Oleh: Muhammad Alwi Shihab (Ketua Umum PC IMM Kota Surabaya)

Setiap zaman menghadirkan tantangan yang berbeda bagi organisasi mahasiswa. Ada masa ketika ruang berekspresi dibatasi, ada pula masa ketika tantangan terbesar justru datang dari menurunnya partisipasi kader. Hari ini, salah satu persoalan yang mengemuka adalah bagaimana sebuah gerakan memaknai hubungannya dengan negara dan berbagai institusinya.

Belakangan, muncul beragam pandangan mengenai kehadiran pimpinan organisasi mahasiswa dalam agenda-agenda kelembagaan. Sebagian menganggap hal itu sebagai bagian dari komunikasi yang wajar, sementara yang lain memandangnya sebagai sesuatu yang berpotensi mengurangi independensi organisasi.

Saya melihat perbedaan pandangan tersebut sebagai sesuatu yang lumrah. Justru dari ruang dialog seperti itulah organisasi kader dapat tumbuh menjadi lebih dewasa. Bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), independensi merupakan prinsip yang tidak dapat dikompromikan. Namun, independensi juga tidak boleh dipahami secara sempit.

Menjaga independensi bukan berarti menutup diri dari komunikasi dengan negara atau menghindari setiap forum yang melibatkan institusi pemerintah. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa sikap, keputusan, dan arah gerakan tetap lahir dari nilai-nilai Islam, mekanisme organisasi, serta kepentingan umat, bukan karena tekanan ataupun kepentingan pihak lain.

Sebagai organisasi kemahasiswaan, IMM tidak hidup di ruang yang terpisah dari kehidupan masyarakat. Kita berinteraksi dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, DPRD, aparat penegak hukum, organisasi kemasyarakatan, media, hingga berbagai komunitas. Hubungan seperti ini semestinya dipahami sebagai sarana membangun komunikasi, menyampaikan gagasan, dan memperjuangkan kepentingan publik, bukan sebagai bentuk keberpihakan politik.

Karena itu, saya tidak melihat bahwa menghadiri undangan dari sebuah institusi secara otomatis menghilangkan independensi organisasi. Yang menjadi ukuran bukanlah siapa yang mengundang atau forum apa yang dihadiri, melainkan apakah setelah itu organisasi masih memiliki keberanian menyampaikan kritik, menjaga sikap kritis, dan mengambil keputusan berdasarkan mekanisme yang benar.

Menolak berdialog tidak selalu mencerminkan independensi. Sebaliknya, kemampuan berdialog tanpa kehilangan prinsip justru menunjukkan kedewasaan organisasi dalam menjalankan perannya di ruang publik.

Dalam sejarah Muhammadiyah, hubungan dengan negara selalu dibangun di atas semangat menghadirkan kemaslahatan. Di saat yang sama, Muhammadiyah tidak pernah kehilangan keberanian untuk memberikan kritik ketika kebijakan yang diambil dinilai tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Tradisi inilah yang menurut saya perlu terus dijaga oleh IMM. Komunikasi boleh dibangun, tetapi tidak boleh berubah menjadi ketergantungan. Kedekatan juga tidak boleh mengurangi keberanian menjalankan amar ma’ruf nahi munkar.

Berangkat dari pemahaman tersebut, saya memutuskan memenuhi undangan yang ditujukan kepada PC IMM Kota Surabaya. Keputusan itu saya ambil sebagai bagian dari tanggung jawab kelembagaan yang masih berada dalam koridor organisasi. Saya memahami bahwa langkah tersebut dapat memunculkan penilaian yang berbeda di kalangan kader, dan saya menghormati setiap kritik yang disampaikan dengan niat baik.

Kritik merupakan bagian dari tradisi intelektual IMM. Karena itu, ia tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat agar setiap kebijakan selalu dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai pimpinan, saya juga berkewajiban menjelaskan alasan di balik setiap keputusan yang diambil.

Yang terpenting bagi saya adalah memastikan bahwa setelah hadir dalam ruang-ruang komunikasi tersebut, IMM tetap berdiri di atas prinsipnya. Kita harus tetap berpihak kepada kepentingan umat, menjaga independensi gerakan, dan tidak ragu menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang bertentangan dengan nilai keadilan, kemanusiaan, serta kemaslahatan.

Di era media sosial, sebuah foto sering kali lebih cepat membentuk persepsi daripada penjelasan yang utuh. Situasi ini menjadi pelajaran bahwa komunikasi kelembagaan harus diikuti dengan komunikasi publik yang baik. Ke depan, organisasi perlu memiliki pedoman yang lebih jelas mengenai representasi pimpinan dalam forum eksternal agar tidak menimbulkan ruang bagi kesalahpahaman.

Saya berharap dinamika ini menjadi momentum untuk memperkuat budaya musyawarah di lingkungan IMM. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam organisasi kader. Yang perlu dijaga adalah bagaimana setiap perbedaan diselesaikan melalui dialog yang sehat, argumentasi yang kuat, dan penghormatan terhadap mekanisme organisasi. Persatuan tidak dibangun dengan menghilangkan perbedaan, tetapi dengan mengelolanya secara dewasa.

Sebagai Ketua Umum PC IMM Kota Surabaya, saya tidak berharap setiap keputusan akan selalu disetujui oleh seluruh kader. Namun, saya berharap setiap keputusan dinilai secara proporsional, dengan melihat niat, proses, serta pertanggungjawaban yang menyertainya. Kepemimpinan bukan diukur dari sedikitnya kritik yang diterima, melainkan dari keberanian mendengarkan kritik, menjelaskan dasar pertimbangan, dan tetap teguh memegang nilai-nilai organisasi.

Pada akhirnya, marwah IMM tidak hanya ditentukan oleh keberanian mengkritik kekuasaan. Marwah itu juga dijaga melalui integritas, kejujuran, penghormatan terhadap mekanisme organisasi, serta konsistensi memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa.

Semoga setiap dinamika yang kita hadapi menjadi jalan untuk memperkuat kualitas kader, memperkaya tradisi intelektual, dan meneguhkan kembali jati diri IMM sebagai gerakan mahasiswa Islam yang independen, berintegritas, dan membawa semangat Islam Berkemajuan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)

Editor: Mazley Insafi