Oleh: Adi Swandana Erlangga Putra (Ketua Bidang Kader PC IMM Kota Surabaya)

Disclaimer, tulisan ini adalah bentuk kebebasan berpendapat yang berusaha penulis lakukan sebagai upaya menghargai sebuah opini kader lebih dari sekadar mengunggah ulang di akun media sosial. Opini tersebut berjudul Di mana IMM Berkumpul, Di Situ Asap Mengumpul yang sampai tulisan ini dibuat setidaknya telah mencapai angka 640 unggahan ulang dan 187 komentar yang dipenuhi beragam narasi mulai dari justifikasi hingga satire organisasi.

Secara ide, penulis benar-benar sepakat dengan gagasan bahwa merokok bagi kader IMM adalah suatu kontradiksi dengan apa yang diyakini sebagai ideologi. Mulai dari ayat-ayat suci, hadis Nabi, kaidah fikih, hasil ijtimak MUI sampai fatwa Majelis Tarjih seolah telah memblokade setiap kontraargumentasi yang berusaha penulis susun sebagai seorang pengidap adiksi. Oleh karenanya, secara ide tulisan penulis tidak terlalu keberatan, tetapi selama pembacaan pribadi ada beberapa narasi yang perlu disoroti demi marwah organisasi.

Antara Ideologi dan Bias Kognisi

Narasi pertama yang penulis sorot dari opini menarik ini adalah turut membawa wacana ideologi. Dalam hal ini berupa mencantumkan fatwa tarjih Muhammadiyah tentang haramnya merokok sebagai pemantik. Sayangnya pembahasan tersebut terasa hanya sebagai pemanis belaka tanpa ada pendalaman yang lebih filosofis perihal sejauh mana kader mengamini fatwa tersebut. Padahal, seandainya implikasi atas penerapan fatwa tersebut dalam sistem perkaderan dapat dipaparkan tentu hal itu akan menjadi pukulan telak yang barangkali sulit untuk didebat.

Penulis sendiri merasa bahwa pencantuman fatwa tersebut terasa seperti bias kognisi yang pada akhirnya menggiring opini publik seolah-olah setiap kader IMM yang merokok secara otomatis dianggap tidak patuh pada ideologinya sendiri. Bias kognisi yang penulis maksud di sini lebih kepada bentuk confirmation bias di mana ada kecenderungan hanya mengambil informasi yang mendukung pendapat tertentu (Alifya dkk., 2024: 331; Andaryanto dkk., 2024:191).

Lagi-lagi, penulis menyayangkan ketidaktuntasan pembahasan mengenai fatwa tersebut, sebab pembahasan selanjutnya justru bergeser ke keresahan sosial dan tidak lagi membahas implikasi ideologisnya. Pada bagian ini penulis merasa belum memahami arah kritik yang dibangun dalam tulisan tersebut dengan jelas: ketidaksesuaian perilaku kader dengan nilai-nilai Muhammadiyah, atau sekadar kegelisahan terhadap kebiasaan sosial yang berkembang di lingkungan organisasi.

Rokok Bukan Satu-satunya

Agaknya ada logical fallacy, ketika di tulisan tersebut menyoal tentang fungsi rokok sebagai syarat tidak tertulis untuk menjalin keakraban di organisasi. Hal ini karena opini yang berusaha dijelaskan seperti menggambarkan bahwa keakraban di IMM muncul sesederhana hanya dengan memiliki kebiasaan merokok. Bagi penulis, ini merupakan bentuk dari salah satu kesalahan berpikir, yakni false cause di mana argumentasi disusun seolah-olah itu menjadi penyebab dari suatu hal meski belum tentu ada kaitan yang kuat di antara keduanya (Indasah, 2023: 85).

Tentunya, keakraban tumbuh dan dipengaruhi oleh banyak hal. Sebagaimana menurut Baron dan Byrne dalam Riska dan Widyastuti (2019: 41) bahwa ada tiga hal yang menjadi pengaruh terbentuknya pertemanan yang erat mulai dari ketertarikan secara fisik, kesamaan, dan timbal balik. Di lain sisi, kualitas persahabatan juga bergantung pada tingkat kepercayaan yang terus dibangun dalam jangka panjang melalui adanya timbal balik (kompetensi, kebaikan hati, dan integritas) dan ikatan yang sudah terjalin (Faturochman dkk., 2020: 85).

Dengan demikian, mengklaim rokok sebagai simbol keakraban di IMM memiliki potensi untuk disalahpahami oleh publik. Akhirnya muncul asumsi bahwa jangan-jangan semua lingkungan di IMM memang demikian meski belum sepenuhnya terverifikasi. Lagi pula, sesama perokok pun juga bisa tak saling akrab entah karena korek yang sering hilang di tongkrongan atau teman yang gak pernah modal dengan alibi cuma minta sebatang.

Bagaimana Seharusnya?

Salah satu alasan yang mungkin sangat klise dari seseorang yang masih merokok adalah karena merasa hal tersebut diyakini memberinya sensasi tenang saat menghadapi tekanan. Hal ini disebut psychological dependence di mana ada ketergantungan yang dibutuhkan terutama saat berada di kondisi stres meskipun para perokok ini juga mengetahui dampak buruk yang berpotensi muncul di tubuhnya suatu hari nanti (Hanifah dkk., 2024: 167).

Dalam konteks kader IMM yang juga sebagai perokok tentu alasan di atas perlu untuk menjadi bahan tinjauan. Jangan-jangan ada yang memilih merokok karena memang sedang mengalami ketidaknyamanan di alam pikiran. Barangkali ada yang punya beban di rumah, tanggungan biaya sekolah, atau yang hatinya baru saja patah.

Atau mungkin, ruang-ruang IMM memang tak cukup mampu memberinya rasa tenang. Kajian yang kurang interaktif atau rapat yang terlalu pasif mungkin kian membuatnya tidak nyaman, sebab pada akhrinya rasa ketergantungannya menjadi tidak teralihkan. Setidaknya, masih ada sebagian yang tetap menghargai kenyamanan bersama dengan memilih keluar sebentar agar tembakau bisa dibakar.

Para perokok di lingkungan IMM juga tidak bisa dicap sebagai pengacau organisasi begitu saja. Tentu mereka yang berada di dalamnya tak semua berlatar belakang Muhammadiyah atau berasal dari keluarga dengan tangki cinta yang melimpah. Ada perokok-perokok malang yang menganggap IMM sebagai rumah yang suatu saat menjadi motivasinya untuk berubah.

Pada akhirnya, realitas organisasi memang jauh lebih kompleks lebih dari sekadar kebiasaan merokok yang mulai diresahkan di lingkungan IMM dewasa ini. Namun, masalah utama bukan perokok dan non-perokok, tetapi bagaimana seluruh kader belajar membangun budaya organisasi yang saling menghargai. Sebab, seharusnya tidak ada paksaan bahwa setiap pertemuan harus di warung kopi dan selalu ada kompromi agar budaya asap mengepul ini bisa perlahan dikurangi.

Begitulah kiranya tulisan ini diniati agar mimpi di tulisan yang ditanggapi bisa diwujudkan suatu hari nanti. Dan, IMM adalah rokok itu sendiri. Iya, yang kita ketahui tidak ada keuntungannya, namun kita tetap berusaha menikmatinya. Ah, seandainya ada kretek rasa IMM di warung Madura. (*)

Editor: M Tanwirul Huda