PC IMM Surabaya
PERSPEKTIF 13 OCT 2026

*Idealisme Tanpa Literasi: Setir Balap di Tangan yang Salah*

Membedah pola pikir

*Idealisme Tanpa Literasi: Setir Balap di Tangan yang Salah*

Idealisme seringkali dianggap sebagai barang mewah yang hanya dimiliki oleh mereka yang berada di bilik-bilik kampus. Tetapi idealisme yang tidak dirawat dengan kesadaran dan pengetahuan mudah berubah menjadi sekadar slogan kosong yang kehilangan substansi. Di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), merawat idealisme tersebut dimulai dari akar cara kader dibina: bukan diseragamkan dalam satu cetakan kaku, melainkan dibimbing secara personal sesuai minat, potensi, dan bakat yang dimiliki masing-masing individu.

Kader yang menyukai sastra dipertemukan dengan ruang dan senior yang bergelut di dunia teatrikal atau sastra. Kader yang bercita-cita menjadi akademisi atau jurnalis dibekali dengan pemahaman mendalam tentang teknik kepenulisan dan riset. Sementara itu, kader yang berminat di arena politik disuguhi deretan buku-buku filsafat sosial dan ruang diskusi yang kritis. Pada akhirnya, setiap orang tumbuh dan mekar dari titik mana yang ia cintai dan geluti, dengan hal itu IMM menciptakan ekosistem kaderisasi yang kaya akan warna.

Semua proses pencarian dan pertumbuhan itu pada akhirnya bertumpu pada satu perintah fundamental yang turun dalam wahyu pertama: Iqra’, bacalah. Makna dari perintah ini sangat luas dan tidak berhenti pada seberapa banyak deret lembar halaman buku yang berhasil kita khatamkan. Dan juga ayat tersebut termaktub dalam ayat-ayat pengkaderan, Perintah ilahi tersebut tidak pernah menyebutkan objek tertentu secara spesifik, sehingga cakupannya menjadi sangat universal, seperti membaca tanda-tanda alam , membaca denyut nadi kehidupan sosial, membaca karakter serta isi kepala manusia, hingga membaca diri sendiri. Termasuk di dalamnya adalah membaca keadaan yang menuntut kita menurunkan ego pribadi agar "gelas kosong" dalam diri bisa kembali terisi oleh kebijaksanaan.

Memang, buku bukanlah satu-satunya jalan mutlak menuju kesadaran, tetapi ia tetaplah rahim utama dari segala pengetahuan. Pengetahuan ini kemudian penulis memformulasikan ke dalam trilogi perjuangan intelektual: membaca, menulis, melawan.

*MEMBACA*

Membaca adalah proses penemuan yang tiada henti. Melalui bacaan, seseorang dapat menemukan gagasan-gagasan baru, menemukan arah perjuangan yang Ihdinas sirotol mustaqim , bahkan menemukan jati diri yang utuh di tengah riuhnya arus informasi modern yang kerap menyesatkan.

*MENULIS*

Menulis adalah ikhtiar untuk mengikat ilmu agar tidak terbang sia-sia. Pikiran yang hanya disimpan di dalam kepala sangat mudah menguap, hilang, atau terlupakan seiring berjalannya waktu. Sebaliknya, tulisan mampu menahan buah pikiran tersebut agar mengendap, menjadi catatan sejarah yang hidup, serta dapat dibaca dan direnungkan oleh orang lain di masa yang akan datang. 

*MELAWAN*

Adapun melawan adalah wujud nyata penolakan terhadap kebodohan sekaligus bentuk rasa syukur tertinggi atas anugerah akal yang diberikan Tuhan. Akal diciptakan bukan untuk dibiarkan tumpul, pasif, dan membusuk, melainkan untuk dipakai berpikir kritis, memilah kebenaran, serta menentukan sikap yang adil. Perlawanan yang lahir dari fondasi bacaan dan tulisan terbukti jauh lebih kokoh dan tahan lama dibandingkan perlawanan yang sekadar digerakkan oleh luapan amarah sesaat.

Di era digital yang penuh dengan disinformasi ini, literasi berfungsi sebagai filter utama agar seseorang tidak mudah terseret menjadi alat propaganda pihak lain atau sekadar menjadi boneka yang setirnya dikendalikan orang di balik layar. Orang yang memegang ideologi tinggi tetapi miskin literasi ibarat seorang pengemudi pemula yang menggenggam setir mobil balap bertenaga tinggi tanpa tahu cara kerja mesinnya. Kendaraan itu tampak sangat keren dan megah dari luar, tetapi di tangan yang salah, ia berpotensi besar menabrak diri sendiri dan mencelakai orang banyak di sekitarnya.

Maka, idealisme seorang mahasiswa tidak pernah cukup diukur dari seberapa lantang suaranya berteriak di jalanan atau seberapa berapi-api ia berargumen di dalam forum. Ukuran yang sesungguhnya dari seorang intelektual adalah seberapa dalam ia membaca, merenung, dan memahami persoalan sebelum ia memutuskan untuk membuka suara.

Billahi fi sabililhaq

Salam membaca, menulis, melawan!

TOPIK ARTIKEL
REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.