Oleh: Abdul Rohman Aziz (Sekretaris Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman PC IMM Kota Surabaya)
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Allah Swt. memasukkan bulan ini ke dalam golongan asyhurul hurum, yaitu empat bulan yang dimuliakan. Keempat bulan tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, meningkatkan ketakwaan, serta menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan dan permusuhan. Karena itu, datangnya bulan Muharram bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah, melainkan momentum untuk melakukan perbaikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Memasuki Tahun Baru Hijriah 1448 H, sebagian orang sering memaknainya sebagai pergantian tahun semata. Padahal, di balik pergantian tahun tersebut terdapat pelajaran penting bagi kehidupan umat Islam. Penanggalan Hijriah ditetapkan berdasarkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw. dari Kota Makkah menuju Kota Madinah. Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, melainkan simbol perubahan menuju keadaan yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bermakna.
Sesampainya di Madinah, Nabi Muhammad saw. membangun persaudaraan yang kokoh antara kaum Muhajirin dan kaum Ansar. Kaum Muhajirin adalah mereka yang meninggalkan kampung halaman, harta benda, dan kenyamanan hidup demi mempertahankan keimanan. Sementara itu, kaum Ansar merupakan penduduk Madinah yang menyambut kedatangan saudara-saudaranya dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan.
Kaum Ansar tidak hanya menyambut kaum Muhajirin dengan ucapan selamat datang. Mereka juga berbagi tempat tinggal, makanan, harta benda, dan berbagai kebutuhan lainnya. Mereka mengutamakan kepentingan saudara-saudaranya di atas kepentingan pribadi meskipun berada dalam keterbatasan. Sikap mulia ini diabadikan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur'an Surah Al-Hasyr ayat 9:
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِه فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ
“Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.”
Ayat tersebut menjadi teladan bagi umat Islam sepanjang masa. Persaudaraan yang terjalin antara kaum Muhajirin dan Ansar menunjukkan bahwa iman mampu mengatasi perbedaan latar belakang, suku, status sosial, maupun kepentingan pribadi. Ikatan keimanan menjadi dasar yang mempertemukan berbagai perbedaan dalam satu tujuan bersama.
Nilai-nilai persatuan seperti inilah yang relevan untuk dihidupkan kembali pada masa sekarang. Dalam kehidupan masyarakat modern, umat Islam dihadapkan pada beragam perbedaan pandangan, organisasi, budaya, dan kepentingan yang tidak jarang memunculkan gesekan di tengah kehidupan bermasyarakat. Perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan sering kali justru menjadi alasan untuk saling menyalahkan dan menjauh satu sama lain.
Padahal, jika menengok sejarah Islam, para pendahulu mampu bersatu meskipun berasal dari latar belakang yang beragam. Mereka bekerja sama dalam menyebarkan ajaran Islam, saling membantu dalam kebaikan, serta berjuang bersama demi tegaknya nilai-nilai kebenaran. Mereka menyadari bahwa persatuan umat jauh lebih penting daripada memperbesar perbedaan yang ada.
Oleh karena itu, bulan Muharram hendaknya tidak hanya diperingati sebagai awal tahun Hijriah. Muharram merupakan saat yang tepat untuk melakukan introspeksi diri atau muhasabah. Bulan ini menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menghadirkan kedamaian, membantu sesama, serta menjaga lisan dan sikap agar tidak melukai orang lain?
Muharram juga mengajarkan pentingnya memperbaiki hubungan dengan Allah Swt. dan hubungan dengan sesama manusia. Umat Islam diajak untuk membangun kembali semangat persaudaraan, saling menghargai, saling membantu, dan saling menolong dalam berbagai bentuk kebaikan. Perbedaan suku, budaya, bahasa, bahkan organisasi tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja sama demi kemaslahatan umat.
Memang benar bahwa setiap orang memiliki cara pandang dan pemikiran yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh merusak ikatan persaudaraan yang telah dipersatukan oleh iman. Umat Islam dipersatukan oleh kalimat tauhid dan ajaran Islam yang sama. Karena itu, setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga, saling mengingatkan, dan saling mendoakan dalam kebaikan.
Jangan sampai perbedaan membuat kita mudah bermusuhan, apalagi menebarkan kebencian kepada sesama muslim. Rasulullah saw. telah mengajarkan bahwa seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. Oleh sebab itu, bulan Muharram dapat dijadikan titik awal untuk memperbaiki diri, memperkuat persatuan, memperbanyak amal kebaikan, serta menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan bermasyarakat.
Tahun Baru Hijriah 1448 H semestinya menjadi momentum untuk memperbarui komitmen dalam memperbaiki diri, memperkuat persaudaraan, dan memperluas manfaat bagi sesama.
Dengan demikian, semangat hijrah tidak berhenti sebagai peristiwa sejarah, tetapi terus hidup dalam perilaku dan kehidupan umat Islam sehari-hari. Semoga Allah Swt. membimbing langkah kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat kepada-Nya, serta mampu menjaga persatuan dan kedamaian di tengah kehidupan umat.
Editor: M Tanwirul Huda
Komentar (0)
Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!