Oleh: Ghina Ruqayatul Malihah (Ketua Bidang Immawati PC IMM Kota Surabaya)
Sebuah panggung publik semestinya menjadi ruang untuk mengapresiasi prestasi, terutama ketika yang hadir adalah seorang anak yang membawa karya dan pencapaiannya. Namun, ruang apresiasi dapat kehilangan maknanya ketika perhatian justru dialihkan kepada candaan tentang pacaran, asmara, atau kemungkinan hubungan romantis seorang anak perempuan.
Persoalannya bukan semata-mata apakah candaan tersebut dimaksudkan untuk menghibur. Yang lebih penting adalah pesan sosial yang muncul ketika seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun ditempatkan dalam percakapan tentang relasi romantis di hadapan publik. Ketika hal semacam itu dianggap lumrah karena disebut sebagai candaan atau bentuk perhatian, masyarakat perlu bertanya: mengapa prestasi seorang anak perempuan begitu mudah dikaitkan dengan kehidupan personalnya?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika candaan datang dari figur dewasa yang memiliki otoritas dan disampaikan di ruang publik dengan jangkauan penonton yang luas. Dalam situasi semacam ini, terdapat ketimpangan posisi antara orang dewasa dan anak. Karena itu, ukuran kepantasan tidak cukup hanya dilihat dari niat orang yang menyampaikan candaan, tetapi juga dari konteks, posisi anak, serta pesan yang diterima publik.
Bukan Sekadar Persoalan Humor
Candaan mengenai pacaran mungkin dianggap ringan oleh sebagian orang. Namun, humor tidak pernah sepenuhnya bebas nilai. Apa yang dijadikan bahan lelucon dan kepada siapa lelucon tersebut diarahkan dapat mencerminkan cara masyarakat memandang seseorang.
Dalam kasus anak perempuan, komentar mengenai calon pasangan, pacaran, atau kehidupan asmara dapat menggeser perhatian dari kapasitas yang seharusnya mendapatkan apresiasi. Anak yang datang membawa karya dan prestasi akhirnya dibicarakan melalui kemungkinan relasinya dengan laki-laki.
Di sinilah persoalan etika muncul. Seorang anak tidak seharusnya diperlakukan sebagai objek hiburan hanya karena berada di hadapan figur publik. Ia tetap merupakan individu yang sedang berkembang dan memiliki hak atas martabat, privasi, serta perlakuan yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Niat baik juga tidak serta-merta membuat sebuah tindakan menjadi tepat. Candaan yang dimaksudkan sebagai bentuk keakraban dapat tetap menimbulkan ketidaknyamanan atau mempermalukan seseorang, terlebih jika disampaikan di hadapan khalayak luas.
Karena itu, mengatakan “hanya bercanda” tidak cukup untuk mengakhiri kritik. Humor tetap perlu ditempatkan dalam konteks relasi kuasa, usia, dan situasi ketika candaan tersebut disampaikan.
Membaca Candaan melalui Benevolent Sexism
Fenomena tersebut dapat dibaca melalui konsep Ambivalent Sexism Theory yang diperkenalkan Peter Glick dan Susan Fiske. Teori tersebut membedakan seksisme menjadi dua bentuk, yakni hostile sexism atau seksisme yang bersifat terbuka dan bermusuhan serta benevolent sexism, yaitu seksisme yang tampil dalam bentuk positif, hangat, atau protektif.
Benevolent sexism kerap sulit dikenali karena dibungkus dengan perhatian. Seseorang dapat terlihat melindungi, menyayangi, atau memperlakukan perempuan secara istimewa, tetapi pada saat yang sama menempatkan perempuan dalam posisi yang dianggap membutuhkan pengaturan dan perlindungan dari laki-laki.
Dalam konteks anak perempuan, perilaku paternalistik semacam itu perlu dilihat secara kritis. Ketika seorang anak ditanya tentang pacaran atau calon pasangan dengan nada bercanda, misalnya, perhatian dapat bergeser dari dirinya sebagai individu berprestasi menjadi dirinya sebagai seseorang yang kelak memiliki hubungan dengan laki-laki.
Bukan berarti setiap candaan mengenai pacaran secara otomatis merupakan bentuk seksisme. Namun, perilaku tersebut dapat dianalisis melalui perspektif benevolent sexism ketika candaan atau perhatian itu secara konsisten menempatkan anak perempuan dalam kerangka relasi dengan laki-laki, sementara kapasitas dan prestasinya justru berada di belakang.
Dengan perspektif tersebut, kritik tidak diarahkan pada niat pribadi seseorang, melainkan pada konstruksi sosial yang mungkin direproduksi melalui perilaku tersebut.
Ketika Anak Ditarik ke Dunia Orang Dewasa
Persoalan lainnya adalah batas antara dunia anak dan dunia orang dewasa. Anak berusia sepuluh tahun berada pada tahap perkembangan yang berbeda dari orang dewasa. Karena itu, interaksi dengannya perlu mempertimbangkan usia, pemahaman, dan kondisi emosionalnya.
Mengaitkan anak dengan hubungan romantis di ruang publik dapat membuat anak berada dalam situasi yang sebenarnya tidak perlu ia hadapi. Perhatian yang seharusnya diarahkan pada karya atau pencapaiannya dapat berubah menjadi pembicaraan mengenai kehidupan personal.
Di titik ini, konsep agensi anak menjadi penting. Menghormati agensi anak bukan berarti menempatkan anak sebagai orang dewasa atau memberikan seluruh kewenangan pengambilan keputusan kepadanya. Agensi anak berarti mengakui bahwa anak memiliki suara, martabat, serta hak untuk diperlakukan sebagai subjek dalam proses perkembangannya.
Karena itu, figur dewasa, terlebih mereka yang memiliki posisi publik, memiliki tanggung jawab untuk memastikan interaksi dengan anak tidak merendahkan, mempermalukan, atau menggeser identitas anak menjadi sekadar bahan candaan.
Dari Candaan Menuju Normalisasi
Fenomena semacam ini juga dapat ditempatkan dalam pembahasan yang lebih luas mengenai normalisasi seksisme. Berbagai kajian tentang budaya kekerasan menunjukkan bahwa perilaku diskriminatif atau merendahkan sering kali tumbuh dalam lingkungan sosial yang membiarkan stereotip dan candaan seksis dianggap biasa.
Konsep Rape Culture Pyramid, misalnya, digunakan untuk menggambarkan bagaimana perilaku dan norma sosial yang merendahkan dapat berada pada lapisan bawah dari ekosistem kekerasan yang lebih luas. Pada lapisan tersebut terdapat berbagai bentuk normalisasi, seperti stereotip gender, objektifikasi, candaan seksis, dan pembiaran terhadap perilaku yang merendahkan.
Namun, penting untuk tidak memahami piramida tersebut sebagai hubungan sebab-akibat yang linear. Sebuah candaan tidak berarti secara langsung menyebabkan kekerasan seksual. Persoalannya adalah bagaimana toleransi terhadap perilaku seksis dapat ikut membentuk lingkungan sosial yang membuat tindakan diskriminatif atau merendahkan lebih mudah diterima.
Dengan demikian, kritik terhadap candaan bernuansa asmara kepada anak bukan berarti menyamakan candaan tersebut dengan kekerasan seksual. Kritiknya terletak pada pertanyaan yang lebih mendasar: nilai sosial apa yang sedang dinormalisasi ketika perilaku semacam itu terus dianggap lucu dan tidak bermasalah?
Jika masyarakat terus membiarkan anak perempuan didefinisikan melalui relasinya dengan laki-laki, terdapat risiko bahwa prestasi, kecerdasan, dan kapasitas kepemimpinannya menjadi kurang mendapatkan perhatian.
Mengembalikan Panggung kepada Prestasi Anak
Figur publik memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada sekadar individu biasa. Setiap ucapan yang disampaikan di ruang publik dapat menjadi contoh bagi masyarakat, terutama ketika disampaikan di hadapan jutaan orang.
Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah interaksi dengan anak seharusnya bukan hanya seberapa ramai penonton tertawa. Ukuran yang lebih penting adalah apakah anak tersebut merasa dihargai, didengarkan, dan diapresiasi atas dirinya sendiri.
Anak perempuan yang datang ke panggung dengan karya tidak membutuhkan pertanyaan tentang siapa pacarnya kelak. Ia membutuhkan pengakuan bahwa kecerdasan, keberanian, dan pencapaiannya layak mendapatkan apresiasi.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata tentang satu candaan. Ia merupakan kesempatan untuk mengevaluasi cara masyarakat memandang anak perempuan dan bagaimana figur publik menggunakan ruang yang dimilikinya.
Panggung publik semestinya memperbesar suara dan prestasi anak, bukan menggesernya ke ranah asmara. Kedewasaan seorang figur publik bukan hanya terlihat dari kemampuannya membuat orang tertawa, tetapi juga dari kemampuannya memahami kapan sebuah candaan perlu dihentikan demi menjaga martabat orang lain, terlebih seorang anak. (*)
Editor: M. Tanwirul Huda
Komentar (0)
Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!