Idealisme sering kali dianggap sebagai barang mewah yang hanya dimiliki oleh mereka yang berada di bilik-bilik kampus. Namun, idealisme yang tidak dirawat dengan kesadaran dan pengetahuan mudah berubah menjadi sekadar slogan kosong yang kehilangan substansi.
Di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), merawat idealisme tersebut dimulai dari akar cara kader dibina. Sebagaimana gagasan Ali Syariati, kader bukan diseragamkan dalam satu cetakan kaku, melainkan dibimbing secara personal sesuai minat, potensi, dan bakat yang dimiliki masing-masing individu (Sani, 2011: 176).
Kader yang menyukai sastra dipertemukan dengan ruang dan senior yang bergelut di dunia teatrikal atau sastra. Kader yang bercita-cita menjadi akademisi atau jurnalis dibekali dengan pemahaman mendalam tentang teknik kepenulisan dan riset.
Sementara itu, kader yang berminat di arena politik disuguhi deretan buku filsafat sosial dan ruang diskusi yang kritis. Hal ini sejalan dengan pemikiran Immanuel Kant mengenai rasionalitas dan kebebasan berpikir dalam membangun tatanan demokrasi yang sehat (Kolo, Semit, & Pandor, 2026).
Pada akhirnya, setiap orang tumbuh dan mekar dari bidang yang dicintai dan digelutinya. Melalui pendekatan tersebut, IMM dapat menciptakan ekosistem kaderisasi yang kaya akan warna.
Semua proses pencarian dan pertumbuhan itu pada akhirnya bertumpu pada satu perintah fundamental yang turun dalam wahyu pertama: Iqra’, bacalah. Makna perintah ini sangat luas dan tidak berhenti pada seberapa banyak halaman buku yang berhasil kita khatamkan (Afifah dan Yahya, 2020: 99).
Perintah ilahi tersebut juga termaktub dalam ayat-ayat pengaderan. Objek yang dibaca tidak terbatas pada teks, tetapi mencakup tanda-tanda alam, denyut kehidupan sosial, karakter dan pemikiran manusia, hingga diri sendiri.
Termasuk di dalamnya adalah membaca keadaan yang menuntut kita menurunkan ego pribadi agar “gelas kosong” dalam diri dapat kembali terisi oleh kebijaksanaan (Pesantren At-Tajdid Muhammadiyah Tasikmalaya).
Memang, buku bukanlah satu-satunya jalan menuju kesadaran, tetapi tetap menjadi salah satu sumber penting pengetahuan. Pengetahuan inilah yang kemudian penulis formulasikan ke dalam trilogi perjuangan intelektual: membaca, menulis, dan melawan.
Membaca adalah proses penemuan yang tiada henti. Melalui bacaan, seseorang dapat menemukan gagasan-gagasan baru, arah perjuangan yang ihdinas shiratal mustaqim, bahkan jati diri yang utuh di tengah riuhnya arus informasi modern yang kerap menyesatkan.
Di era digital, validitas informasi dan tradisi tabayyun menjadi hal penting agar seseorang tidak terjebak dalam disinformasi (A. Khairunnisa, 2026).
Menulis adalah ikhtiar untuk mengikat ilmu agar tidak terbang sia-sia. Membiarkan ilmu hanya tersimpan dalam ingatan tanpa dicatat berisiko membuatnya hilang atau terlupakan, sebab ingatan manusia memiliki keterbatasan.
Sebaliknya, tulisan mampu mengabadikan buah pikiran agar dapat dibaca, dipelajari, dan direnungkan oleh orang lain pada masa mendatang (HR. At-Thabrani dan Sahih Al-Jami’ No. 4434).
Melawan adalah wujud nyata penolakan terhadap kebodohan sekaligus bentuk rasa syukur atas anugerah akal yang diberikan Tuhan. Akal diciptakan bukan untuk dibiarkan tumpul dan pasif, melainkan untuk digunakan berpikir kritis, memilah kebenaran, serta menentukan sikap yang adil (Syaikhudin, 2012).
Perlawanan yang lahir dari fondasi bacaan dan tulisan terbukti lebih kokoh dan tahan lama dibandingkan perlawanan yang sekadar digerakkan oleh luapan amarah sesaat.
Di era digital yang penuh disinformasi, literasi berfungsi sebagai filter agar seseorang tidak mudah terseret menjadi alat propaganda pihak lain atau sekadar menjadi boneka yang setirnya dikendalikan orang di balik layar (Hannah Arendt).
Orang yang memegang ideologi tinggi tetapi miskin literasi ibarat pengemudi pemula yang menggenggam setir mobil balap bertenaga tinggi tanpa memahami cara kerja mesinnya. Kendaraan itu tampak keren dan megah dari luar, tetapi di tangan yang salah, ia berpotensi menabrak diri sendiri dan mencelakai orang lain.
Maka, idealisme seorang mahasiswa tidak cukup diukur dari seberapa lantang suaranya berteriak di jalanan atau seberapa berapi-api ia berargumen di dalam forum.
Ukuran sesungguhnya dari seorang intelektual adalah seberapa dalam ia membaca, merenung, dan memahami persoalan sebelum memutuskan untuk bersuara (Fahrur Rosin, 2022).
Komentar 0
Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.