PC IMM Surabaya
PERSPEKTIF 15 SEP 2026

Sebelum Memutuskan untuk Melawan

Melawan bukan sekadar marah atau menentang. Melawan berarti berani menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan kesadaran, tujuan, dan tanggung jawab.

Sebelum Memutuskan untuk Melawan

Memasuki usia kepala dua, seseorang mulai berhadapan dengan banyak hal yang sebelumnya hanya dilihat dari kejauhan. Standar hidup semakin tinggi, pencapaian orang lain terus muncul di media sosial, sementara masa depan terasa belum memiliki bentuk yang jelas. Mengetahui persoalan melalui layar tidak otomatis membuat seseorang siap ketika mengalaminya secara langsung.

Semakin bertambah usia, semakin banyak pula hal yang harus dihadapi. Ada standar hidup yang terasa tidak masuk akal, pencapaian orang lain yang sulit dipahami, perkumpulan yang mulai bermunculan, kecemasan tentang karier, dan berbagai persoalan lainnya. Lingkungan sekitar terasa semakin unik. Masa depan mulai tampak abu-abu. Dunia seolah menunjukkan bahwa kita telah memasuki masa yang semakin rentan.

Ujiannya terlalu banyak, sedangkan harapannya terasa semakin sedikit. Fase ini hampir selalu terjadi. Tanpa sadar, kita mulai terbiasa dengan keadaan yang sudah-sudah. Dengan prinsip bahwa besok masih bisa makan dan masih bisa hidup, kita mulai berdamai dengan dinamika kehidupan.

Tidak ada yang salah dengan prinsip tersebut. Bahkan, semua manusia bisa menjadikannya sebagai pijakan hidup. Hanya saja, kita perlu bertanya: dengan kehidupan seperti apa selama ini kita berdamai? Benarkah semua yang terjadi berjalan secara adil?

Jangan-jangan, privilege yang selama ini kita miliki justru membuat kita kurang peduli terhadap persoalan yang seharusnya menjadi perhatian, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang yang kita sayangi.

Dalam tulisan ini, “melawan” penulis maknai secara umum. Pembaca bebas menghubungkannya dengan berbagai hal: melawan kezaliman rezim, hawa nafsu, kesia-siaan, kebodohan, keculasan, adiksi, birokrasi yang rumit, dan persoalan lainnya.

Hidup di Tengah Banjir Informasi

Masuknya manusia ke era digital membuat hampir semua hal berlangsung secara instan. Termasuk tulisan ini.

Dulu, untuk menghasilkan karya tulis secara massal, seseorang harus menulis berulang kali melalui manuskrip agar karya tersebut dapat disebarkan. Pilihan lainnya adalah menggunakan cetakan balok kayu untuk mencetak satu judul buku tertentu sebelum ditemukan alat cetak huruf lepas.

Setelah alat cetak ditemukan pun, seseorang masih perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkan hasil cetakan tersebut. Prosesnya membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.

Dibandingkan dengan masa itu, sekarang tersedia begitu banyak produk tulisan dalam berbagai bentuk: majalah, koran, buletin, paper, artikel, hingga kabar receh selebritas yang sedang ramai di situs web kesayangan masing-masing.

Semua itu dapat muncul di beranda internet atau media sosial tanpa pernah kita tahu kapan dan bagaimana konten tersebut hadir. Kita tidak harus mengaksesnya dalam bentuk cetak. Tidak sedikit tulisan yang dapat dibaca secara gratis, bahkan dalam waktu kurang dari lima menit.

Ilustrasi tersebut hanyalah satu potongan kecil untuk memahami betapa kompleksnya tantangan pada zaman digital dan era teknologi. Terlalu banyak konten hadir tanpa kita kehendaki. Semuanya datang tanpa menunggu kita siap.

Berita hoaks bercampur dengan berita penting dan faktual. Edukasi bercampur dengan pornografi. Tautan pertandingan sepak bola berdampingan dengan tautan judi daring. Bahkan, konten yang sebenarnya positif pun dapat hadir pada waktu yang tidak tepat.

Semua itu dapat kita temukan hanya dalam sekali scroll.

Ketika Algoritma Menjawab Rasa Penasaran

Pernah ada seorang mahasiswa yang dikenal penulis mengalami sebuah peristiwa. Pada awal masa perkuliahan, ia penasaran dengan kenikmatan merokok. Ia kemudian mencoba membeli rokok Marlboro merah, yaitu rokok putih yang tentu tidak ramah bagi pemula.

Hasilnya sudah bisa ditebak: sesak dan tidak nyaman. Keputusan yang cukup bijak kemudian ia ambil dengan memilih untuk tidak merokok lagi.

Namun, tidak lama setelah itu, ia bercerita bahwa dirinya menemukan klip video Ade Rai yang kurang lebih membahas pertanyaan, “Mengapa manusia begitu menikmati rokok?”

Penjelasan dalam video tersebut menarik perhatiannya. Menurut pemahamannya, perokok secara tidak langsung mengikuti pola pernapasan tertentu ketika sedang merokok. Pola tersebut berkaitan dengan pernapasan diafragma yang dapat memberikan efek relaksasi. Otot diafragma mengembang ketika udara dihirup ke dalam tubuh.

Pernapasan diafragma memang dapat dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika seseorang menghadapi tekanan atau stres. Namun, menghubungkannya dengan aktivitas merokok tentu merupakan hal yang berbeda. Penjelasan tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk menganggap merokok sebagai cara yang aman untuk memperoleh ketenangan.

Lalu, bagaimana konten tersebut disikapi oleh mahasiswa itu?

“Rokoknya yang salah, atau caranya yang salah?”

Kurang lebih begitulah pikirannya. Ia kembali mencari jawaban atas rasa penasarannya dengan mencoba merokok menggunakan rokok lain dan cara yang berbeda.

Di sinilah persoalannya terlihat. Algoritma memang menjawab rasa penasarannya, tetapi tidak pada waktu yang tepat. Konten tersebut hadir ketika rasa ingin tahunya sedang tinggi-tingginya.

Sulit membayangkan bagaimana jika situasi serupa terjadi pada anak-anak yang terpapar konten pornografi.

Mungkin akan muncul tanggapan bahwa algoritma hanya menawarkan sesuatu yang berkaitan dengan apa yang kita cari. Memang benar. Namun, keadaan digital menawarkan lebih dari itu.

Coba kita bayangkan seorang anak berusia empat tahun yang belum mengenal alfabet. Berikan kepadanya sebuah gawai. Kita tidak perlu terlebih dahulu mengajarkan fitur voice to text. Cukup ajari gestur scroll, dan ia mungkin sudah dapat memahami cara kerja gawai tersebut.

Bagi saya, ketika membayangkannya, aktivitas scroll sudah seperti doping. Anak-anak seolah tidak akan beranjak sebelum gawainya diambil secara paksa.

Tentu, tidak semua anak mengalami hal yang sama. Namun, situasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan gawai tidak selalu diikuti kemampuan memahami dan mengendalikan konten yang muncul.

Tidak semua orang akrab dengan fitur dislike, not interested, block, hide, atau fitur lain yang berkaitan dengan pengendalian konten. Karena itu, kesadaran perlu dihadirkan dalam diri sendiri.

Koneksi juga perlu dibangun jika kita benar-benar menganggap orang-orang di sekitar kita berharga. Harapan itu masih ada.

Setidaknya, ada beberapa pertanyaan yang perlu kita jawab sebelum menentukan bentuk perlawanan yang ingin dilakukan.

Perlu Tujuan

Pertama, kita perlu menjawab pertanyaan: mengapa kita harus melawan dan apa yang hendak dituju?

Pertanyaan tersebut sebenarnya cukup mudah dijawab. Biasanya, kita lebih mudah menemukan kekurangan sesuatu daripada kelebihannya. Ketika ruang kritik terbuka, kita pun dengan mudah menyampaikan keberatan.

Misalnya, ketika seorang mahasiswa berada dalam persoalan birokrasi kampus, urusan kuliah, magang, wisuda, dan administrasi akademik dapat menjadi semakin sulit. Proses yang seharusnya jelas justru terasa berbelit-belit.

Jika tidak dilawan, mahasiswa bisa saja tidak dapat mengikuti wisuda, harus mengulang semester, mengalami kendala dalam pelaksanaan magang, atau tidak dapat memvalidasi dan menginput nilai.

Dalam situasi seperti itu, perlawanan dapat dipertimbangkan apabila persoalan tersebut benar-benar merugikan mahasiswa. Membayar UKT kembali atau mengulang semester tentu bukan perkara kecil.

Namun, jika persoalan tersebut tidak dianggap sebagai masalah, seseorang mungkin memilih duduk, menatap gawai, dan sekadar memantau berita. Ia justru membiarkan persoalan yang sedang terjadi berlalu begitu saja.

Karena itu, perlawanan perlu memiliki tujuan. Kita harus tahu apa yang hendak diperbaiki, siapa yang terdampak, dan perubahan seperti apa yang ingin diwujudkan.

Perlu Titik Balik dan Motif

Kedua, kita perlu menentukan titik balik dan motif. Ketika tekad sudah bulat, kita perlu menentukan waktu yang tepat untuk “marah” dalam mengekspresikan perlawanan.

Melihat anak-anak melakukan scroll tanpa henti seharusnya menjadi perhatian banyak orang tua, terutama ketika mereka menggunakan gawai seorang diri. Konten pornografi dan adegan kekerasan tidak selalu dapat dihilangkan sepenuhnya dari ruang digital.

Namun, persoalan menjadi lebih serius ketika anak mulai meniru tindakan kekerasan, sementara orang dewasa hanya menyebutnya sebagai sesuatu yang tabu dan memilih tidak membicarakannya.

Akan lebih masuk akal jika kita mulai “melawan” kebiasaan membiarkan keadaan tersebut. Perlawanan tidak harus menunggu munculnya peristiwa besar yang membuat emosi bergejolak.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan aktivitas scroll secara langsung. Namun, kita dapat mengajarkan penggunaan fitur not interested atau fitur sejenisnya. Kita juga dapat mulai mengenalkan pengetahuan dasar tentang seks sesuai usia dan kebutuhan anak.

Perlawanan dalam situasi ini bukan berarti memusuhi teknologi. Perlawanan berarti membangun kebiasaan yang lebih sehat, mendampingi anak, dan tidak membiarkan mereka menghadapi ruang digital sendirian.

Perlu Wadah

Ketiga, kita perlu menjawab pertanyaan: di mana perlawanan itu diperjuangkan?

Koneksi akan lebih mudah dibangun ketika kita mengenal perkumpulan atau komunitas sebagai wadah, terutama jika dampak negatif yang hadir dirasakan secara kolektif.

Akan tetapi, tidak semua perlawanan membutuhkan wadah secara eksplisit. Sumber pengetahuan yang kita peroleh pun dapat menjadi bentuk wadah secara implisit.

Di mana semangat tersebut diperjuangkan? Di mana kita bisa memperoleh pengetahuan tentang hal-hal yang selama ini kita khawatirkan?

Mungkin di sanalah terdapat orang-orang yang dapat membantu kita melawannya.

Ada begitu banyak sumber pengetahuan dan bentuk komunitas di sekitar kita. Tidak semuanya harus dijelaskan melalui contoh. Yang terpenting adalah kemauan untuk mencari, terhubung, dan belajar bersama.

Sebab, perlawanan akan lebih kuat ketika tidak dilakukan seorang diri.

Perlu Kesadaran atas Kendali

Keempat, kita perlu menjawab pertanyaan: siapa diri kita dan siapa atau apa yang sedang kita lawan?

Formulasinya sederhana. Setidaknya, kita perlu mempertimbangkan risiko dan dampak dari setiap bentuk perlawanan.

Apakah ada pihak yang terbantu? Apakah ada pihak yang justru semakin kesulitan?

Jika seseorang memiliki peran sebagai ayah, misalnya, apa dampak yang akan diterima ketika ia melawan eksploitasi pabrik? Apakah menjadi ketua serikat pekerja dan bersuara lantang melawan kapitalisme akan membantu?

Bagi karyawan, mungkin iya. Namun, bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana dengan anak dan istrinya? Bagaimana jika ia justru dikriminalisasi oleh atasannya?

Di sisi lain, ia mungkin hidup dalam kondisi lapangan kerja yang relatif sempit, sementara keterampilan yang dimilikinya hanya tenaga kasar. Bukan bermaksud mengecilkan keberanian seseorang, tetapi melihat kondisi secara utuh juga penting.

Keberanian tidak selalu berarti maju tanpa perhitungan. Ada kalanya keberanian justru terlihat dari kemampuan membaca situasi, menghitung risiko, dan menentukan strategi.

Jika kita sudah seperti Ferry Irwandi yang tidak takut mati dan dipenjara—puitis, memang—ya, gas saja. Namun, tidak semua orang berada dalam posisi yang sama. Setiap orang memiliki tanggung jawab, kondisi, dan risiko yang berbeda.

Karena itu, perlawanan tidak dapat diseragamkan.

Melawan dengan Kesadaran

Pada akhirnya, melawan bukan sekadar menunjukkan kemarahan. Melawan berarti memahami persoalan, menentukan tujuan, membaca situasi, membangun koneksi, serta mempertimbangkan dampak dari tindakan yang dilakukan.

Kita tidak harus menerima semua yang datang. Namun, kita juga tidak boleh melawan tanpa mengetahui apa yang sedang diperjuangkan.

Di tengah banjir informasi, tekanan sosial, kecemasan masa depan, dan berbagai persoalan kehidupan, manusia perlu menjaga kemampuan untuk berpikir secara sadar.

Sebab, ketika kita kehilangan kesadaran, kita mudah mengikuti apa pun yang hadir di hadapan kita. Kita mengikuti algoritma, mengikuti kebiasaan, mengikuti tekanan lingkungan, bahkan mengikuti kemarahan tanpa memahami arahnya.

Melawan dengan kesadaran berarti berani berkata tidak terhadap sesuatu yang merugikan, tetapi tetap memahami akibat dari keputusan tersebut.

Melawan juga berarti berani memperbaiki diri, membangun hubungan, mencari pengetahuan, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dengan demikian, perlawanan tidak berhenti sebagai amarah. Ia berubah menjadi tindakan yang memiliki tujuan, motif, wadah, dan tanggung jawab. (*)

Editor: Zahra Putri Pratiwig

REAKSI

Apakah gagasan ini bermanfaat bagi Anda?

Pilih salah satu reaksi untuk memberi penilaian pada tulisan ini.
DISKUSI

Komentar 0

Jaga ruang diskusi tetap sehat, relevan, dan saling menghargai.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.