PC IMM Surabaya
LIPUTAN 02 OCT 2026

Devi Kurniawan: Jangan Biarkan Ingatan Sejarah Berhenti di Ruang Diskusi

Devi Kurniawan mendorong kader IMM menjadikan ingatan sejarah sebagai pijakan untuk membangun gerakan dan perubahan nyata.

Devi Kurniawan: Jangan Biarkan Ingatan Sejarah Berhenti di Ruang Diskusi

Ketua Umum DPD IMM Jawa Timur, Devi Kurniawan, menyampaikan bahwa ingatan terhadap berbagai peristiwa sejarah tidak boleh berhenti sebagai bahan diskusi saja. Menurutnya, ingatan tersebut harus menjadi dasar untuk membangun gerakan dan harus diusahakan dapat membawa perubahan.

“Ketika hal ini menjadi ingatan, jangan hanya menjadi ingatan saja. Ada yang kita diskusikan, ada yang kita jadikan gerakan, gerakan yang membawa perubahan,” ujar dalam agenda Ketika Ingatan Menjadi Gerakan.

Devi mengawali refleksinya dengan mengingat sejumlah peristiwa yang terjadi pada September. Ia menyebut mulai dari peristiwa G30S/PKI hingga kematian aktivis pembela HAM seperti Munir sebagai bagian dari sejarah yang tidak boleh dilupakan.

Ia kemudian mengingatkan pentingnya prinsip Jas Merah atau jangan sekali-kali melupakan sejarah. Menurutnya, berbagai peristiwa masa lalu perlu ditempatkan sebagai bagian dari pengingat sekaligus peringatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memahami persoalan yang terjadi dan mencegah peristiwa tersebut tidak terulang kembali.

“Jas Merah, jangan sampai kita lupakan sejarah baik G30S/PKI atau peristiwa yang lebih kelam setelahnya. Rangkaian peristiwa-peristiwa tersebut harus kader-kader IMM pahami secara objektif,” lanjutnya.

Devi mengatakan bahwa proses mengingat dan memahami sejarah tidak boleh berhenti di ruang diskusi. Kesadaran terhadap berbagai peristiwa harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Dari proses mengingat, memahami, dan menyadari persoalan, kader IMM dapat mengambil hikmah sebagai landasan membangun sebuah gerakan.

“Jangan sampai selesai di ruang diskusi. Mengingat, memahami, dan sadar diri, kritis dalam membaca setiap peristiwa agar dapat kita ambil hikmah di baliknya,” tegasnya.

Ia juga menyoroti persoalan hak asasi manusia dan keadilan yang menurutnya masih menjadi pekerjaan bersama. Aspirasi mengenai keadilan dan kehidupan bernegara, kata Devi, perlu terus disuarakan melalui berbagai cara, baik membaca, menulis, diskusi, maupun aksi.

“Banyak PR dari isu hak asasi manusia yang hari ini kita hadapi. Upaya mencari keadilan harus selalu kita aspirasikan, baik melalui lliterasi hingga aksi,” ungkapnya.

Devi juga menekankan bahwa perjuangan mahasiswa hari ini tidak cukup hanya berbicara mengenai bagaimana keadilan diwujudkan. Nilai-nilai keadilan juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kehidupan bernegara.

Ia kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan realitas kehidupan berbangsa saat ini. Menurutnya, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara masih belum ditegakkan secara maksimal.

“Realitas hari ini, UUD 1945 sebagai dasar negara banyak yang belum ditegakkan secara maksimal,” tuturnya.

Devi mengingatkan agar seluruh kader-kader IMM yang hadir dalam kesempatan tersebut tidak hanya menjadi kelompok yang rajin berdiskusi, tetapi juga mampu mengawal sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai keadilan dalam kehidupan bernegara.

“Jangan sampai peristiwa terulang kembali. Kita mahasiswa, kader Muhammadiyah, jika hanya melakukan diskusi, melakukan gerakan, tetapi tidak pernah mengawal dan mengimplementasikan makna keadilan maka sama saja,” katanya.

Ia berharap forum tersebut tidak berhenti pada pembahasan dan refleksi. Menurutnya, kader IMM perlu terus bergerak dan memastikan gagasan yang dibicarakan dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

“Saya masih berharap, jangan cepat merasa puas bahwa hal ini sudah selesai. Karena 2045, Indonesia Emas, ada di tangan kita,” ujarnya.

Devi menutup sambutannya dengan berharap diskusi tersebut dapat melahirkan gagasan dan gerakan yang benar-benar diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.

“Semoga diskusi ini dapat diejawantahkan untuk kemajuan Indonesia,” pungkasnya.

Agenda yang diselenggarakan pada Jumat (2/10/2026) oleh PC IMM Kota Surabaya ini berkolaborasi dengan PC IMM Kabupaten Bojonegoro dan Ponorogo. Refleksi diikuti dengan antusias dan interaktif oleh berbagai kader mulai dari lintas cabang hingga lintas daerah. (*)

Editor: Zahrah Putri Pratiwig

REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.