melaksanakan dakwah dan pembaruan sebagai ruang gerak IMM, khususnya Koorkom IMM UINSA,” tambahnya.
Syafiullah berharap gagasan yang dirumuskan selama Musykoorkom tidak berhenti sebagai wacana. Gagasan tersebut perlu diterjemahkan menjadi kerja nyata dalam menjalankan agenda organisasi dan perjuangan IMM UINSA pada periode berikutnya. (*)
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.