Oleh: Anas Febriyanto (Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman PC IMM Kota Surabaya)

Kisah Hanzhalah bin Abi Amir menjadi salah satu kisah yang menarik dalam sejarah perjuangan Islam. Ia bukan hanya dikenang karena gugur dalam Perang Uhud, tetapi juga karena keadaan yang menyertai wafatnya. Hanzhalah baru saja menikah. Pada malam sebelum Perang Uhud, ia menjalani kehidupan sebagai seorang suami bersama istrinya. Ketika seruan untuk menghadapi peperangan berkumandang, ia segera berangkat menuju medan Uhud. Karena waktu yang sangat terbatas, ia berangkat sebelum sempat mandi janabah.

Di medan Uhud, Hanzhalah kemudian gugur sebagai syahid. Dalam riwayat yang masyhur, Rasulullah Saw. mengabarkan bahwa para malaikat memandikannya. Karena peristiwa tersebut, Hanzhalah dikenal dengan sebutan Ghasilul Malaikah, atau orang yang dimandikan oleh para malaikat.

Kisah tersebut penting dipahami secara proporsional. Pelajaran dari Hanzhalah bukan terletak pada persoalan hubungan suami istri sebelum berangkat ke medan perang. Justru, kisah itu menunjukkan sisi manusiawi seorang sahabat yang memiliki keluarga, kehidupan pribadi, dan kebahagiaan rumah tangga. Pada saat yang sama, ia juga memiliki tanggung jawab yang lebih besar ketika panggilan perjuangan datang.

Di sinilah kisah Hanzhalah menjadi relevan untuk dibaca kembali dalam konteks kaderisasi. Hanzhalah adalah manusia yang memiliki kehidupan pribadi, tetapi ia tidak mengabaikan tanggung jawab sosialnya. Ia tidak kehilangan sisi kemanusiaannya hanya karena menjadi bagian dari perjuangan. Sebaliknya, ia mampu menempatkan tanggung jawab sesuai dengan keadaan yang dihadapinya.

Kader IMM hari ini tentu hidup dalam konteks yang berbeda. Kita tidak berada di medan Perang Uhud. Tidak ada tuntutan bagi kader untuk mengulangi bentuk perjuangan Hanzhalah. Medan perjuangan kader hari ini berada di kampus, ruang intelektual, masyarakat, dunia dakwah, pendidikan, gerakan kemanusiaan, hingga ruang-ruang kehidupan sosial yang lebih luas.

Karena itu, yang perlu diwarisi dari Hanzhalah bukan bentuk perjuangannya, melainkan etos perjuangannya: kesediaan untuk hadir ketika tanggung jawab memanggil.

Kader Bukan Sekadar Peserta Perkaderan

Dalam kehidupan organisasi mahasiswa, istilah kader sering kali dipahami secara administratif. Seseorang disebut kader karena telah mengikuti jenjang perkaderan, menjadi anggota, menduduki jabatan, atau aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Padahal, kaderisasi seharusnya memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Kaderisasi IMM semestinya tidak hanya menghasilkan individu yang memahami struktur organisasi, tetapi manusia yang memiliki kesadaran ideologis, kapasitas intelektual, kedalaman spiritual, dan orientasi pengabdian.

Kader bukan sekadar orang yang pernah mengikuti perkaderan. Kader adalah seseorang yang mampu menerjemahkan nilai menjadi tindakan.

Karena itu, kesediaan mengambil tanggung jawab dan berkorban menjadi salah satu ukuran kematangan kader. Seorang kader tidak seharusnya terus-menerus bertanya, “Apa yang saya dapatkan dari IMM?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang dapat saya berikan kepada IMM?”

Pertanyaan tersebut bukan berarti kader harus memberikan seluruh hidupnya kepada organisasi. Justru, pertanyaan itu mengajak kader memahami bahwa keberadaan organisasi tidak hanya diukur dari apa yang diterima anggotanya, tetapi juga dari kontribusi yang diberikan untuk menjaga keberlanjutan gerakan.

Organisasi tidak akan berkembang hanya dengan bertambahnya jumlah anggota. Organisasi membutuhkan kader yang bersedia mengambil tanggung jawab, mengubah gagasan menjadi kerja nyata, serta mampu membawa nilai-nilai yang diyakininya ke tengah kehidupan masyarakat.

Pertumbuhan organisasi tanpa pemberdayaan kader justru berisiko melahirkan regenerasi yang hanya bersifat administratif. Jumlah kader mungkin bertambah, tetapi kapasitas, kesadaran ideologis, dan kemampuan mengelola amanah belum tentu berkembang secara seimbang.

Militansi Tidak Berarti Kehilangan Kehidupan Pribadi

Salah satu pelajaran penting dari kisah Hanzhalah adalah bahwa kehidupan pribadi dan tanggung jawab sosial tidak harus dipertentangkan.

Kader yang matang bukanlah kader yang mengabaikan keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, pertemanan, atau kehidupan pribadinya demi organisasi. Kader yang matang adalah mereka yang mampu mengelola berbagai tanggung jawab tersebut secara proporsional.

Konteks ini penting karena kehidupan kader IMM hari ini jauh lebih kompleks. Seorang kader dapat memiliki tanggung jawab sebagai mahasiswa, anak, pasangan, pekerja, anggota masyarakat, sekaligus pengurus organisasi. Semua peran tersebut membutuhkan perhatian dan pengelolaan yang baik.

Militansi seharusnya tidak dimaknai sebagai keharusan untuk selalu hadir dalam setiap agenda organisasi tanpa mempertimbangkan tanggung jawab lainnya. Militansi justru dapat dimaknai sebagai kesungguhan dalam menunaikan amanah yang telah dipilih.

Seorang kader yang memiliki amanah akademik harus bersungguh-sungguh dalam belajar. Kader yang mendapat amanah organisasi harus bertanggung jawab terhadap tugasnya. Kader yang memiliki tanggung jawab keluarga harus hadir untuk keluarganya. Sementara ketika masyarakat membutuhkan ilmu dan tenaganya, ia juga harus mampu mengambil peran.

Dengan demikian, menjadi kader bukan berarti kehilangan kehidupan pribadi. Menjadi kader adalah proses belajar menempatkan setiap tanggung jawab secara tepat.

Dari Ideologi Menuju Pengabdian

Dalam QS. At-Taubah ayat 111, Allah menggambarkan kehidupan orang beriman sebagai bentuk pengabdian kepada-Nya. Ayat tersebut menunjukkan bahwa iman memiliki konsekuensi praktis. Keyakinan tidak berhenti pada ranah batin, tetapi harus melahirkan keberanian untuk berbuat dan memberikan manfaat.

Gagasan tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan kaderisasi IMM. Ideologi tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan yang dihafalkan dalam forum perkaderan. Nilai-nilai Islam dan tujuan gerakan harus diterjemahkan ke dalam tindakan.

Jika kader memahami keadilan, maka ia perlu memiliki keberanian untuk memperjuangkannya. Jika kader memahami pentingnya ilmu, maka ia harus membangun tradisi belajar dan riset. Jika kader berbicara tentang pengabdian, maka ia harus hadir dalam persoalan masyarakat. Jika kader memahami dakwah sebagai jalan perubahan, maka dakwah harus diwujudkan dalam tindakan yang memberikan manfaat.

Di sinilah kaderisasi menemukan maknanya. Kaderisasi bukan sekadar proses mencetak orang yang memahami organisasi, melainkan proses membentuk manusia yang mampu menghubungkan pengetahuan, keyakinan, dan tindakan.

Menjaga Keberlanjutan Gerakan

Dalam tradisi Muhammadiyah, kaderisasi merupakan instrumen strategis untuk menjaga kesinambungan gerakan. Amal Usaha Muhammadiyah, struktur organisasi, lembaga pendidikan, pelayanan sosial, dan berbagai institusi Muhammadiyah membutuhkan manusia yang mampu meneruskan nilai sekaligus mengembangkan perjuangan.

Karena itu, kaderisasi tidak cukup hanya menghasilkan penerus jabatan. Kaderisasi harus menghasilkan penerus gagasan dan nilai.

IMM sebagai salah satu ruang kaderisasi Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk membangun kader yang mampu menjaga keseimbangan antara intelektualitas dan militansi, spiritualitas dan praksis, idealisme dan kemampuan membaca realitas.

Kader yang kuat bukan hanya kader yang berani berbicara tentang perubahan, tetapi juga mampu bekerja ketika perubahan tersebut harus diwujudkan. Ia tidak hanya memiliki idealisme, tetapi juga kemampuan untuk menerjemahkan idealisme menjadi program, riset, advokasi, pendidikan, dan pengabdian.

Pada titik ini, kisah Hanzhalah kembali menemukan relevansinya. Ia mengajarkan bahwa tanggung jawab bukan sekadar sesuatu yang dibicarakan, tetapi sesuatu yang dijalankan ketika keadaan menuntutnya.

Apa yang Kita Warisi dari Hanzhalah?

Hanzhalah memiliki keluarga, tetapi ia juga memiliki amanah. Ia memiliki kehidupan pribadi, tetapi ia juga memiliki tanggung jawab sosial. Ia adalah manusia dengan kehidupan yang utuh, tetapi ketika panggilan tanggung jawab datang, ia mampu mengambil keputusan untuk hadir.

Kader IMM tidak perlu meniru keadaan yang dialami Hanzhalah. Yang perlu ditiru adalah kesungguhannya dalam menunaikan amanah.

Medan perjuangan telah berubah. Bentuk tantangan juga berbeda. Namun, persoalan mendasar tentang tanggung jawab tetap relevan.

Hari ini, perjuangan dapat berbentuk keberanian untuk belajar ketika banyak orang memilih berhenti berpikir. Perjuangan dapat berbentuk penelitian yang menghasilkan pengetahuan bagi masyarakat. Perjuangan dapat berupa keberanian menyuarakan ketidakadilan. Perjuangan dapat hadir melalui pendidikan, pelayanan sosial, dakwah, advokasi, atau kerja-kerja kemanusiaan yang mungkin tidak selalu terlihat.

Karena itu, ukuran kematangan kader bukan hanya seberapa lama ia berada di dalam organisasi atau seberapa banyak jabatan yang pernah diembannya. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana nilai yang diperolehnya mampu mengubah cara berpikir, cara bersikap, dan cara bekerja.

Pada akhirnya, kisah Hanzhalah bukan sekadar kisah tentang seorang sahabat yang gugur setelah menjalani kehidupan rumah tangganya. Kisah itu mengingatkan bahwa manusia memiliki kehidupan pribadi sekaligus tanggung jawab sosial. Keduanya tidak harus saling meniadakan.

Menjadi kader bukan berarti kehilangan kehidupan pribadi, melainkan belajar menempatkan setiap amanah secara tepat. Menjadi kader juga bukan sekadar memiliki identitas organisasi, tetapi memiliki kesediaan untuk hadir ketika ilmu, ideologi, organisasi, masyarakat, umat, dan bangsa membutuhkan kontribusi.

Maka, pertanyaan bagi kader IMM hari ini bukan apakah kita mampu mengulangi apa yang dilakukan Hanzhalah, tetapi:

Apakah ilmu yang kita miliki sudah menjadi pengabdian?

Apakah ideologi yang kita yakini sudah menjadi tindakan?

Dan ketika IMM, Muhammadiyah, umat, serta bangsa membutuhkan kita, apakah kita siap mengambil tanggung jawab?

Editor: M Tanwirul Huda