PC IMM Surabaya
LIPUTAN 19 SEP 2026

Tak Lagi Digelar Bersamaan, Musykorkom XXXVIII IMM UINSA Kembalikan Forum pada Pedoman Organisasi

Musykorkom XXXVIII IMM UINSA digelar terpisah dari Muskom untuk memberi ruang lebih luas bagi komisariat dalam bermusyawarah, merumuskan kebijakan, dan menentukan arah gerakan organisasi.

Tak Lagi Digelar Bersamaan, Musykorkom XXXVIII IMM UINSA Kembalikan Forum pada Pedoman Organisasi

Musyawarah Koordinator Komisariat (Musykorkom) XXXVIII IMM UINSA Surabaya digelar dengan format berbeda. Berlangsung Jumat-Ahad (18–20/9/2026) di SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Musykorkom kali ini dipisahkan dari Musyawarah Komisariat (Musykom) agar masing-masing forum dapat bermusyawarah secara lebih maksimal.

Ketua Pelaksana Musykorkom XXXVIII IMM UINSA, Syahrur Ramadhan, menjelaskan pemisahan tersebut bukan semata inovasi baru, melainkan upaya mengembalikan pelaksanaan musyawarah sesuai dengan ketentuan organisasi yang telah diatur dalam Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART), serta pedoman dan ketentuan administrasi IMM.

“Ini sebenarnya kita mengembalikan pada apa yang sudah ditetapkan dengan yang sudah diatur oleh pembinaan pusat melalui AD, ART, dan Tanfidz-nya, pedoman administrasi dan lain sebagainya,” ujarnya ketika ditemui reporter PC IMM Kota Surabaya.

Ia menjelaskan, sebelumnya Musykom dan Musykorkom dilaksanakan secara bersamaan sehingga waktu Musykom menjadi terbatas. Padahal, Musykom memiliki sejumlah tahapan yang perlu dibahas secara mendalam oleh komisariat.

Menurutnya, Musykom mencakup sejumlah agenda, mulai dari penetapan tata tertib persidangan, evaluasi proses pembinaan, perumusan kebijakan komisariat, hingga pemilihan formatur.

“Ketika kita melihat di IMM UINSA sendiri, ketika Musykom dan Musykorkomnya itu tergabung, teman-teman itu waktu dalam Musykomnya tersita sehingga mereka kurang maksimal dalam melakukan musyawarah,” kata Ketua Bidang Organisasi Koorkom IMM UINSA.

Ia menilai keterbatasan waktu tersebut membuat pembahasan di tingkat komisariat cenderung berfokus pada pergantian kepemimpinan. Sementara itu, sejumlah agenda substantif, seperti sidang komisi dan perumusan kebijakan komisariat, belum dapat dilakukan secara optimal.

“Sejauh ini yang telah dilakukan di IMM UINSA itu kurang, karena kita itu hanya satu sampai dua hari melakukan Musykom dan kemudian kita fokus di Musykorkomnya. Sehingga, karena dengan waktu yang singkat itu, teman-teman kurang memiliki waktu untuk membahas sederhana sidang komisi dan lain sebagainya. Maka hanya terfokus pada pergantian ketua dan lain sebagainya,” jelasnya.

Pemisahan Forum Perluas Ruang Musyawarah Komisariat

Pemisahan Musykom dan Musykorkom kemudian diterapkan di seluruh komisariat IMM UINSA. Menurut Syahrur, format tersebut memberikan waktu yang lebih luas kepada komisariat untuk menjalankan seluruh tahapan musyawarah.

Ia menyebut, setelah format tersebut diterapkan, sejumlah kebijakan baru mulai dirumuskan oleh komisariat. Menurutnya, hal itu menunjukkan adanya ruang yang lebih besar bagi kader untuk membahas kebutuhan dan arah organisasi masing-masing.

“Dan terbukti kemarin setelah kita lakukan di beberapa komisariat, Musykom yang sudah didesain secara terpisah itu teman-teman komisariat bisa lebih luas dalam menjalankan musyawarah itu dan banyak kebijakan-kebijakan baru yang muncul di komisariat-komisariat,” tuturnya.

Sementara itu, Musykorkom XXXVIII tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan ketua baru. Forum tersebut juga diharapkan mampu merumuskan arah gerak Koordinator Komisariat (Koorkom) IMM UINSA (2026-2027) ke depan.

Menurutnya, Koorkom memiliki posisi berbeda dengan komisariat maupun pimpinan cabang. Koorkom merupakan perpanjangan tangan cabang yang menjalankan fungsi koordinasi dan komunikasi dengan komisariat-komisariat IMM di lingkungan UINSA.

“Musykorkom itu bukan komisariat dan bukan cabang. Kita itu adalah perpanjangan tangan cabang, yang mana kita membawahi komisariat-komisariat. Kita penyambung alur komunikasi ke cabang. Kita juga meneruskan informasi cabang ke komisariat-komisariat,” ungkapnya.

Karena itu, ia berharap hasil Musykorkom XXXVIII tidak berhenti pada terpilihnya ketua baru. Kepengurusan Koorkom berikutnya diharapkan mampu menjalankan fungsi koordinasi dan komunikasi tersebut secara optimal.

“Harapan dengan Musykorkom ini, Koorkom IMM UINSA ke depannya bisa dijalankan sesuai dengan tupoksinya sebagai perpanjangan tangan cabang,” katanya.

Rawat Tradisi dan Kembangkan Media IMM UINSA

Selain penguatan fungsi organisasi, ia juga berharap kepengurusan Koorkom IMM UINSA ke depan dapat menjaga sekaligus mengembangkan khazanah yang telah tumbuh di lingkungan IMM UINSA.

Menurutnya, tradisi seperti tulis-menulis menjadi salah satu kekayaan yang perlu terus dirawat dan dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Dan juga khususnya untuk IMM UINSA bisa lebih merawat khazanah, atau merawat budaya, merawat tradisi, kekayaan yang telah dimiliki, mulai dari tulis-menulis dan lain sebagainya, dan bisa dikembangkan,” ujarnya.

Ia mencontohkan perkembangan media komunikasi yang dapat menjadi ruang baru bagi kader untuk mengembangkan gagasan dan karya. Menurutnya, media yang telah digunakan IMM UINSA dapat dikembangkan ke bentuk lain, seperti podcast maupun platform alternatif.

“Jika IMM UINSA hari ini sudah memiliki website, maka jangan redupkan. Mungkin ke depan teman-teman UINSA memiliki podcast dan barangkali juga bisa menjadi platform dakwah alternatif juga jangan sampai tidak berkelanjutan,” pungkasnya. (*)

Editor: Zahrah Putri Pratiwig

REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.