Dibalik jeruji besi yang berkarat,

Seekor jiwa menghitung hari tanpa makan layak,

Tulang rusuknya membentuk peta kelaparan,

Sedang angka-angka mengalir ke kantong sang keparat.

 

Puluhan miliar menguap dalam sekejap,

Menjelma sunyi di mangkuk pakan yang kosong,

Menjelma demam di tubuh yang dulu gagah,

Menjelma nyawa yang pergi tanpa suara.

 

Delapan tahun kebenaran tersandera di balik stempel,

Pengawas luruh di atas lembar-lembar sunyi,

Lupa bahwa di balik tiap gores tinta,

Berdenyut hidup yang tak pernah kenal arti kata korupsi.

 

Jeruji telah mengatup atas satu nama,

Tapi luka di kandang itu masih basah,

Menanti langkah yang tak sekadar datang,

Melainkan mendengar suara yang lama dipendam waktu.