drh. Devi Kurniawan menyampaikan sejumlah materi terkait pemilihan hewan kurban, penanganan penyakit ternak, hingga teknik penyimpanan daging saat menjadi pemateri dalam Pelatihan Menyembelih Hewan Kurban sesuai Syariat Islam yang digelar Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Surabaya pada Kamis (14/5/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) dan diikuti kader IMM sebagai bekal sebelum terjun ke masyarakat pada momentum Iduladha.

Dalam pemaparannya, Devi mencontohkan ciri-ciri daging yang baik, seperti warna daging yang segar dan kondisi hewan yang sehat. Menurutnya, masyarakat perlu memahami perbedaan jenis hewan, seperti domba, kambing, hingga sapi PO (Peranakan Ongole).

“Nah, ini contoh daging yang bagus, warnanya masih segar. Ini domba, beda dengan kambing. Kalau domba makannya cenderung rumput, sedangkan kambing biasanya daun-daunan. Ini sapi PO peranakan Ongole, bukan sapi India,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa cara memilih hewan kurban harus dimulai dari pengamatan fisik hewan. Hewan yang sehat umumnya terlihat lincah, mata tampak segar, serta memiliki nafsu makan yang baik.

“Intinya, hewan itu terlihat lincah, matanya segar, terlihat fresh, itu biasanya sehat,” ujarnya.

Devi juga mengingatkan bahwa hewan yang dijual di lapak perkotaan tidak selalu dalam kondisi prima karena mengalami stres perjalanan dan transportasi. Oleh karena itu, calon pembeli harus memeriksa kondisi hewan secara menyeluruh, mulai dari mulut, hidung, mata, hingga kaki.

Ia kemudian menjelaskan tentang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat merebak pada 2021 saat pandemi Covid-19. Menurutnya, pola penularan PMK hampir serupa dengan Covid-19 karena dapat menyebar melalui udara.

“Penularannya lewat udara. Gejalanya biasanya air liur berlebihan, luka pada mulut, lidah, dan kuku,” katanya.

Devi menegaskan bahwa hewan kurban tidak boleh pincang. Kondisi kaki hewan harus dipastikan normal dan tidak mengalami gangguan.

“Kalau memilih hewan, coba didekati lalu diberi makanan hijau. Kalau hewan masih mau merespons dan nafsu makannya bagus, biasanya sehat,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) sebagai syarat utama sebelum membeli hewan kurban.

Selain membahas kesehatan hewan, Devi memberikan edukasi mengenai penyimpanan daging kurban. Menurutnya, kesalahan paling umum masyarakat adalah langsung menyiram daging beku dengan air saat akan dimasak.

“Kalau daging dari freezer langsung dibanjur air, teksturnya berubah dan rasanya berbeda,” ujarnya.

Ia menyarankan agar daging dipindahkan terlebih dahulu dari freezer ke chiller sebelum dimasak agar proses thawing berlangsung bertahap dan kualitas daging tetap terjaga.

Devi juga mengingatkan agar jeroan dipisahkan dari daging karena menjadi sumber bakteri.

“Jeroan itu sumber bakteri, jadi harus dipisahkan dari daging, termasuk saat pembagian,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi, ia turut menjelaskan tentang cacing hati pada hewan kurban. Menurutnya, bagian hati yang terinfeksi ringan masih dapat dipotong dan dibuang sebagian, tetapi jika infeksi sudah menyeluruh maka tidak layak dikonsumsi.

Menutup pemaparannya, Devi mengajak peserta untuk terus mengedukasi masyarakat terkait tata cara pemilihan dan penanganan hewan kurban yang benar.

“Kalian harus terus menyampaikan hal-hal yang benar. Lama-lama masyarakat akan memahami,” pungkasnya. (*)