Oleh: Rizky Putri Ramadhani (Ketua Umum PK IMM Al-Fatih)
Lahir untuk menuntut kesetaraan, feminisme membawa perempuan berdiri sama rata dengan laki-laki soal kehidupan.
Feminisme lahir untuk menentang budaya patriarki, tuntutannya adalah menghapus diskriminasi terhadap hak perempuan di lingkup sosial, menuntut gaji yang setara, hak hukum, hak pilih hak suara, dan hak pendidikan.
Derasnya arus informasi di era modern membawa feminisme kepada tujuan yang berbeda, muncul lah fenomena “Patriarki ganti casing” di mana feminisme sekarang dianggap sebagai perlawanan dan bentuk dominasi perempuan di lingkup publik. Layaknya budaya patriarki, fenisme yang beredar di internet kini merujuk pada suatu gerakan yang menuntut laki-laki untuk memberikan queen treatment penuh bahkan muncul bare minimum yang diukur dari materi dan kemewahan.
Fenomena ini muncul karena adanya cherry-picking (pilih-pilih) terhadap esensi kesetaraan. Sebagian narasi internet modern menginginkan keuntungan dari modernitas (kebebasan dan hak suara), namun di saat bersamaan tetap ingin mempertahankan keuntungan dari sistem tradisional seperti kewajiban finansial mutlak di tangan laki-laki.
Ketika pemikiran ini mendominasi, tujuan awal feminisme untuk menghapus diskriminasi dan membangun kemitraan yang setara (equal partnership) justru kabur, digantikan oleh kompetisi materi dan standar hubungan yang tidak realistis. Dampak dari fenomena “Patriarki ganti casing” ini seakan menciderai tujuan awal lahirnya fenisme, dimana feminisme tidak hanya menuntut untuk kesetaraan perempuan saja, melainkan seluruh bagian dari masyarakat yang termarjinalkan.
Konstruksi sosial yang awalnya dilawan oleh feminisme karena membebani satu gender, kini diadopsi kembali dengan label baru yang seolah-olah progresif. Laki-laki tetap dituntut menjadi penyokong finansial tunggal yang tanpa cela, sementara ruang untuk kerentanan emosional atau kerja sama finansial dalam hubungan menjadi tertutup. Akibatnya, hubungan romantis yang seharusnya menjadi ruang aman berbasis saling menghormati, bergeser menjadi transaksi transaksional yang melelahkan bagi kedua belah pihak.
Lebih jauh lagi, distorsi informasi di ruang digital ini menciptakan polarisasi yang semakin tajam antar gender. Konten-konten media sosial yang mengagungkan kemewahan sebagai standar bare minimum memicu resistensi keras dari kelompok laki-laki. Kritik yang muncul sering kali menyerang feminisme secara keseluruhan, padahal yang mereka kritik adalah produk salah kaprah yang beredar di linimasa. Kesalahpahaman masal ini pada akhirnya melahirkan sentimen antifeminisme yang kuat.
Ahli sosiologi kontemporer menyebut fenomena ini sebagai "Neo-liberal Feminism" sebuah kondisi di mana feminisme tidak lagi fokus pada keadilan sosial bagi kaum marjinal, melainkan fokus pada keuntungan, status, dan gaya hidup individu yang egois. Dalam karyanya pada tahun 2014, Catherine Rottenberg berpendapat bahwa feminisme neoliberal adalah sebuah pergeseran di mana cita-cita emansipatoris feminisme telah dilebur dengan rasionalitas pasar.
Feminisme ini mengadopsi nilai-nilai individualisme, kewirausahaan, dan kompetisi, mengubah perempuan menjadi "modal manusia" yang bertanggung jawab penuh atas kesuksesan atau kegagalan mereka sendiri tanpa mempersoalkan ketidaksetaraan struktural
Feminisme tidak pernah berbicara tentang bagaimana perempuan menguasai atau mengeksploitasi laki-laki, melainkan bagaimana kedua gender dapat lepas dari belenggu ekspektasi gender yang kaku. Menuntut hak yang sama berarti juga siap berbagi tanggung jawab yang sama. (*)
Editor: Zahra Putri Pratiwig
Komentar (0)
Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!