Surabaya - Berbagai organisasi dan komunitas, di antaranya Komunitas Pojok Literasi, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Airlangga, Yayasan Abdinesia, Kader Hijau Muhammadiyah (KHM) Komite Surabaya, serta pegiat seni dari Bunuh Diri Studio, menggelar aksi pernyataan sikap di atas laut kenjeran bersama dengan nelayan, masyarakat pesisir Sukolilo, serta Forum Masyarakat Madani Maritim (FM3) dalam kegiatan Literasea Fest 2026, Sabtu (20/06/2026).

Aksi dilakukan setelah air laut pasang, memungkinkan nelayan, masyarakat, dan mahasiswa berlayar ke tengah laut sekitar pukul 10.30 WIB. 

Dari atas perahu, pernyataan sikap disampaikan sebagai bentuk respons atas rencana Proyek Strategis Nasional (PSN) Reklamasi Surabaya Waterfront Land (SWL) yang dinilai mengancam ruang hidup masyarakat pesisir.

Sebagaimana diketahui publik, Proyek Reklamasi Surabaya Waterfront Land (SWL) merupakan proyek garapan dari PT Granting Jaya yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional. Sejak 2024, proyek ini telah menuai penolakan dari warga pesisir.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pengembang disebut telah melakukan sejumlah langkah, mulai dari penguasaan wilayah laut hingga pembelian pulau, serta melibatkan pengembang asing serta aktor lokal yang memiliki kepentingan investasi di kawasan pesisir Surabaya.

Hingga kini, belum ada keputusan resmi yang memberikan kepastian terkait kelanjutan proyek tersebut. Di sisi lain, proses partisipasi publik juga dipersoalkan. Sejumlah nelayan menyebut adanya ketidaksesuaian dalam representasi kelompok, termasuk munculnya pihak yang mengatasnamakan nelayan dalam forum resmi tanpa legitimasi yang jelas.

Dokumentasi Pernyataan Sikap Nelayan dalam agenda Literasea (20/6/2026)Dokumentasi Pernyataan Sikap Nelayan dalam agenda Literasea (Foto: Jabir)

Perwakilan nelayan Sukolilo menyatakan. "Hadirnya aksi dan pernyataan sikap ini merupakan benrtuk komitmen tegas dari nelayan dan masyarakat pesisir dalam menolak proyek PSN SWL,"

Perwakilan Forum Masyarakat Madani Maritim (FM3), Heroe Budiarto, menyampaikan pernyataan sikap di atas perahu nelayan. Ia menegaskan bahwa nelayan pesisir menolak rencana reklamasi PSN SWL dengan sejumlah alasan.

Pertama, wilayah pesisir yang direncanakan sebagai lokasi reklamasi merupakan ruang hidup dan sumber mata pencaharian utama nelayan pesisir timur Surabaya. Kedua, reklamasi berpotensi membatasi hingga menghilangkan akses nelayan terhadap wilayah tangkap. Ketiga, proyek tersebut dinilai berisiko menimbulkan dampak ekologis, seperti perubahan arus laut, sedimentasi, kerusakan habitat laut dan mangrove, serta penurunan hasil perikanan.

Keempat, nelayan sebagai pihak terdampak dinilai berhak atas perlindungan, pemberdayaan, dan jaminan keberlanjutan usaha sesuai peraturan perundang-undangan. Kelima, hingga saat ini aspirasi dan keberatan nelayan disebut belum menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan proyek.

Seiring pembacaan pernyataan sikap, suara penolakan terhadap reklamasi bergema di atas Laut Kenjeran dari puluhan perahu yang membawa nelayan Sukolilo dan berbagai elemen masyarakat.

Aksi ini juga dihadiri oleh Ketua Umum PC IMM Surabaya, Alwi Shihab, serta Ketua Bidang Agraria dan Maritim PC IMM Surabaya, Benoit Hakeem, yang turut menyampaikan sikap penolakan dari kalangan mahasiswa.

“Kami menolak proyek PSN SWL yang dinilai mengancam ruang hidup masyarakat pesisir,” ujar dua perwakilan mahasiswa dalam orasinya di tengah laut. (*)

Penulis: Balqis Saila Sufa Al Zakiyah
Editor: Zahra Putri Pratiwig