Sekretaris Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Alfianur Rizal Ramadhani, mengajak Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Surabaya untuk memperbarui pola pendekatan terhadap basis kader pelajar.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan pembekalan dalam Rapat Kerja (Raker) PC IMM Kota Surabaya periode 2026–2027 di Pusat Dakwah Muhammadiyah (PDM) Surabaya, Ahad (24/5/2026).

Dalam paparannya, Alfianur menyampaikan otokritik mengenai tantangan perkaderan IMM kontemporer, khususnya di wilayah kampus umum. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki aset (resource) yang sangat besar, mulai dari infrastruktur persyarikatan hingga puluhan sekolah menengah. Namun, potensi besar tersebut sering kali belum terkapitalisasi dengan baik karena pola pendekatan organisasi yang cenderung lambat dibandingkan dinamika di lapangan.

"Kita ini sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa besar di berbagai tingkatan. Persoalannya, kadang kita kurang taktis dalam membaca peluang dan melakukan pendekatan di akar rumput," ujarnya.

Memutus Mata Rantai yang Terputus

Alfianur menyoroti adanya missing link atau mata rantai yang terputus antara Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di tingkat sekolah dengan IMM di perguruan tinggi. Berdasarkan pengalamannya sebagai praktisi pendidikan, banyak alumni pengurus IPM di sekolah-sekolah Muhammadiyah Surabaya yang potensial, namun tidak melanjutkan proses perkaderannya ke IMM setelah memasuki dunia perkuliahan.

Salah satu penyebab utamanya, menurut Alfianur, adalah kurangnya kehadiran dan pendampingan secara emosional dari kader-kader IMM di lingkungan sekolah menengah secara konsisten.

"Kader IMM harus lebih sering turun ke sekolah-sekolah Muhammadiyah, bukan sekadar hadir saat ada keperluan formal atau peminjaman tempat. Kita harus merawat akar rumput yang berangkat dari pelajar ini sejak dini," tegasnya.

Pendekatan Humanis untuk All New Gen Z

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa karakteristik generasi muda saat ini, atau yang ia sebut sebagai All New Gen Z, memiliki psikologi yang sangat berbeda. Pendekatan perkaderan yang tiba-tiba bermuatan doktrinasi berat atau politik pergerakan sering kali justru memicu resistensi atau beban mental bagi mahasiswa baru.

Sebagai solusi, Alfianur menawarkan strategi "main cantik" melalui program pendampingan berbasis kebutuhan akademik dan personal siswa kelas XII. Pertama, pada aspek fasilitasi akademik, IMM dapat mengadakan kelas pembinaan atau diskusi bersama mengenai persiapan matang menuju Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Swasta (PTS).

Kedua, melalui mentoring jurusan dan kampus, kader IMM memberikan pengenalan objektif mengenai realitas program studi serta mendampingi calon mahasiswa untuk mengenal atmosfer dunia perkuliahan secara langsung melalui kegiatan campus tour.

Terakhir, dalam hal pemberdayaan berkelanjutan, IMM didorong untuk menduplikasi konsep kampung binaan yang selama ini sukses dikelola organisasi ke dalam bentuk sekolah pembinaan yang lebih adaptif bagi para pelajar.

Melalui strategi pendampingan tersebut, diharapkan para alumni pelajar Muhammadiyah tidak lagi mengalami disorientasi atau merasa asing saat memasuki hari pertama perkuliahan.

"Ketika mereka masuk kampus, mereka sudah memiliki mentor atau kakak pendamping dari IMM yang mengarahkan. Dengan begitu, fondasi gerakan kita di masa depan akan semakin kuat dan terjaga," pungkasnya. (*)