Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Airlangga menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama nelayan Sukolilo di kawasan pesisir Pantai Kenjeran pada hari Jumat (5/6/2026) sebagai bagian dari pengumpulan data berbasis partisipatif untuk persiapan Literasea Fest 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 20–21 Juni mendatang.

Kegiatan FGD ini menghadirkan ruang dialog antara mahasiswa dan masyarakat nelayan untuk menggali informasi mengenai kondisi kehidupan nelayan serta berbagai dinamika yang terjadi di wilayah pesisir.

Dalam diskusi, nelayan menyampaikan adanya perubahan kondisi lingkungan laut yang berdampak pada hasil tangkapan. Jika sebelumnya hasil tangkapan kerang tergolong melimpah, dalam beberapa tahun terakhir jumlahnya mengalami penurunan.

“Dulu hasil kerang bisa sampai 12–13 kotak, sekarang tinggal sekitar 8 kotak. Sejak 2001 lumpur makin menumpuk dan hasil tangkapan terus menurun,” ujar salah satu nelayan.

Penurunan hasil tangkapan tersebut turut memengaruhi pendapatan nelayan. Dalam kondisi tertentu, hasil melaut disebut tidak selalu mampu menutup biaya operasional.

“Kalau dulu sehari bisa dapat puluhan kilo, sekarang untuk dapat setengah kilo saja sudah susah,” tambahnya.

Selain perubahan lingkungan, nelayan juga menyinggung rencana pembangunan pesisir dalam proyek “Surabaya Waterfront Land” (SWL) yang berkaitan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN). Mereka menyampaikan penolakan terhadap rencana tersebut karena dinilai berpotensi merusak ekosistem laut sekaligus berdampak pada aktivitas melaut.

“Sejak itu dicetuskan, kami semua sudah menolak, tapi tidak ditanggapi. Bahkan dalam perencanaannya, SWL ini tidak melibatkan masyarakat nelayan di sini,” ungkap perwakilan nelayan.

Sejumlah nelayan menyebut bahwa proses pembahasan proyek tersebut masih berlangsung, sehingga belum terdapat keputusan final terkait kelanjutan pembangunan.

Di sisi lain, nelayan Sukolilo juga menekankan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi berbagai perubahan yang terjadi.

“Yang paling kami utamakan itu berorganisir dan bergotong royong. Dari dulu sampai sekarang, nelayan di sini selalu kompak menghadapi masalah bersama,” ujarnya.

Diskusi juga memuat pembahasan mengenai aspek sosial masyarakat pesisir, termasuk perhatian terhadap pendidikan, pembinaan moral, serta pelestarian budaya yang masih dijalankan di lingkungan nelayan.

Hasil FGD ini akan menjadi bagian dari bahan penyusunan kegiatan Literasea Fest 2026 yang diselenggarakan oleh IMM UNAIR dan Komunitas Pojok Literasi.

Ketua Pelaksana dari Literasea Fest, Maysha Akmala, menyampaikan. "Melalui FGD ini, kami ingin mengetahui pandangan warga terkait isu ekstraktivisme atau praktik pemanfaatan sumber daya alam dalam skala besar yang berdampak pada lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir. Literasea Fest 2026 nantinya kami harap bisa menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan masyarakat, komunitas, akademisi, dan generasi muda untuk memperkuat kesadaran publik terhadap isu-isu pesisir yang selama ini luput dari perhatian." (*)

Penulis: Balqis Saila Sufa Al Zakiyah

Editor: M Tanwirul Huda