Takbir menjadi salah satu syiar penting dalam perayaan Idulfitri maupun Iduladha. Kumandang kalimat Allahu Akbar yang menggema di masjid, musala, hingga rumah-rumah umat Islam bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk pengagungan kepada Allah Swt. Meski demikian, di tengah masyarakat sering dijumpai perbedaan lafaz takbir yang dibaca, terutama terkait jumlah pengulangan kalimat Allahu Akbar.
Dalam pandangan Muhammadiyah, khususnya melalui keputusan Majelis Tarjih, lafaz takbir Id yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. dipilih berdasarkan riwayat-riwayat hadis yang dinilai lebih kuat. Salah satu lafaz takbir yang dijadikan rujukan berasal dari riwayat yang disandarkan kepada Abdullah bin Mas'ud, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib, yaitu:
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Yang berarti:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan bagi Allah-lah segala puji.”
Riwayat tersebut termuat dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah dan Al-Awshat karya Ibn al-Mundzir. Dari redaksi hadis tersebut, Majelis Tarjih memahami bahwa ucapan Allahu Akbar pada takbir Id diucapkan dua kali, bukan tiga kali.
Selain itu, terdapat pula riwayat dari Salman Al-Farisi melalui hadis yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq. Dalam riwayat tersebut terdapat dua versi lafaz. Pertama:
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
dan kedua:
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
Perbedaan ini menunjukkan adanya variasi dalam praktik pelafalan takbir di kalangan ulama salaf. Namun, melalui Muktamar Tarjih XX yang berlangsung pada 18–23 Rabiulakhir 1359 H di Garut, Jawa Barat, Majelis Tarjih Muhammadiyah memilih menggunakan lafaz takbir dengan pengucapan Allahu Akbar sebanyak dua kali.
Keputusan tersebut bukan dimaksudkan untuk menyalahkan bentuk takbir lain yang berkembang di tengah masyarakat Islam, melainkan sebagai bentuk tarjih atau pemilihan pendapat yang dianggap lebih kuat berdasarkan kajian hadis. Karena itu, perbedaan jumlah pengulangan takbir semestinya dipahami sebagai bagian dari khazanah fiih Islam yang memiliki dasar riwayat masing-masing.
Dalam konteks kehidupan umat Islam di Indonesia yang majemuk, sikap saling menghormati dalam perbedaan praktik ibadah menjadi hal penting untuk dijaga. Substansi utama dari takbir Id sejatinya adalah mengagungkan Allah Swt., menumbuhkan rasa syukur, serta memperkuat semangat persaudaraan dan ketakwaan di hari raya.
Komentar (0)
Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!