Oleh: Wahyudi Kholilullah (Anggota Bidang Pengembangan Jaringan Perguruan Tinggi PC IMM Kota Surabaya)
Surabaya merupakan kota yang selama ini saya tinggali. Berbagai pengalaman, baik manis maupun pahit, telah saya lalui di kota ini. Sebagai insan teknik sipil, saya melihat salah satu fenomena yang cukup akrab terjadi di Surabaya adalah banjir atau genangan air yang muncul di sejumlah wilayah ketika musim hujan tiba. Setiap kali genangan muncul di ruas-ruas jalan kota, hujan hampir selalu menjadi pihak pertama yang disalahkan. Padahal, hujan hanyalah pemicu yang memperlihatkan kondisi sesungguhnya dari lingkungan dan infrastruktur perkotaan.
Tidak sedikit kasus ketika curah hujan yang relatif singkat sudah mampu menimbulkan genangan di beberapa lokasi. Sebaliknya, terdapat wilayah lain yang tetap aman meskipun menerima hujan dengan intensitas yang lebih tinggi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa banjir di perkotaan modern tidak lagi sekadar soal berapa banyak air yang turun dari langit, melainkan juga tentang bagaimana kota dan warganya memperlakukan lingkungan tempat air tersebut mengalir. Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca melihat persoalan banjir secara lebih utuh sekaligus mendorong kepedulian bersama dalam merawat kota dengan lebih bijak.
Jika Bukan Hanya Hujan, Lalu Apa Penyebab Banjir di Surabaya?
Bencana banjir tentu sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia, termasuk warga Surabaya yang dalam beberapa kesempatan masih menghadapi genangan maupun banjir di sejumlah wilayah. Ketika banjir terjadi, hujan dengan intensitas tinggi memang sering dianggap sebagai penyebab utama karena volume air yang turun dalam waktu singkat dapat melampaui kapasitas resapan tanah, saluran drainase, maupun sungai yang berfungsi menampung dan mengalirkannya.
Namun, banjir di kawasan perkotaan tidak dapat dijelaskan hanya dari faktor curah hujan semata. Pertumbuhan kota yang pesat telah mengubah banyak lahan terbuka menjadi kawasan terbangun sehingga kemampuan tanah dalam menyerap air semakin berkurang. Selain itu, penyumbatan saluran drainase akibat sampah, sedimentasi pada sungai dan saluran air, pembangunan yang kurang memperhatikan sistem tata air, serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan turut memperbesar risiko terjadinya banjir.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banjir pada dasarnya merupakan hasil interaksi antara faktor alam dan aktivitas manusia. Oleh karena itu, upaya penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan dan fungsi sistem drainase perkotaan.
Kesadaran Lingkungan Warga, Faktor Kecil yang Berdampak Besar
Di tengah berbagai upaya pemerintah dalam membangun dan memperbaiki infrastruktur pengendali banjir, terdapat satu faktor yang sering luput dari perhatian, yaitu kesadaran lingkungan masyarakat. Saya pribadi pernah beranggapan bahwa membuang satu bungkus makanan, sedotan, puntung rokok, atau botol plastik sembarangan tidak akan memberikan dampak yang berarti. Padahal, ketika perilaku tersebut dilakukan oleh ribuan orang setiap hari, sampah-sampah kecil itu dapat menumpuk di saluran drainase, selokan, maupun sungai dan menghambat aliran air.
Akibatnya, kapasitas saluran yang semula dirancang untuk mengalirkan air hujan menjadi berkurang dan lebih rentan menyebabkan genangan ketika hujan turun. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan banjir bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau instansi terkait, melainkan juga berkaitan erat dengan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitarnya.
Kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya mungkin terlihat sebagai tindakan sederhana. Namun, langkah tersebut merupakan salah satu upaya paling mendasar dalam mencegah terjadinya banjir. Oleh karena itu, membangun budaya peduli lingkungan perlu dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu.
Perubahan besar sering kali berawal dari tindakan sederhana yang dilakukan bersama-sama. Dalam konteks ini, berbagai organisasi, komunitas, dan kelompok masyarakat juga dapat mengambil peran penting dengan memberikan teladan perilaku yang peduli terhadap lingkungan sekitar.
Banjir dan Tanggung Jawab Bersama
Pada akhirnya, banjir di Surabaya tidak dapat dipandang sebagai persoalan yang berdiri sendiri. Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan berbagai upaya melalui pembangunan dan pemeliharaan saluran drainase, rumah pompa, bozem, serta berbagai infrastruktur pengendali banjir lainnya. Berbagai fasilitas tersebut menunjukkan bahwa penanganan banjir terus menjadi perhatian dalam pembangunan kota. Namun, sebaik apa pun infrastruktur yang dibangun, hasilnya tidak akan optimal tanpa dukungan masyarakat yang turut menjaga lingkungan di sekitarnya.
Banjir bukan hanya tentang air yang turun dari langit, tetapi juga tentang bagaimana air tersebut diperlakukan ketika sampai di permukaan bumi. Ketika saluran air dipenuhi sampah, ketika ruang resapan semakin berkurang, atau ketika kepedulian terhadap lingkungan mulai memudar, maka risiko banjir akan semakin besar. Sebaliknya, tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan saluran air di lingkungan sekitar, dan tidak menganggap remeh sampah-sampah kecil dapat menjadi kontribusi nyata dalam mengurangi potensi banjir.
Sebagai kota yang terus berkembang, Surabaya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih tangguh terhadap banjir. Infrastruktur yang baik merupakan fondasi penting, tetapi kesadaran warga adalah faktor yang menentukan efektivitasnya. Dengan mulai peduli terhadap hal-hal kecil di sekitar kita, setiap warga memiliki peran dalam menjaga Surabaya agar tetap nyaman, aman, dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan lingkungan pada masa mendatang. (*)
Editor: M Tanwirul Huda
Komentar (0)
Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!