Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, tahun ini kita disuguhi tema besar: "Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua." Sebuah cita-cita yang sangat demokratis dan inklusif. Namun, di tengah gemuruh narasi partisipasi ini, kita perlu berhenti sejenak untuk bertanya: Sebenarnya mutu seperti apa yang sedang kita kejar? Dan partisipasi macam apa yang sedang kita bangun?

Penulis mencoba membaca tema ini memakai dua konsep yang berbeda dalam satu kacamata yang sama, yaitu Pendidikan. Melihat kegelisahan Al Makin dalam "Antara Barat dan Timur" soal dikotomi perspektif yang kerap buntu, penulis merasa perlu meminjam dua mata pisau sekaligus untuk membedah isu ini.1 Kita akan melihat bagaimana Paulo Freire (Barat) dan Syed Naquib Al-Attas (Timur) sebenarnya sedang membicarakan satu keresahan yang sama: arah pendidikan kita.

Dialektika Ta’dib dan Conscientization

Dalam pandangan Al-Attas, masalah utama kita adalah loss of Adab (kehilangan adab). Hari ini, kita terjebak dalam arus yang mengerdilkan makna 'mutu' hanya sebatas deretan angka akreditasi, tumpukan jurnal, atau sekadar angka daya serap industri. Al-Attas mencoba mengingatkan kita bahwa tujuan pendidikan bukanlah menciptakan tenaga kerja yang kompetitif secara ekonomi semata, melainkan membentuk "The God Man" (Manusia Baik).2

Partisipasi semesta yang digagas pemerintah jangan sampai terjebak pada "kebisingan" tanpa arah. Tanpa Adab, yang menurut Al-Attas adalah kemampuan menempatkan ilmu dan otoritas pada tempatnya, jika tidak demikian, maka pendidikan bermutu hanya akan menjadi proyek kosmetik. Kita mungkin menghasilkan sarjana yang mahir secara teknis, namun buta secara moral; mereka yang pintar mencari celah hukum, namun gagal mengenali keadilan.

Problema otoritas ilmu ini menjadi momok yang mengancam dunia akademik dewasa ini. Di tengah derasnya arus teknologi dan kebebasan bersuara di media sosial, otoritas ilmu sering kali dikesampingkan. Fenomena ini mempertegas fenomena "The Death of Expertise" matinya kepakaran milik Tom Nichols, yang senada dengan kegelisahan Al-Attas tentang hilangnya rasa hormat pada otoritas ilmu.3

Partisipasi semesta haruslah bersifat dialogis. Siswa atau mahasiswa  bukan objek yang pasif menerima kurikulum, melainkan subjek yang harus mencapai conscientization (penyadaran kritis). Pendidikan bermutu adalah pendidikan yang memampukan seseorang untuk menggugat ketidakadilan dan mengubah realitas sosialnya.

Manusia Beradab yang Merdeka

Memadukan Al-Attas dan Freire dalam konteks Hardiknas berarti merumuskan kembali arah pendidikan nasional kita. Kita membutuhkan kurikulum yang tidak hanya berbasis pada pasar (market-driven), tetapi berbasis pada nilai dan pembebasan.

Pendidikan Beradab (Al-Attas): Memastikan setiap anak bangsa memiliki ketertiban batin, mengenali kebenaran, dan menghormati otoritas ilmu. Ini adalah pondasi karakter agar ilmu tidak disalahgunakan.

Pendidikan Kritis (Freire): Memastikan bahwa karakter tersebut tidak berubah menjadi kepatuhan buta. Pendidikan harus memberi ruang bagi keberanian intelektual untuk bertanya: "Mengapa sistem ini tidak adil?"

"Pendidikan Bermutu untuk Semua" tidak boleh hanya berhenti pada jargon saja. Mutu sejati adalah ketika lulusan perguruan kita tidak hanya "siap pakai" oleh industri, tetapi "siap memimpin" dengan moralitas yang kokoh dan kesadaran sosial yang tajam.

Jangan sampai Hardiknas tahun ini kita hanya merayakan partisipasi yang bersifat administratif tanpa menyentuh esensi pembentukan manusia beradab dan kritis. Merefleksikan hardiknas ini berarti merenungkan kembali pemikiran al attas yang menyebutkan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang beradab, pribadi yang mampu menempatkan dalam Kesadaran mulai dari Tuhan, rasio, dan tanggung jawab moral secara proporsional.4

Maka, pendidikan kita harus berani beranjak dari sekadar ta’lim (transfer ilmu) menuju ta’dib (penanaman adab) agar pendidikan kita tetap berada pada khitahnya: sebuah proses untuk memanusiakan manusia. (*)

 

Referensi:

Makin, Al. Antara Barat dan Timur (revisi). Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, t.t. Diakses dari https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/23716/

Erlianto, Paulus Roby, dan Santo. “Pendidikan Kaum Tertindas: Perjumpaan Gagasan Pendidikan Paulo Freire dan Ki Hadjar Dewantara serta Harapan bagi Pendidikan di Indonesia.” Forum: Jurnal Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang Vol. 50, No. 2 (2021): 174–198.

muhammadiyah.or.id/2026/04/belajar-dari-naquib-al-attas-tujuan-pendidikan-adalah-menjadi-manusia-beradab/

Ridwanulloh, Muhamad Wafa. “Fenomena Matinya Kepakaran: Tantangan Dakwah di Era Digital.” Dalam Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam dan Sains, Vol. 5 (2023): 121–127.