PC IMM Surabaya
SASTRA 08 OCT 2026

Di Antara Lembar yang Lapuk

Barangkali kita tidak harus sepakat untuk bisa saling mendengar.

Di Antara Lembar yang Lapuk

Perpustakaan selalu lebih sunyi setelah pukul empat sore. Barangkali karena sebagian mahasiswa sudah pulang. Atau mungkin karena suara pendingin ruangan yang berdengung sejak siang membuat bunyi setiap halaman yang dibalik terdengar lebih jelas.

Aku datang bukan untuk membaca. Setidaknya, begitulah niat awalnya.

Di layar laptop, satu halaman kosong menunggu tugas yang sejak tiga hari lalu belum juga selesai. Kursor berkedip di ujung kalimat terakhir seperti seseorang yang terlalu lama menunggu jawaban. Tugasnya tentang dialog antaragama. Lucu, pikirku. Aku kuliah Studi Agama-Agama, tetapi akhir-akhir ini justru semakin sering merasa tidak tahu bagaimana manusia seharusnya berbicara tentang agama.

Di kelas, semuanya memiliki nama. Pluralisme. Dialog. Empati. Toleransi. Bracketing. Ada istilah untuk hampir segala sesuatu. Tetapi semakin banyak istilah yang kupelajari, semakin sulit rasanya memahami manusia yang berada di balik istilah-istilah itu.

Aku menutup laptop. Kemudian berjalan menuju rak paling belakang. Di sana buku-buku lama berbaris seperti orang-orang yang sudah terlalu lama menunggu untuk ditanya.

Tanganku bergerak tanpa tujuan sampai berhenti pada sebuah buku tipis bersampul cokelat kusam. Tidak ada judul. Tidak ada nama penulis. Hanya sebuah tahun yang ditulis kecil di bagian dalam sampul. 1978.

Aku membuka halaman pertama. Kosong. Halaman kedua juga kosong. Baru pada halaman ketiga aku menemukan tulisan tangan. Tinta hitamnya sudah memudar, tetapi kalimatnya masih terbaca. Barangkali kita tidak harus sepakat untuk bisa saling mendengar.

Aku membacanya dua kali. Di bawah kalimat itu tertulis sebuah nama. Rasyid. Aku membalik halaman. Ada nama lain. Daniel. Setelah itu, halaman-halaman buku tersebut berubah menjadi percakapan yang tidak pernah menggunakan tanda kutip.

3 Februari 1978

Daniel mengatakan bahwa orang sering takut pada agama lain karena mereka mengenalnya dari cerita orang ketiga. Menurutku ia benar, tetapi aku tidak ingin terlalu cepat mengakuinya. Kadang-kadang manusia memang lebih suka prasangka karena prasangka tidak menuntut kita untuk mendengar. Di samping paragraf itu ada coretan kecil: Termasuk kamu, Rasyid.

Aku hampir tertawa. Ternyata orang pada tahun 1978 pun bisa menyindir dengan cara yang sama seperti mahasiswa sekarang. Aku melanjutkan membaca.

Rasyid dan Daniel bertemu di sebuah ruang baca. Tidak ada pertemuan besar. Tidak ada forum resmi. Tidak ada spanduk bertuliskan Dialog Antaragama. Hanya dua orang muda yang sama-sama ingin meminjam buku yang sama. Buku tentang filsafat agama. Daniel mendapatkannya lebih dulu. Rasyid tidak terima. Mereka berdebat hampir setengah jam hanya karena sebuah buku. Pada akhirnya Daniel menyerahkannya. Bukan karena kalah. Ia hanya berkata bahwa membaca tidak harus dilakukan sendirian.

Sejak hari itu mereka mulai sering bertemu. Mereka berbicara tentang Tuhan. Tentang kitab suci. Tentang doa. Tentang keluarga. Tentang hal-hal kecil yang tidak ada hubungannya dengan agama. Kadang mereka berdebat sampai sore. Kadang mereka pulang tanpa kesimpulan. Tetapi keesokan harinya mereka datang lagi.

19 Maret 1978

Hari ini Daniel bertanya apakah aku takut imanku berubah karena terlalu sering berbicara dengannya. Aku bilang tidak. Padahal sebenarnya aku tidak tahu. Bukan karena aku meragukan imanku. Aku hanya baru sadar bahwa keyakinan yang tidak pernah berhadapan dengan pertanyaan mungkin belum pernah benar-benar mengenal dirinya sendiri.

Aku berhenti membaca.
Kalimat itu terasa terlalu dekat.
Seolah-olah bukan ditulis empat puluh delapan tahun lalu, melainkan seseorang yang sedang duduk di sampingku.
Aku memandang ke luar jendela. Langit Surabaya mulai berwarna abu-abu. Kemudian aku kembali membuka buku.

7 Mei 1978

Hari ini mereka bertengkar. Bukan pertengkaran kecil. Daniel mengatakan bahwa Rasyid terlalu sering menjadikan keyakinannya sebagai pagar. Rasyid marah. Ia mengatakan Daniel terlalu mudah berbicara tentang keterbukaan karena tidak mengerti bagaimana rasanya mempertahankan sesuatu yang diyakini benar. Daniel diam. Untuk pertama kalinya, mereka pulang tanpa mengucapkan salam.

Di bawah catatan itu ada tulisan yang jauh lebih kecil: Besok aku akan meminta maaf. Lalu dicoret. Di bawahnya: Tidak. Biar dia yang datang.

Aku tersenyum. Manusia ternyata tidak berubah sebanyak yang kita kira. Aku membalik halaman.

Hari-hari berikutnya tidak lagi berisi perdebatan tentang siapa yang paling benar. Mereka mulai membicarakan hal-hal yang lebih sulit. Ketakutan. Kecurigaan. Keluarga. Masa depan. Daniel menulis bahwa ia pernah merasa bersalah karena berteman terlalu dekat dengan seseorang yang berbeda agama. Rasyid menulis bahwa ia pernah ditanya keluarganya mengapa harus repot-repot memahami orang yang tidak memiliki keyakinan yang sama. Tidak ada jawaban yang mudah. Namun mereka terus bertemu. Sampai pada suatu sore, sesuatu berubah.

17 September 1978

Ada kabar dari rumah. Ayah meminta aku berhenti terlalu sering bertemu Daniel. Katanya keadaan sedang tidak baik. Katanya orang-orang mulai mudah curiga. Katanya tidak semua persahabatan harus dipertahankan.

Halaman berikutnya kosong. Dua halaman. Tiga halaman. Kemudian muncul sebuah surat. Tulisan tangannya bukan lagi milik Rasyid.

Untuk Rasyid,

Aku tidak tahu apakah surat ini akan kuberikan kepadamu. Kalau iya, mungkin besok. Kalau tidak, mungkin surat ini akan tinggal di antara buku-buku yang bahkan tidak pernah kita selesaikan. Aku tidak marah. Aku juga tidak ingin menyalahkan keluargamu. Mungkin mereka hanya takut. Aku pun takut. Yang paling menakutkan dari perbedaan bukan perbedaannya. Yang menakutkan adalah ketika orang mulai percaya bahwa perbedaan membuat kita tidak lagi layak duduk di meja yang sama. Daniel

Tanggal di bawahnya menunjukkan 22 September 1978. Lima hari setelah catatan Rasyid. Aku membalik halaman berikutnya. Kosong. Aku membalik lagi. Kosong. Kemudian, di bagian paling bawah halaman berikutnya, ada satu kalimat. Setelah hari itu, Daniel tidak pernah datang lagi.

Aku menutup buku sebentar. Entah kenapa aku merasa kecewa. Mungkin karena sejak awal aku berharap mereka akan menemukan cara untuk tetap bersama. Tetapi mungkin itulah masalahnya. Aku terlalu terbiasa dengan cerita yang selalu memberikan akhir yang rapi. Aku membuka halaman terakhir.

Ada sebuah amplop tipis terselip di sana. Namanya ditulis dengan tangan yang sama. Untuk Rasyid. Aku membukanya. Surat itu tidak pernah dikirim.

Rasyid, Kalau kau membaca ini, berarti aku benar-benar pergi. Bukan karena aku membenci percakapan kita. Justru karena aku menghargainya terlalu banyak. Aku dulu berpikir dialog berarti menemukan titik di mana kita akhirnya berkata, “Ternyata kita sama.” Sekarang aku tidak yakin. Mungkin kita memang tidak sama. Mungkin kita akan tetap berbeda sampai tua. Mungkin ada hal-hal tentang Tuhan yang tidak akan pernah kita sepakati. Dan tidak apa-apa. Aku hanya berharap kita tidak menjadikan perbedaan itu alasan untuk berhenti menjadi manusia bagi satu sama lain. Kalau suatu hari nanti ada orang yang menemukan catatan ini, aku ingin ia tahu satu hal: Kami tidak berhasil membuat perbedaan menghilang. Kami hanya belajar hidup tanpa harus menghapusnya. — Daniel

Aku membaca surat itu sampai selesai. Lalu membalik halaman terakhir. Tidak ada apa-apa. Aku hampir menutup buku ketika sesuatu jatuh dari balik sampul. Sebuah foto kecil. Dua pemuda berdiri di depan sebuah bangunan tua. Yang satu tersenyum lebar. Yang satu lagi tampak seperti dipaksa tersenyum. Di belakang foto tertulis: Surabaya, 1978.

Aku membaliknya lagi. Ada tulisan tangan lain. Tulisan yang kukenal. Aku pernah melihatnya di album keluarga. Pernah melihatnya di belakang foto pernikahan. Pernah melihatnya pada kartu ucapan yang disimpan Ibu di lemari. Tulisan Kakek. Tanganku berhenti di udara. Di belakang foto itu tertulis: Daniel datang lagi. Aku membacanya sekali lagi. Daniel datang lagi. Di bawahnya ada tanggal. 1998.

Aku duduk lebih tegak. Selama ini kupikir cerita itu berakhir pada 1978. Ternyata tidak. Ada satu halaman yang sengaja diselipkan setelah sampul belakang. Aku membukanya perlahan.

Surabaya, 1998

Hari ini Daniel datang. Rambutnya sudah memutih. Tangannya gemetar ketika menyalamiku. Kami tidak membicarakan siapa yang benar. Kami juga tidak membicarakan mengapa dulu kami berhenti bertemu. Kami hanya duduk. Lama. Kemudian Daniel bertanya apakah aku masih menyimpan buku itu. Aku bilang masih. Ia tertawa. Katanya, “Berarti kita belum selesai.” Aku bertanya, “Apa yang belum selesai?” Daniel menunjuk buku di meja. “Percakapan kita.”

Aku berhenti membaca. Di bawahnya, tulisan Kakek berlanjut. Dulu kami bisa berdebat tiga jam. Sekarang kami hanya membutuhkan keheningan. Sebelum pulang, Daniel mengatakan sesuatu yang baru kupahami setelah ia pergi. Katanya, mungkin selama ini kami salah mengira bahwa dialog adalah tentang menemukan jalan yang sama. Padahal mungkin dialog adalah kesediaan untuk tetap berjalan meski jalan kita berbeda. Halaman itu berakhir di sana.

Aku menatap foto di meja. Rasyid. Daniel. Dua orang yang pernah duduk berhadapan, saling mempertanyakan keyakinan, kemudian saling kehilangan, lalu bertemu lagi ketika usia telah mengubah hampir segala sesuatu kecuali percakapan mereka. Aku memandang laptop. Tugas tentang dialog antaragama masih kosong.

Aneh. Beberapa jam lalu aku datang ke perpustakaan untuk mencari teori. Sekarang aku justru tidak tahu harus menulis apa. Bukan karena aku menemukan jawaban. Justru karena aku menemukan sesuatu yang lebih mengganggu daripada jawaban. Kakekku pernah hidup di dalam pertanyaan yang selama ini kupelajari dari buku.

Aku mengambil pulpen. Lama aku tidak menulis. Kemudian kutulis: Barangkali dialog tidak selalu membuat kita menemukan kesepakatan. Kadang-kadang ia hanya membuat kita tidak tergesa-gesa menganggap orang lain sebagai musuh.

Aku berhenti. Membaca kembali kalimat itu. Lalu menambahkan: Dan mungkin, itu sudah cukup untuk membuat sebuah percakapan tetap layak diteruskan.

Aku menutup laptop. Perpustakaan hampir kosong. Buku tua itu masih berada di atas meja.

Sebelum mengembalikannya ke rak, aku membuka halaman terakhir sekali lagi. Di bagian paling bawah, ada satu kalimat yang tadi tidak kusadari. Tulisannya berbeda. Lebih muda. Lebih rapi. Aku tidak tahu siapa yang menulisnya. Mungkin Daniel. Mungkin Kakek. Mungkin keduanya. Untuk siapa pun yang membaca ini setelah kami tidak lagi ada: jangan buru-buru mencari siapa yang paling benar. Duduklah lebih dulu. Dengarkan. Barangkali orang yang kau kira harus kau lawan ternyata hanya seseorang yang selama ini belum sempat kau dengarkan.

Aku menutup buku. Mengembalikannya ke rak. Lalu berjalan menuju pintu. Di luar, hujan turun tipis. Aku berdiri sebentar di bawah atap perpustakaan, memperhatikan orang-orang yang berlari kecil menuju parkiran.

Untuk pertama kalinya sejak masuk kuliah, aku tidak merasa harus segera menemukan jawaban. Aku hanya merasa ingin datang lagi besok. Bukan untuk mencari teori. Bukan pula untuk mencari akhir dari kisah Rasyid dan Daniel. Mungkin beberapa percakapan memang tidak pernah benar-benar selesai. Sebagian tinggal di dalam buku. Sebagian tinggal di dalam ingatan. Dan sebagian lainnya berpindah diam-diam kepada orang yang kebetulan menemukan lembar yang tersisa.

Aku berjalan menembus hujan. Di belakangku, perpustakaan kembali sunyi. Dan di antara lembar-lembar yang lapuk itu, sebuah percakapan lama menunggu untuk dibaca oleh seseorang yang lain. (*)
 

TOPIK ARTIKEL
REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.